Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 24


__ADS_3

Senja bersiap dengan jaketnya. Sudah beberapa kali ketiga temannya itu menelpon untuk segera datang. Dia berhasil keluar dari rumah, namun tanpa dirinya ketahui Laura mengikuti dari belakang. Sesampainya di tempat balapan, Senja sudah disuguhkan sebuah mobil oleh Leo. Para teman cowoknya menyemangati gadis cantik yang pandai semua hal. Laura memerhatikan dari jarak yang sedikit jauh, wanita licik tersebut mengeluarkan ponselnya lalu merekam Senja. Dia berniat memberitahu sang suami agar anak tirinya itu tidak bergaul lagi dengan Bintang dkk.


Laura tersenyum licik, dan setelahnya dia pun pergi dari tempat balapan. Saat sudah berada dirumah, Pak Arya menunggunya dan meminta penjelasan dari sang istri perihal video yang Laura kirim padanya. Mendengar penjelasan istrinya Pak Arya langsung meminta di antarkan ke tempat Senja berada.


Di sana, semua orang tengah serius menonton. Namun tiba-tiba seorang pria tua berdiri ditengah, dia adalah Pak Arya. Bintang dkk menelan ludahnya terkejut, mereka berlari menghampiri Papa Senja.


“Om, ayo minggir. Nanti bisa ketabrak bahaya Om,” ujar Leo memegang bahu lelaki tua tersebut.


“Lepasin! Saya ingin menghentikan Senja. Kalian semua minggir sana!” jawabnya menepis tangan Leo dari bahunya. Sorot matanya terlihat marah mengetahui sang putri ikut balapan liar, padahal selama ini dia tidak pernah melarang kesukaan putrinya. Semenjak adanya Laura semua berubah.


Mobil para pembalap lain sudah mulai terlihat begitu juga dengan mobil Senja. Dari kejauhan gadis itu menyipitkan matanya memperhatikan pria tua yang berada didepan. “Papa!” serunya. Sontak saja Senja langsung membanting setir dan mengharuskan dirinya menabrak sebuah pohon.


Pak Arya juga Bintang dkk langsung berlari menyusul Senja. Mereka nampak khawatir kecuali Laura, wanita itu malah memberikan sebuah senyuman. Senja keluar, dia dibantu teman-temannya berdiri akan tetapi oleh Pak Arya langsung dilarang. Meminta Laura membantu dirinya mengangkat sang putri.


Beberapa saat kemudian, sekitar jam 12.15 Pak Arya sampai dirumah. Pertama kalinya lelaki tua itu marah kepada Senja. Sampai membuat anaknya sendiri mengerutkan kening dan menatap tajam pada wanita yang ada disampingnya.


Di situ Pak Arya memarahi anaknya habis-habisan, tidak membiarkan putrinya berbicara.


“Mulai sekarang, Papa nggak akan izinin kamu bergaul dengan para berandal itu! Hampir saja kamu celaka karena balapan yang tidak jelas! Apa uang yang Papa kasih kurang?”


“Papa kenapa sih! Bukannya dulu Papa nggak melarang apa yang Senja suka? Mereka bukan berandal, Bintang, Leo, Bima dan Daffa adalah teman baik Senja, mereka yang selalu ada di saat putri Papa ini kesepian, sedih.”

__ADS_1


“Jangan membantah! Mama Laura menginginkan yang terbaik buat kamu, jadi dengarkan Papa juga Mama kamu. Ingat! Mulai detik ini kamu tidak boleh bermain lagi bersama mereka, Papa akan menyewa seseorang untuk mengawasi kamu!”


“Papa jahat, Papa udah nggak sayang lagi sama Senja. Kalo begitu lebih baik Senja susulin Mama aja, daripada hidup,” ucapnya sembari menangis. Senja menatap wajah Papanya, merasa kecewa akan sikap Pak Arya yang berubah.


“Jangan bilang begitu sayang. Papa nggak mau kamu kenapa-kenapa,” ujarnya mencoba memegang sang putri namun Senja segera mundur menghindar.


“Mendingan Papa dengerin aja terus perkataan wanita licik itu, bukannya Papa lebih sayang dia daripada Senja. Aku mau tinggal sama Om Biru, di sini keberadaan aku udah nggak dibutuhkan lagi.”


Pak Arya melirik Laura sebentar. Lalu dia mendekat pada anaknya dan langsung memeluk serta meminta maaf. Senja menangis sesenggukan, sang Papa pun merasa kasian dan tidak tega. Dia menghela napasnya memperbolehkan kembali Senja untuk bergaul dengan Bintang dkk. Laura yang mendengar sontak melototkan matanya tak percaya, dia protes kepada sang suami.


“Ya udah, aku ke atas dulu mau istirahat,” ujar Senja sambil mengusap air matanya. Pak Arya menghadap ke arah istrinya sembari memegang bahu Laura. Senja yang akan pergi ke kamar terlebih dahulu meledek Laura dengan menjulurkan lidahnya dan membuat gerakan-gerakan mengejek. Gadis itu tersenyum miring lalu melambaikan tangannya pada sang Mama. Baru saja jalan satu langkah, Senja mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan sebuah poto Laura bersama selingkuhannya.


“Kamu cowok yang tabrakan sama saya itu kan? Ngapain ke sini?” tanya Laura, matanya terus saja mencuri pandang dari cowok tampan di depannya.


“Senjanya ada?”


“Oh Senja, ada kok. Tapi dia masih malas-malasan buat pergi kesekolah. Kamu ini temannya ya?”


“Saya pacarnya Tante. Oh iya, bisa panggilkan anaknya?”


Laura terdiam saat mendengar jawaban Pram bahwa dia adalah kekasih anak tirinya. Raut wajah Laura sedikit berubah, yang awalnya bahagia kini menjadi kusam. Senja sendiri terus memperhatikan perbincangan Pram dan Mama tirinya, dapat dilihat jika sepertinya Laura menyukai kekasihnya.

__ADS_1


Tak lama Senja keluar dengan seragam lengkap. Dia pergi begitu saja tanpa berpamitan kepada Laura, bahkan gadis itu pun tak menyapa Pram yang sejak tadi menunggunya. Mengetahui kekasihnya sudah pergi, dia izin pamit kepada Laura sambil memberikan senyuman manis.


30 menit kemudian mereka berdua sampai di sekolah. Untungnya para guru tengah mengadakan rapat jadi pelajaran belum dimulai. Melihat kedatangan Senja, keempat sahabat cowoknya langsung berkerumun dimeja si gadis. Mereka semua memberikan beberapa pertanyaan tentang kejadian semalam. Pram yang melihat hanya menyimak obrolan kelima orang itu dari tempat duduknya.


“Gila emang tuh mahmud!” ujar Bima.


“Heh! Pencinta Tante-Tante. Kemarin aja pas awal ketemu lu mau sama dia, sekarang malah menggerutu nggak jelas,” seru Daffa.


“Kalo cewek satu ini sih udah kelewatan. Seenaknya aja ngatur kehidupan orang lain, padahal dia sendiri pendatang baru di rumahnya Pak Arya.”


“Spek kayak Tante Nadia sama Tante Ara baru suka ya? Selain cantik mereka juga baik hati,” sambung Leo.


“Terus gimana Sen? Apa kita bikin rencana aja buat ngerjain tuh cewek?” ujar Bintang.


“Masalah dirumah biar gue yang urus, kalo misalkan dia pergi ke luar bareng cowoknya baru deh kalian yang handle. Nanti gue kasih info ke lu pada,” jawabnya.


“Kira-kira enaknya mak lampir itu di apain ya biar kapok dan nggak betah di rumah Pak Arya?” tanya Bima.


“Kita pikirkan nanti aja, sana kalian balik ke kursi masing-masing. Tuh Pak guru udah datang,” ucap Senja menunjukkan kedepan. Bintang dkk pun kembali ke tempatnya, lalu mereka semua memulai pelajaran sampai bel istirahat berbunyi.


“Apasih yang mereka obrolin? Apa aku nggak sepenting itu ya dimata Senja sampai dia nggak melirik atau menyapaku?” gumam Pram.

__ADS_1


__ADS_2