
Hubungan Senja dengan Bintang sudah berjalan cukup lama. Selama ini hanya sedikit gangguan dalam percintaan mereka berdua. Beberapa bulan pasangan tersebut terlihat adem ayem, tidak membesar-besarkan masalah hal itu yang membuat hubungannya damai. Namun, dimalam itu ketika Senja akan datang kerumah sang kekasih untuk mengantarkan makanan dia tak sengaja melihat Bintang tengah berpelukan dengan seseorang.
Yang dilihatnya adalah seorang perempuan, Senja mematung ditempat hanya melihat pemandangan menyakitkan tersebut dari jarak yang tak jauh. Beberapa saat kemudian dia memberanikan diri menghampiri sang kekasih, menyapanya sambil tersenyum terpaksa. Bintang melepaskan pelukan dari perempuan didepannya itu. Dia memperkenalkan sahabatnya kepada Senja begitu juga sebaliknya.
Setelah berkenalan Senja memberikan kantong plastik berisi makanan buatan dirinya. Gadis itu melihat jika perempuan bernama Diana tersebut menggenggam tangan kekasihnya. “Ehem!”
“Kamu kenapa? Mau minum? Bentar aku ambilin ya, kamu tunggu di sini sama Diana,” ucap Bintang. Senja kesal, dia menggerutu dalam hati berkata jika kekasihnya itu tidak peka.
...----------------...
Bintang dan Diana adalah sepasang sahabat, mereka selalu bersama sejak keduanya lahir. Perempuan itu selalu bersikap manja, apapun keinginannya harus dituruti. Dia memanfaatkan penyakitnya agar Bintang kembali dekat dengan dirinya. Mereka berdua berpisah saat akan masuk SMP, dan dari situlah Bintang bertemu Senja dan kawan-kawan. Mereka memilki hobi yang sama lalu memutuskan bersahabat sampai sekarang.
Dia tidak pernah menceritakan sosok Diana kepada yang lain. Dulu, Bintang jatuh cinta pada sahabatnya tersebut, apapun akan dilakukannya demi sang perempuan. Setelah sekian lama, kini Diana datang. Dia terkejut saat tahu Bu Ana tiada.
Bintang kembali dengan membawa segelas air. Lalu memberikannya kepada sang kekasih, Diana terbatuk membuat cowok di samping Senja itu mendekat. Meminta Bintang untuk membawakan minuman juga. Keberadaan Senja di sana seperti tak dianggap oleh kedua orang itu, Bintang terlalu sibuk kepada Diana sampai lupa jika ada kekasihnya juga didekatnya.
Sakit yang Senja rasakan, dia tak menyangka jika Bintang bisa bersikap demikian kepadanya. Entah mengapa hatinya terasa teriris saat melihat orang yang sangat dicintai lebih perhatian kepada perempuan lain. “Kalo gitu gue balik ya, udah ditunggu Theo di sana.”
Bintang hanya mengangguk sambil berkata iya tanpa melihat. Dia terlalu sibuk akan perempuan yang dibilangnya sahabat. Senja pun berlalu begitu saja, masuk kedalam mobil tanpa berkata apa-apa membuat Theo heran. Biasanya jika sudah bertemu Bintang wajah gadis tersebut akan terlihat ceria, senyum-senyum sendiri dan semacamnya.
“You okay? Woy! Bengong mulu daritadi, kenapa hah?” tanya Theo penasaran.
“Nggak papa, gue capek aja pen cepet sampe rumah.”
__ADS_1
Theo mengerutkan keningnya, dia tidak percaya akan ucapan Senja. Padahal tidak banyak acara yang mereka lakukan, kuliah pun hanya sebentar, terasa aneh jika Senja mengatakan bahwa dirinya kecapean. Selama ini sahabatnya tersebut selalu aktif melakukan berbagai hal, dan dia adalah orang paling bersemangat dari teman-teman cowoknya.
Tak berselang lama Theo telah sampai dirumah Senja. Dia menegur gadis di sampingnya tapi Senja masih terdiam dan bengong menatap kedepan dengan mata kosong. Theo mencubit lengan sang sahabat baru lah setelah itu dia sadar. Senja turun dari mobil, mengucapkan terimakasih dan berlalu pergi.
Di tempat lain, Bintang baru sadar akan kepergian Senja. Dia mengambil ponselnya menghubungi sang kekasih, sayangnya handphone Senja tidak aktif, gadis itu sengaja mematikan ponsel karena tidak mau diganggu.
Me:
Sen, kamu pulang nggak ngasih tahu. Makasih ya makanannya besok aku jemput. Kamu udah tidur kah? Ya udah sampai ketemu besok, good night!
Setelah mengirimkan pesan, Bintang bersiap dengan motor dan jaketnya. Dia akan mengantarkan Diana kembali ke apartemen tempat sahabatnya sekarang tinggal. Sedangkan Senja merasa bosan tidak bermain ponsel. Pikirannya kemana-mana membayangkan hubungan dia bersama Bintang. Terpaksa Senja pun membuka handphone, notifikasi dari sang kekasih langsung dibuka dan dibaca.
Senja tersenyum miris melihat pesan yang dikirim oleh Bintang. Bagaimana bisa cowok itu tidak tahu kepulangannya, padahal dia menganggukkan kepala sambil berkata iya.
Senja:
Me:
Kenapa? Aku nggak merasa direpotkan kok. Tunggu besok, okay!”
Senja menghela napasnya berat, dia tak membalas pesan sang kekasih. Melempar ponselnya ke pojok ranjang. Tak lama rasa kantuk datang dan membuat gadis itu tertidur lelap.
Esok paginya, Bintang datang kerumah menggunakan mobil. Laura membukakan gerbang lalu setelahnya memanggil sang putri. Ketika keluar, Senja sedikit terkejut akan kehadiran perempuan semalam. Tidak ada kata sapaan dari tiga orang itu, saat Senja akan naik kedalam mobil dan duduk didepan bersama Bintang, tiba-tiba saja Diana menerobos mendahului.
__ADS_1
“Nggak papa kan Diana didepan?” tanya Bintang
“Iya,” jawab Senja dengan senyum terpaksa.
Sesampainya di kampus, Senja langsung turun dan meninggalkan Bintang bersama Diana. Wajahnya sedikit terlihat kesal karena sekarang kekasihnya lebih memprioritaskan perempuan lain. Thalia yang baru sampai memarkirkan mobil disamping Bintang terheran-heran. Dia segera berlari mengejar juniornya, bertanya siapa perempuan yang bersama Bintang barusan.
“Gue nggak tahu kak, duluan ya," jawab Senja.
Thalia mengangkat kedua bahunya, tak lama Gibran dan Gio datang menghampiri. Gadis itu menceritakan apa yang baru saja dilihatnya membuat kedua cowok tersebut ikut penasaran.
Senja duduk seorang diri didalam kelas. Pandangannya melihat ke arah luar jendela. Daffa, Bima, Leo, dan tiga lainnya datang mengomel karena tidak ditunggu saat berangkat. Melihat Senja yang terus diam membuat keenamnya heran, lalu mereka menanyakan keberadaan Bintang.
“Lu ada apa hah? Diem mulu dari semalam, si Bintang mana? Tumben nggak berduaan,” tanya Theo.
“Gue nggak tahu, lapar, beliin makanan buat gue dong. Please...!”
“Lagi ada masalah sama Bintang? Cerita sini, kita bakal dengerin curhatan lu,” seru Daffa dengan wajah serius.
Senja tertawa kecil, dia mencoba menutupi rasa sakit hatinya dari teman-teman. Tak lama Bintang datang bersama Diana, mereka terlihat sangat dekat bahkan perempuan itu tak melepaskan genggaman tangannya. Senja bangkit dari duduk mengajak keenam temannya pergi ke kantin. Sebelum itu dia bertanya kepada Bintang apakah akan ikut atau tidak, dan kekasihnya tersebut menggeleng.
Diana minta ditemani, Bintang tak tega meninggalkan sahabatnya sendiri apalagi kata orang tua Diana gadis itu baru keluar dari rumah sakit. Mereka balik ke Indonesia karena Diana terus bertanya soal Bintang, ingin bertemu dengan cowok yang selalu ada untuknya.
“Ya udah,” ucap Senja.
__ADS_1
Theo menatap tajam Bintang, seolah ingin memukul lelaki di depannya itu. Bagaimana bisa dia mengabaikan kekasihnya demi perempuan lain. Daffa menepuk pundak Bintang dan berbisik pelan.
“Jaga hati buat Senja jangan buat dia sedih, bro!”