
Tak lama keduanya sampai dirumah. Setelah itu menyuruh Senja untuk berganti pakaian. Laura melihat isi kulkas, dia bersama sang putri akan memasak bersama. Beberapa menit kemudian Senja pun turun melihat si Mama yang sibuk memilih bahan.
“Cuman ada beberapa sayur sama ikan kaleng, kita masak ini aja ya?”
“Ya. Coba deh lu kalo pagi tuh stop-in tukang sayur yang suka lewat. Jangan didalam rumah mulu, bahan makanan aja sampe nggak ada. Sini kasih tuh sayur mau gue potong.”
Laura terkekeh menggaruk kepala yang tidak gatal. Melihat kebersamaan putri dan istrinya membuat Pak Arya tambah senang. Apalagi saat Senja memeluk sang Mama dari belakang padahal kedua wanita itu tengah berebut sesuatu. 1 jam berlalu, masakan sudah siap mereka hidang. Pak Arya yang duduk diminta mencicipi masakan keduanya. Malam pun tiba, kini waktunya Laura mengajarkan Senja memilih pakaian dan memakai make-up. Di awal-awal gadis itu merasa bingung begitu juga dengan sang Mama. Dimana dalam lemari putrinya kebanyakan baju dengan style cowok.
Laura menggeleng tidak percaya, dia pergi keluar kamar tak lama datang lagi dengan membawa baju miliknya. Senja mengangkat sebelah bibir saat melihat pakaian tersebut.
“Apa ini? Aduh mahmud, lu ngasih gue baju kayak gini? Lihat napa pinggirnya sobek terus pendek lagi.”
“Biar terlihat seksi. Ini tuh pasti cocok sama badan kamu, ayo coba, aku tunggu di sini, abis itu langsung ke make-up.”
“Nggak! Baju yang lain, kalo mau kayak gaun punya gue yang kemarin di pake buat acara Om Biru.”
“Ini tuh dress, udah jangan banyak protes. Sana ganti aku tunggu!”
Senja menghela napasnya dengan kasar, dia masuk ke kamar mandi berganti pakaian. Tidak sampai 5 menit dia kembali keluar sambil menarik baju lebih kebawah. Senja merasa tidak nyaman akan pakaian milik sang Mama tiri. Laura mengangguk-angguk kepala lalu menuntun anaknya duduk didepan cermin. Sebelum memulai merias dia terlebih dulu memberitahu nama-nama make-up satu persatu.
“Stop! Gue udah tahu, ini namanya pensil alis kan?”
“Tahunya cuman itu doang, sini mana wajah kamu.”
__ADS_1
Saat Laura akan memakaikan softlens anak gadisnya menolak. Belum apa-apa Senja sudah mengeluarkan air mata, namun dengan terus di paksa dia pun menurut walau sambil menangis.
“Perih tahu nggak sih lu! Jangan kan pakai ini yang dimasukin, pas lu pakaikan sipat dibawah mata tadi aja gue nangis, ribet banget jadi cewek feminim kayak orang lain.”
“Okay! Bagus kan hasilnya? Coba deh kamu berdiri terus jalan dari sana ke sini,” ucap Laura bangga akan hasilnya. Senja yang sudah dua kali memakai high heels pun tidak lagi merasa kesusahan. Dengan lancar berjalan dari ujung sampai ujung kembali. Dia bercermin melihat penampilannya yang berbeda dan memuji diri sendiri.
Suara ketukan membuat dirinya terkejut, Laura berjalan menuju pintu ternyata sang suami yang datang dan memberitahu jika teman-teman anaknya berada diruang tamu menunggu. Senja seketika panik, dia tidak ingin jika Bima dkk tahu bahwa dirinya belajar menjadi perempuan feminim, apabila hal tersebut diketahui oleh mereka sudah pasti akan diejek. Pak Arya yang baru sadar dengan penampilan putrinya terpukau, memuji Senja terus-menerus sampai membuat kedua pipinya memerah.
“Udah nggak usah ganti baju, sana turun,” ujar sang Papa.
“Tapi Pah, ini loh aku harus ganti dan hapus semuanya dulu. Nggak mau kalo mereka tahu aku bergaya kayak gini, bisa malu nanti.”
Belum melanjutkan ucapannya Laura sudah menarik. Dia turun kebawah dengan wajah menunduk.
Bima, Leo dan Seon masih belum sadar jika perempuan yang berdiri didepan mereka adalah sahabatnya. Ketiga orang tersebut mengira jika Senja ialah Laura, namun saat si gadis mengangkat kepalanya mereka langsung terkejut.
“Buset Tante Senja. Kesurupan apa lu sampe kayak gini hah?” seru Bima, dirinya bersama kedua orang lain menahan tawa.
Leo langsung mengeluarkan ponselnya, dia mendekat kepada Senja lalu berpoto berdua. Setelah itu dikirim ke grup WhatsApp geng motor. Seketika itu juga notif pesan ramai akan pujian dan emoji ketawa. Bintang yang duduk sendiri didalam kamar melihat pesan dari Leo, dia tersenyum. Tengah asik memandang poto Senja tiba-tiba handphonenya berdering. Bintang menghela napas, Cantika meminta dirinya untuk menjemput.
Kembali pada Bima dan Senja. Gadis itu melemparkan bantal pada ketiga orang tersebut. Memanyunkan bibir dan membelakangi.
“Serius deh Sen, lu kalo kayak gini aneh gitu. Tapi cantik apalagi sekarang pas lu ngambek, gemes!” ungkap Bima, tak henti cowok itu tersenyum. Ingin terbahak namun dia akui jika sahabatnya memang cantik.
__ADS_1
“Seminggu gaya lu kayak gini mau nggak?” seru Leo.
“Lu nantangin gue?” tanya Senja.
“Iya! Semisal lu bisa selama seminggu kayak begini gue bakal turutin semua permintaan yang lu mau.”
“Bener ya? Tapi menurut lu pada gue pantes dan cocok nggak sih berpenampilan begini? Rasanya rada aneh aja menurut gue, lebih enak pake celama sama kaos gitu.”
“Cocok banget, tapi apapun yang dipakai semuanya ngepas di lu. Btw ini awal ceritanya gimana kok lu bisa pakai baju kayak gini? Pasti ada sesuatu, iya nggak?” lanjut Seon.
Cantika menunggu kedatangan kekasihnya, dia mengomel karena Bintang yang lama menjemput. Ketika akan pergi berjalan kaki sebuah motor menghampiri, dengan wajah kesal dia pun langsung duduk tanpa berkata. Sepanjang perjalanan Bintang meminta maaf, jalanan yang macet membuat dirinya telat. Cantika tidak merespon dan sang kekasih meliriknya lewat kaca spion.
Sesampainya dirumah, nampak kedua orang tua Cantika sedang mengobrol. Mereka hanya tersenyum tanpa berbasa-basi menyuruh Bintang mampir ataupun masuk. Karena merasa tidak enak dia pun berpamitan pulang, setelah pergi meninggalkan halaman rumah Farid keluar menyambut si pacarnya yang baru pulang bermain.
“Kenapa sih nggak putus aja sama tuh cowok? Aku juga nggak kalah ganteng dari dia, lagian orang tua kita udah setuju mau menjodohkan kamu sama aku.”
“Nanti deh, aku masih butuh kepopuleran dia di sekolah. Oh iya kamu udah lama nunggu kah atau baru datang?”
“Hampir setengah jam sih di sini. Kayaknya bentar lagi juga mau pulang, Papa masih banyak kerjaan soalnya,” jawab Farid mencubit pipi Cantika.
“Aku juga udah ngantuk, nanti besok kita jalan deh. Tuh mereka udah manggil sana gih,” ucapnya sembari menunjuk ke arah orang tua Farid.
Sebelum pergi Farid mencium Cantika terlebih dahulu. Kedua orang tua mereka yang melihat hanya tersenyum, karena memang sebentar lagi keduanya akan bertunangan setelah kelulusan sekolah. Papa Farid merupakan orang terpandang, dia memiliki banyak perusahaan. Oleh sebab itu Papa Cantika mau menjodohkan putrinya.
__ADS_1