
Laura ragu untuk ikut bersama Senja, dia takut jika gadis itu mengerjainya seperti dulu. Pak Arya mengangguk setuju dan mau tak mau Laura pun menurut. Sepanjang perjalanan tidak ada suara satu pun yang berbicara, mereka berdua hanya diam. Sang Mama mengernyitkan dahi heran mengapa anak tirinya tersebut tidak usil kepadanya. Senja mengantarkan Laura dengan santai dan selamat sampai tujuan.
Dia mengucapkan terimakasih dan anaknya hanya tersenyum tipis dari balik helm, setelahnya pergi ke sekolah. Sesampainya di depan gerbang, Senja bersama Pram dihentikan oleh salah satu guru. Entah salah apa keduanya, sampai-sampai membuat mereka mendapatkan hukuman. Awalnya Senja berdebat sedikit karena dirinya tidak telat sama sekali namun mengapa dia dan Pram dihukum. Sang guru tidak menjelaskan alasannya malah langsung menyuruh kedua muridnya berdiri.
Ingin protes namun sang kekasih menggeleng, lalu mengangguk mengajak Senja berdiri di depan tiang bendera. Di sana gadis itu terus menggerutu serta bertanya-tanya siapa guru tadi, selama ini dirinya belum pernah melihatnya. Tidak lama guru yang sedang Senja bicarakan itu datang dan menyuruh Pram masuk ke kelas duluan.
“Loh Pak, kok Pram boleh masuk saya nggak sih?” ucapnya.
“Saya ingin bicara dengan kamu berdua. Silahkan kamu masuk,” jawabnya sembari mempersilakan kekasih Senja pergi. Entah apa yang akan guru itu bicarakan padanya, cuaca saat itu begitu panas beberapa kali juga Senja menghela napasnya karena lelah mendengarkan perkataan sang guru.
“Ish ini guru enak banget, dia duduk sedangkan gue berdiri. Mana kagak kelar-kelar lagi ngomongnya,” ucapnya dalam hati. Setengah jam kemudian sang guru pergi begitu saja membuat Senja melototkan matanya tak percaya.
“Itu guru apa sih nggak jelas banget! Sumpah pagi ini gue sial, katanya mau bicara berdua ternyata cuman curhat. Terus apa coba salah gue sampe dihukum kayak gini? Ughh..., sabar Sen sabar!”
Bintang, Bima, Daffa dan Leo tertawa. Mereka berempat terus memperhatikan sahabat yang tengah berdiri dibawah. Pram merasa heran dengan tingkah keempat cowok tersebut, bisa-bisanya mereka semua menertawakan Senja yang kesusahan. Saat asik memperhatikan sang sahabat, mata mereka seketika terbelalak melihat seorang cowok yang datang tiba-tiba menghampiri Senja sembari melindungi gadis itu dengan sebuah poto agar terhindar dari matahari.
Dibawah sana, Senja juga terkejut saat di sampingnya terdapat seorang cowok. Dirinya memperhatikan lebih jelas lagi ternyata cowok itu adalah yang mengajaknya berdansa pada malam pernikahan sang Om. Bintang, Pram dan yang lain ingin menyusul ke bawah namun Paris segera datang, menyuruh para muridnya untuk duduk ditempat masing-masing. Jadi kelimanya hanya dapat melihat Senja dari kelas saja, tidak bisa mendengar apa yang sahabatnya bicarakan.
“Lu siapa sih?” tanya Senja.
“Gue Seon, keponakannya Tante Silla. Lu masih ingat gue kan?”
“Oh...! Murid baru? Kenapa nggak langsung masuk aja, ngapain di sini?”
“Mau nemenin lu,” jawabnya tersenyum. Senja heran akan sikap cowok di sampingnya. Hampir mirip dengan Pram namun cowok ini begitu berani mendekati dirinya.
__ADS_1
Sudah beberapa kali di usir untuk masuk kelas namun Sea selalu menolak. Dia terus melindungi Senja dari sinar matahari tidak lupa juga memberikan air mineral yang dirinya bawa. Jam istirahat berbunyi, guru aneh itu kembali menghampiri Senja. Belum juga benar-benar dekat gadis itu sudah menghela napasnya kasar.
Tidak ingin berurusan dengan guru itu lagi maka Senja pun langsung berlari. Sean mengikutinya sampai ke kelas, di sana ketua osis berkata bahwa lelaki tua yang menghukum Senja bukanlah seorang guru melainkan tukang bersih-bersih. Pantas saja Bintang dkk tertawa melihatnya. Raut wajah Senja terlihat begitu lucu mengetahui faktanya, dia duduk dilantai. Dua jam lebih berdiri di depan tiang bendera gara-gara tukang bersih-bersih.
Lalu ketua osis kembali memberitahu jika bapak-bapak tersebut sedikit bermasalah dengan mentalnya. Maka dia meminta Senja untuk memaklumi apa yang terjadi kepadanya.
“Sedikit gila sih tapi udah lah,” ucapnya pasrah.
Bima tertawa terbahak-bahak, awalnya Bintang ingin memberitahu namun dilarang oleh kedua temannya. Tidak ingin membahasnya lagi Senja pun langsung masuk dan duduk di kursi. Membuka kotak makanan yang Laura berikan.
“Kira-kira nih makanan enak nggak ya? Soalnya tuh mahmud kan nggak bisa masak, jadi ragu gue buat makannya,” pikirnya.
Senja mengambil sedikit nasi serta lauk yang telah Laura siapkan, dia cicipi dan ternyata enak.
“Tumben banget lu bawa bekal ke sekolah.”
“What! Serius? Oh iya kayaknya tuh si Laura ada sedikit perubahan. Dia nggak cosplay jadi badut lagi,” seru Leo.
“Menurut lu semua tuh cewek hanya pura-pura tobat atau ada hal lain? Masih nggak percaya aja sih masa wanita ular kayak dia bisa berubah.”
“Dia juga manusia Bim, udah pasti bisa berubah. Buktinya sekarang kalo nggak salah dia belajar memasak demi bokapnya Senja, merawat dan melakukan tugas lainnya sebagai seorang istri juga ibu," sahut Daffa. Bintang dan Pram menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang Daffa katakan barusan. Akan ada waktunya manusia jahat berubah menjadi baik, dan yang baik bisa saja berubah jahat karena suatu hal. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada kehidupan orang lain.
“Eh btw lu siapa, dari kemarin deketin Senja,” tanya Bima kepada Seon yang berdiri menyimak obrolan.
“Hay! Gue Seon salam kenal.”
__ADS_1
“Iya bro, ingat ya nih cewek udah ada cowok. Kalo lu suka sama dia pendem aja, cukup cintai dalam diam dan jangan cosplay jadi orang ketiga,” ucap Daffa serius.
“Nah bener, gue tahu sih mencintai dalam diam itu sakit. Tapi gimana lagi orang udah ada hati yang harus dijaga. Temen kita juga harus melakukan itu,” sambung Bima, matanya sedikit melirik kepada Bintang.
Senja tak menghiraukan obrolan teman-temannya, dia sibuk melahap makanan yang ada di depan. Tidak lupa juga beberapa snacks dirinya makan, sedari tadi Pram memperhatikan kekasihnya yang begitu lahap. Entah sudah berapa lama Senja tidak makan sampai begitu.
Disela-sela makannya dia berbicara namun tidak di mengerti oleh yang lain. Sebab gadis itu bicara sambil mengunyah. Bima menjitak kepalanya menyuruh Senja berbicara dengan benar dan menelan makanannya terlebih dahulu.
“Liburan yuk ke villa, kamis sama jumat hari merah terus sabtu-minggu kita libur.”
“Tiba-tiba mau liburan, kenapa lu? Bosen diem dirumah atau apa?” ujar Leo.
“Bukan gitu, kita refreshing aja. Ajak anak-anak yang ada di basecamp, lebih banyak lebih rame.”
“Yakin? Ceweknya cuman lu doang njir, nggak takut emangnya?” tanya Bima.
“Lah kenapa harus takut, selama ini aman-aman aja tuh. Kan ada Pram, Bintang sama kalian yang jaga gue. Lagipula anak-anak yang lain mana berani ngelakuin hal aneh ke gue,” jawabnya sembari melanjutkan makan.
“Okey-okey kalo itu kita yang jaga, tapi bokap lu ngizinin nggak? Terus Om Biru, pasti nggak bakal bolehin lu pergi jauh.”
“Ah elah lu semua tenang aja kali. Om Biru udah sibuk sama rumah tangganya, dan untuk bokap santai itu biar gue yang urus.”
“Gimana kita ajak Om Biru, ibu aku sama Tante Nadia juga?” seru Pram.
“Nah boleh tuh gue setuju sama Pram,” sahut Bintang.
__ADS_1
“Gue boleh ikut?” tanya Seon.