Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 94


__ADS_3

Melihat kedatangan teman-temannya tak membuat Senja melepaskan pelukan tersebut. Gadis itu merasa hari ini adalah hari terburuknya. Pram menghela napas mengelus lembut punggung sang kakak, begitu juga Leo dan yang lain. Semuanya berpelukan lalu pergi ketempat Bintang.


Biru terus berbicara pada anak remaja tersebut walau omongannya tidak dihiraukan. Bintang merenung, wajahnya terlihat pucat dan tatapan yang kosong. Bu Ana dibawa pulang, dirumah duka para keluarga besar berdatangan. Mereka semua hanya berdiri menatap poto Mama Bintang, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan keberadaan sang cucu di sana tidak neneknya lirik sama sekali, Bintang seperti orang asing dalam keluarganya sendiri.


Warga yang melayat berbisik membicarakan keluarga tersebut, mereka menjelekkan nenek dan saudara lain. Salah satu sepupu Bintang mendekat, dia berkata jika keluarganya siap untuk menampung dan membiayai semua keperluan yang dibutuhkan. Dengan cepat Bintang menggelengkan kepala serta berterimakasih. Dia mengatakan jika dirinya bisa hidup seorang diri, bekerja paruh waktu untuk biaya pendidikan.


“Sesusah apapun hidup, gue nggak akan minta bantuan ke mereka. Lagian nenek sudah memutuskan hubungan dengan Mama,” ucapnya dalam hati. Setelahnya dia pergi meninggalkan sepupunya itu, Senja datang menghampiri dia langsung memeluk sang kekasih.


“Jangan sedih Bin, aku akan terus sama kamu. Derita kita sama ditinggalkan oleh orang yang disayang.”


Tak ada suara, Bintang menjawab ucapan kekasihnya dengan anggukan kepala. “Kamu perempuan kedua yang aku sayang setelah Mama Sen, aku nggak mau kehilangan satu perempuan lagi,” gumamnya. Mereka berdua sama-sama diperintahkan untuk terus bersama dan saling melindungi oleh orang tuanya masing-masing. Pak Arya mempercayai Bintang menjaga putrinya begitu juga dengan Bu Ana.


Karena acara kematian ada dua, maka orang-orang yang sebelumnya berada dirumah Senja dipindahkan kerumah Bintang untuk membantunya. Daffa melihat sahabatnya merenung sendiri, menahan tangisnya membuat dia teringat akan nenek dan orang tuanya yang telah lama pergi. Tak bisa dipungkiri bahwa dia juga merindukan keluarganya.


Daffa melangkahkan kakinya menghampiri Bintang, merangkul pundak sang sahabat dan menatap ke atas langit. “Kalo lu butuh sesuatu jangan ragu buat bilang Bin, lu itu udah gue anggap kayak saudara sendiri, di saat gue mengalami kesusahan dan merasakan sedih, lu, Senja dan yang lain selalu ada.”


“Thanks Daf, tapi gue bisa urus semuanya sendiri. Makasih sekali lagi karena udah peduli terhadap gue,” ucapnya sembari tertawa kecil.


Dikediaman Pak Arya, Senja tengah berduaan dengan Mamanya. Menangis dipelukan Laura, perasaannya sedang tidak baik. Dalam hati dia berkata mengapa Tuhan begitu jahat padanya mengambil sang Papa dan Bu Ana secara bersamaan. Senja sesenggukan, memejamkan mata membayangkan kejadian-kejadian menyenangkan saat dirinya bersama mereka yang telah tiada.

__ADS_1


Laura pun tak bisa menahan tangisnya. Dia benar-benar sedih melihat anak tirinya yang seperti itu. Sambil terus memeluk Senja dia melihat poto suaminya yang masih terpajang. “Aku janji sama kamu Mas akan merawat Senja seperti anak kandung sendiri. Kamu jangan khawatir karena banyak orang yang sayang pada dia.”


Leo, Bima, Seon dan Pram berkumpul bersama. Mereka berempat berbincang-bincang menghabiskan malam dirumah Bintang.


“Menjadi orang dewasa ternyata nggak gampang. Banyak cobaan dan kita harus menjalaninya dengan kuat serta ikhlas. Gue mungkin nggak akan bisa seperti Bintang, ditinggal pergi selamanya oleh orang yang disayang tapi dia berusaha terlihat tegar didepan kita, gue tahu kesedihan dimata dia yang nggak bisa disembunyikan, kalo misal nasib gue bertukar sama nasibnya bisa jadi gue bakal bunuh diri karena nggak kuat, betapa sabarnya dia saat kedatangan keluarga besar tadi yang sama sekali nggak mengucapkan sepatah katapun untuk menyemangati,” ujar Leo.


“Gue masih punya keluarga lengkap tapi itu nggak membuat gue bahagia. Gue merasa sendiri dan kesepian saat dirumah, semuanya sibuk nggak ada yang peduli gue hidup atau mati. Selama ini kita menyimpan kesedihan masing-masing tanpa mau memberitahu satu sama lain. Tapi kita harus kuat menghadapi dunia yang kejam ini,” lanjut Bima. Dia teringat pada kedua orangtuanya yang terlalu sibuk akan pekerjaan. Walau sekarang Mamanya sudah berhenti namun masih merasakan kesepian.


“Aku yang belum pernah melihat wajah Ayah secara langsung dan merasakan gendongan serta kasih sayangnya juga sedih apalagi saat tahu kalo aku adalah anak haram. Anak yang dilahirkan tanpa adanya ikatan pernikahan,” sambung Pram sambil menghela napasnya.


Seon hanya mengangguk-angguk menyimak obrolan teman-temannya. Selama ini hidupnya masih normal, sejak kecil sampai sekarang dia selalu mendapatkan kasih sayang dari semua keluarganya.


“Ada berita lagi nih, nyokapnya Bintang meninggal,” ujar Thalia. Gadis itu selalu mendapatkan info terbaru membuat Gibran dan Gio tak habis pikir.


“Bintang pacarnya Senja, yang cowok baru itu. Kenapa orang tuanya meninggal bersamaan, pasti keduanya benar-benar sedih,” seru Gio. Mereka bertiga terdiam, duduk di atas mobil masing-masing sambil menatap langit.


Dering telpon membuat lamunan ketiganya buyar. Gibran izin pamit setelah Ayahnya menelpon dan menyuruh pulang. Karena salah satu temannya balik maka Thalia dan Gio pun ikut pergi. Sesampainya dirumah, Gibran melihat keberadaan Melissa beserta kedua orangtuanya. Gadis itu tersenyum tapi sang mantan pacar bersikap cuek.


“Ada apa?”

__ADS_1


“Duduk dulu Gib, Ayah mau bicara. Ini soal pertunangan kamu dengan Melissa. Kita sudah sepakat akan melangsungkan tunangan itu dalam beberapa minggu lagi.”


Gibran langsung bangkit dari duduk saat mendengar perkataan Ayahnya barusan. Dia menatap Melissa lalu mengatakan jika dirinya tidak akan bertunangan dengan gadis tersebut. Sang Ayah ikut berdiri, menarik lengan putranya pergi. Diruangan lain dia menampar Gibran cukup keras membuat anaknya menelan ludah.


“Apa alasan kamu menolak Melissa? Apa karena anak haram itu? Mahasiswa baru bernama Senja?”


“Siapa yang bilang? Aku nggak suka sama dia, asal Ayah tahu alasan aku nolak Melissa karena dia bukan perempuan baik. Hubungan kita berakhir karena dia berselingkuh, orang yang sudah bermain dibelakang pasti suatu saat akan melakukannya lagi.”


“Melissa sudah minta maaf dan dia akan berubah.”


Gibran tersenyum miring mendengar ucapan sang Ayah. Dia sendiri yang tahu bagaiman sifat Melissa di kampus, bukan hanya masalah gadis itu yang berselingkuh namun hubungan mereka yang sudah tidak sehat lagi. Semua alasan ditolak, si Ayah tetap memaksa putranya bertunangan. Hal itu membuat Gibran kesal, dia mengancam Ayahnya pergi dari rumah.


“Ya! Sana pergi, jangan pulang. Apa kamu bisa hidup diluaran sana tanpa ada barang-barang berharga dan uang.”


Gibran tak berkata lagi, kakinya mulai melangkah menuju kamar. Dia mengemasi barang-barang kedalam tas, setelah selesai semua saat akan keluar sang Ayah menghentikan. Meminta kunci mobil serta kartu kredit, dengan suka rela Gibran memberikannya. Si istri yang melihat putranya akan pergi pun membujuk suaminya.


“Bagaimana ini Pak? Gibran nya kok malah pergi, jadi nggak nih pertunangan Melissa dengan anak Bapak?”


“Jadi Pak, jangan khawatir. Dia nggak akan sanggup hidup diluar sana. Itu hanya marah beberapa saat saja nanti juga pulang kerumah.”

__ADS_1


Melissa tadinya takut namun karena Ayah Gibran yang akan mengurus semuanya membuat dia sedikit tenang. Nasya menyunggingkan bibir, dia merasa lucu melihat kepergian teman kampusnya. Berita diusirnya Gibran akan dirinya sebar saat esok hari.


__ADS_2