
Daffa sendiri sangat kagum akan kerja keras Biru, dia sudah mulai usaha sejak masih sekolah. Banyak rintangan dan masalah dalam hidupnya, namun Biru terus berusaha dan kini menjadi orang yang sukses. Daffa berharap kehidupannya bisa sama seperti Om Senja.
“Sen, gimana kabar nyokap tiri lu?”
“Gue mau lanjut ngerjain tapi kasian, kayaknya sebentar lagi hidupnya bakal hancur.”
“Kenapa emangnya?” tanya Leo serius.
“Nanti juga lu semua tahu, dah lah masuk kelas aja. Oh iya, pulang sekolah main kerumah gue.”
“Gimana ya Sen, gue nggak bisa soalnya ada acara keluarga.”
Senja mengangguk, dia melirik pada ketiga teman lainnya. Bintang, Daffa dan Bima sama-sama menggeleng, mereka seperti Leo memiliki kesibukannya masing-masing. Berbeda dengan Pram, cowok itu dengan antusiasnya ingin bermain kerumah sang kekasih, berkenalan dengan Papa Senja. Sepulang sekolah Pram benar-benar main kerumah pacarnya, sang Papa yang memang tidak pergi bekerja pun menyambut putrinya dengan senyuman hangat. Sudah cukup lama Senja tidak melihat senyuman dari Papanya yang seperti itu. Lalu mata Pak Arya teralihkan ke arah Pram, dia bertanya siapa cowok yang tengah berdiri tersebut.
Senja memperkenalkan kekasihnya pada sang Papa, Pak Arya mengulas senyum, dia menepuk pundak sembari berbicara. “Tolong jaga anak Om, ya!” Pram terkekeh dan menganggukkan kepala. Ketiganya masuk kedalam, kepulangan Senja disambut oleh Laura. Sea yang baru saja pulang terdiam sesaat setelah melihat Pram, beberapa minggu lalu mereka tidak sengaja ketemu disaat Sea dan Daniel tengah berkencan.
“Dia siapanya kamu Sen?” tanya Pram menunjuk ke arah Sea. Senja mengerutkan keningnya, bukannya menjawab dia malah bertanya balik apakah Pram mengenali adik Laura tersebut. Pram menggeleng dan mengatakan jika mereka beberapa minggu lalu pernah bertemu. Saat dirinya bersama Shena ke toko.
Laura menarik lengan adiknya, dari tatapan Sea kepada Pram sangat berbeda. Sang kakak mengetahui jika sepertinya adiknya itu menyukai kekasih Senja. Benar saja setelah sampai dikamar Sea langsung bertanya siapa cowok didepan. Laura memperingati agar tidak jatuh cinta pada Pram, sebab cowok tersebut pacar dari anak Pak Arya. Sea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu merebahkan diri dan membuka ponsel setelah terdengar notifikasi.
__ADS_1
Di lain tempat, tanpa ada yang tahu. Biru diam-diam mengajak salah satu pekerjanya jalan. Yang tak lain ialah Silla, mereka makan bersama. Hari sudah mulai gelap, matahari akan terbenam, Biru berniat mengantarkan pulang namun Silla menolak. Wanita itu terus-menerus mengucapkan terimakasih karena telah diajak jalan-jalan.
Dalam perjalan pulang menuju kedai, Silla melirik sedikit pada lelaki disampingnya, nampak senyuman tipis namun manis dari wajah Biru.
Tidak ada obrolan didalam mobil, keduanya hanya diam dan saling curi pandang. “Mas, saya turun di sini aja. Nggak enak sama yang lain, apalagi saya pekerja baru tapi udah pergi sana sini sama bos.”
“Nggak papa, lagipula saya yang minta. Dan kayaknya nggak bakal ada yang marah atau protes, orang mereka semua setuju,” jawabnya. Kata-kata terakhir yang dirinya ucapkan dengan nada pelan namun Silla masih dapat mendengarnya.
Biru memarkirkan mobilnya didepan kedai, Ara yang kebetulan tengah mengantar Shena makan cake pun tersenyum melihat kakaknya bersama Silla. Ara sendiri tidak akan melarang kakaknya dekat dengan siapa pun. Menurutnya Silla adalah wanita yang dapat meluluhkan hati Biru, selain cantik dia juga sangat sopan dan ramah. Ara tidak peduli jika Silla berasal dari keluarga tak mampu.
Biru turun dari mobil dan langsung disambut oleh Shena. Gadis kecil itu memeluk sang Om dengan erat, sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. “Om, Tante itu siapa?” tanyanya dengan polos.
Bintang terdiam disaat keluarga lain membandingkan dirinya dengan keluarga lain, apalagi disaat Mamanya terkena marah sang nenek. Ingin rasanya dia membawa Bu Ana keluar dari rumah tersebut, namun sang Mama menahannya. Sebuah perkumpulan keluarga yang menurutnya tidak menyenangkan karena setiap mereka berdua hadir pasti akan selalu terkena omongan tak pantas. Bintang sudah sangat sabar menghadapi keluarga dari Papanya, dia bahkan tidak di sayang oleh neneknya sendiri.
“Mah, Bintang nunggu diluar aja.”
“Di sini aja sayang, nggak enak sama keluarga Papa kamu. Kita kumpulkan silaturahmi, jangan kayak gitu ya.”
“Silaturahmi apaan, orang daritadi Mama sama aku dicuekin. Kalo gini caranya ngapain mereka undang kita. Mendingan tadi Bintang main sama teman-teman.”
__ADS_1
Bu Ana mengelus kepala putranya dengan lembut dan tersenyum. Dia menasihati anaknya agar tidak berkata seperti itu lagi, mau bagaimana pun mereka semua adalah keluarganya. Dalam hati Bintang menjawab, jika memang mereka keluarga sudah pasti tidak akan dibedakan. Selama beberapa jam, keduanya hanya mendengarkan yang lain mengobrol.
“Ayo Mah kita pulang, percuma juga kita di sini tapi nggak dianggap!” ucapnya. Bintang sudah lelah dan merasa kasian kepada Mamanya yang hanya diam membeku tidak diajak bicara. Melihat cucunya yang seperti itu membuat sang nenek berdehem, dan seketika ruangan menjadi hening.
“Ana! Apa kamu tidak mengajarkan dia sopan santun? Kita tengah berbincang tapi anak kamu malah bersikap begitu.”
“Maafin Bintang ya Bu,” ucap Bu Ana menunduk. Semua kerabat menatapnya. “Bintang minta maaf sama nenek kamu,” sambungnya. Sang putra menghela napas, dia dengan nada pelan meminta maaf.
“Kok kayak nggak niat sih minta maafnya,” ujar kerabat lainnya.
Bu Ana menyenggol pelan lengan anaknya, Bintang melirik sambil menggeleng. Sang nenek kembali duduk disofa, dia melanjutkan ceritanya pada anak-anak, menantu serta cucu. Sampai 30 menit kemudian, kesabaran Bintang sudah mulai habis, sejak awal datang sampai malam tidak ada satu pun yang mengajak Mamanya berbincang, bahkan asisten rumah tangga tidak menyapanya.
Kali ini dia tidak peduli akan ucapan atau cibiran dari paman atau bibi dan neneknya lagi. Bu Ana ditariknya pergi keluar dari rumah tersebut, setelah berada di depan gerbang Bintang berkata jika ada lagi undangan keluarga maka dirinya tidak mau datang. “Maafin Mama ya, nenek dan kerabat kamu yang lain bersikap dingin kepada kita. Andai saja Papa kamu masih hidup, mungkin mereka semua akan melakukan kita layaknya keluarga.”
“Stop Mah! Keberadaan kita itu di sana emang nggak pernah dianggap, kalo ada acara keluarga lagi Bintang mohon tolak. Karena Bintang nggak mau Mama dicampakkan, sedangkan mereka semua berbahagia bersama.”
“Tapi mau bagaimana pun mereka keluarga kita, nenek kamu.”
“Apa ada keluarga yang seperti itu? Nenek juga udah nggak kayak dulu lagi, dia berubah. Bintang nggak suka, Mama kenapa sabar banget menghadapi sikap mereka? Bintang aja yang lihat udah kesal.”
__ADS_1
Bu Ana menghentikan ocehan putranya dan menyuruh menyalakan mobil. Sesampainya dirumah, sang Mama langsung masuk ke kamar, Bintang dapat melihat kesedihan diraut wajahnya. Dia merasa tidak tega, hatinya terasa sakit saat seorang ibu yang dirinya sayangi menangis.