
Di tempat lain, Biru yang sedang duduk santai di kedai tengah melihat-lihat poto waktu dirinya muda. Dia merasa rindu akan kebersamaan yang ada dipoto tersebut. Andi dan Echa membuat Biru benar-benar merindukan keduanya.
Biru, Andi, Arka, Ara, Echa and Nadia.
Lamunannya buyar setelah Nadia mengejutkan dirinya. Wanita itu ikut duduk disamping sang sahabat, tersenyum melihat ponsel Biru.
“Ciee yang kangen sama Echa. Bukannya dia udah pulang ya kata Ara?”
“Apasih Nad, istri orang itu.”
“Hahaha sensi amat Om,” ucap Nadia tertawa.
“Om am om am, nggak sensi Tante,” jawab Biru menjitak kepala Nadia. Wanita itu memanyunkan bibirnya lalu mengadu kepada Arka sang suami. Kembali kesekolah, Daffa memberikan ponselnya kepada Senja, gadis itu kaget saat tahu video yang direkam sahabatnya sudah mencapai satu juta penonton dan itu bel sampai satu jam.
Bel masuk telah berbunyi, para murid yang berkumpul didepan kelas Senja pun membubarkan dirinya masing-masing. Mereka kembali mengikuti pelajaran dengan tentram, Bima dkk terlihat sangat serius memperhatikan sang guru yang sedang menulis didepan. Sebab guru yang mengajar kali ini merupakan orang yang paling geng Senja takuti.
Beberapa jam berlalu, sekolah telah usai. Seperti biasa kelima sahabat itu pergi ketempat mereka selalu berkumpul. Laura yang menjemput Senja pun merasa kesal sebab gadis yang akan dirinya jemput malah pergi duluan menggunakan motor. Setelah berjalan sedikit jauh, Senja berhenti diikuti keempat temannya.
“Tuh orang ngapain sih datang mulu kesekolah,” ujarnya.
“Emangnya dia siapa? Pacarnya Om Biru kah?” tanya Bintang.
“Calon istri bokap kayaknya, ish! Gue nggak suka banget sama tuh cewek.”
“WHAT!!” ucap keempat temannya serempak. Mereka tidak percaya jika Pak Arya mempunyai calon istri yang begitu cantik dan seksi. Apalagi umurnya yang tidak terlalu jauh dengan mereka.
__ADS_1
“Mending tuh cewek sama gue aja daripada sama bokap lu, Sen,” ungkap Bima tersenyum nakal.
“Lu mau cewek modelan kayak gitu? Daf, Leo, Bin, kalian juga suka kah?” tanya Senja melihat satu persatu teman cowoknya.
Dengan kompak ketiganya menggelengkan kepala kecuali Bima. Dia memuji Laura yang begitu cantik, Senja menyunggingkan bibirnya tak percaya dengan satu temannya itu. Bima mengingatkan kepada ketuanya tersebut tentang balapan malam ini.
“Ya udah kalo gitu gue nggak ke basecamp dulu, mau siap-siap buat nanti malam,” ujar Senja menyalakan mesin motornya meninggalkan Bintang dkk.
Tak lama Senja sampai dirumah. Gadis itu benar-benar muak melihat wajah Laura yang selalu ada. Pak Arya yang tahu anaknya baru pulang pun langsung menyuruhnya untuk duduk bersama. Sepertinya lelaki tua itu akan membicarakan hal yang serius. Laura tersenyum ramah dan manis didepan Pak Arya kepada Senja. Dia juga mengelus rambut gadis remaja itu dengan lembut.
“Minggu depan Papa akan menikahi Tante Laura,” ucap Pak Arya. Hal itu membuat Senja terkejut, dia dengan cepat menggelengkan kepalanya tanda menolak jika sang Papa menikah lagi.
“Ayolah nak, ini semua demi kebaikan kamu. Papa tahu kamu butuh sosok ibu,” ujarnya lagi.
“Tapi Pah, dia umurnya aja nggak beda jauh sama Senja. Kalo misalkan Papa menikahi dia cuman buat gantiin tugas Papa jagain Senja, Om Biru sama Tante Ara juga bisa. Nggak harus orang lain Pah, pokoknya aku nggak setuju!”
“Senja! Senja yang akan merawat Papa.”
“Kamu saja selalu pergi malam, bermain dengan banyak cowok. Apa kamu bisa merawat Papa?”
Senja menghela napasnya. Dia menatap tajam Laura sedangkan perempuan licik itu tersenyum kecil. Lama keduanya berdebat, keputusan Pak Arya tetap bulat. Dia akan menikahi Laura, Senja hanya diam tak berbicara lagi.
“Ughh! Okay Pah, Senja izinin untuk Papa menikah lagi. Tapi Papa jangan paksa Senja buat manggil dia dengan sebutan Mama!” ucapnya menunjuk kearah Laura dengan tatapan tajam.
Seusai bicara seperti itu Senja pergi ke kamarnya. Dia memasang wajah juteknya lalu menggerutu setelah berada didalam. Sambil menunggu malam hari tiba, dia menghabiskan waktunya dengan melukis. Sudah ada banyak hasil karyanya yang dia pajang dikamar. Suara dering telpon tak terdengar olehnya karena keasikan melukis. Pukul 19.00, Pak Arya mengetuk pintu kamar putrinya dan menyuruhnya untuk turun kebawah makan malam bersama.
Beberapa kali pintu itu diketuk, tetap tidak ada jawaban dari sang putri. Dia menghela napasnya, berpikir jika Senja membutuhkan waktu sendiri dahulu.
__ADS_1
“Gimana mas? Apa Senjanya mau makan bersama?” tanya Laura.
“Tidak dijawab, mungkin dia sudah tidur. Nanti juga turun kalo lapar, lebih baik kita duluan saja.”
“Oke lah, sini mas aku ambilkan,” ucapnya.
Mereka berdua pun makan malam bersama tanpa adanya Senja. Sedangkan gadis itu tengah bersiap untuk pergi menyusul teman-temannya. Dia sudah berpakaian rapih, memakai jaket kulit cantik dan menggeraikan rambutnya. Senja mengintip sebentar memastikan jika Papanya sudah tidak ada diruang tengah, dan setelah dirasa aman maka gadis itu pun pergi ke garasi. Belum sempat menyalakan mesin, seorang lelaki sudah bersiap didepannya sembari memegang pinggang.
Dia adalah Biru. “Mau balapan kan? Nggak boleh!”
“Om, please....! Senja bosan dirumah terus, sekali aja ya soalnya udah ditunggu sama anak-anak lain. Nggak enak kalo misalkan Senja nggak datang,” ucapnya memohon. Biru menggeleng, namum melihat gadis kesayangannya sedih dia pun menghela napasnya dan mengizinkan pergi. Senja langsung memeluk sang Om dengan raut wajah bahagia.
“Tapi Om harus ikut!”
“Eum.., okay lah.”
Mereka berdua pun pergi ke basecamp. Di sana sudah banyak teman-teman yang menunggu kehadiran Senja. Bima, Bintang dan dua sahabat lainnya juga tengah melihat-lihat keadaan motor mereka. Memastikan tidak ada yang rusak saat balapan nanti.
Kedatangan Biru membuat mereka terdiam. “Pada kaku banget mukanya. Santai aja saya hanya mau melihat Senja balapan.”
“Wah kali pertama Om Biru lihat gadis kesayangannya balapan,” seru Bima.
“Iya,” jawab Biru singkat namun ramah.
Sekitar jam 22.00 Senja dan gengnya pergi berbondong-bondong menuju tempat balapan. Biru yang ikut merasa kembali ke masa dirinya masih remaja. Tak berapa lama kemudian, semuanya sampai. Aldo yang datang lebih awal melihat kehadiran Biru bersama geng Senja. Dia menelan ludahnya, tahu siapa lelaki yang berada disamping musuhnya itu.
“Bentar lagi dimulai Sen, lu hati-hati ya,” ujar Bintang memegang bahu sang sahabat.
__ADS_1
“Iya Bin gue bakal hati-hati kok. Santai aja,” jawabnya tersenyum. Jantung Bintang berdegup sangat kencang setelah Senja mengacak-acak rambutnya dengan lembut. Dia menelan ludah mencoba untuk tidak baper.