Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 15


__ADS_3

Semenjak adanya Laura dirumah, Senja kini lebih rajin bangun pagi. Dia tidak lagi menunda-nunda waktu, karena dirinya tak mau jika Mama tirinya itu berbuat aneh tanpa sepengetahuannya. Saat akan turun ke bawah untuk sarapan, dia melihat Laura yang tengah telponan dengan seseorang. Senja berjalan pelan mencoba lebih dekat lagi agar dapat menguping apa yang Mama tirinya bicarakan.


Tanpa diduga, gadis itu mendengar Laura berkata sayang dan berjanji akan ketemuan. “Wah nggak bener nih cewek, pasti lagi bicara sama pacarnya.”


Melihat Laura akan berbalik badan, maka Senja dengan cepat langsung menuju meja makan. Dia berpura-pura bermain handphone. Mama tiri itu lalu menutup telponnya dan menyapa Senja dengan ramah sebab sang suami tengah berjalan ke arah mereka. Setelah selesai sarapan Pak Arya dan Senja pamit, sedangkan Laura menuju kamarnya bersiap untuk bertemu dengan orang yang menolongnya waktu sakit perut.


Di perjalanan menuju sekolah, Senja tak sengaja melihat Daffa yang sedang berbicara dengan seseorang. Awalnya dia ingin menghampiri sahabatnya itu, namun tidak jadi karena Biru menelpon. Setelah selesai bicara lewat telpon dengan Omnya, dia kembali melihat tempat dimana sahabatnya berada. Akan tetapi Daffa sudah tidak ada lagi di sana.


Saat sudah sampai di sekolah. Senja melihat Resti CS sedang duduk manis dibawah pohon. Mereka tengah menikmati makanannya. Karena kejadian kemarin yang dirinya dijebak, dia mengambil air yang diminum oleh salah satu siswi lalu menumpahkannya ke wajah Resti. Keributan pun terjadi, tidak ada yang melerai, keempat cowok yang selalu ada disamping Senja belum datang ke sekolah.


Para murid lain hanya menonton, ada juga yang merekam. Intinya tidak ada satupun yang memisahkan pertengkaran antara Senja dan Resti. Sampai dimana Bintang dkk datang, mereka langsung membawa Senja pergi. Sebelum itu, gadis tersebut mengancam Resti agar tidak macam-macam padanya.


“Sialan! Jadi basah semua baju gue.”


Resti berdengus kesal, tangannya mengepal. Memandang kepergian Senja dengan para sahabatnya. Didalam kelas, Bintang bertanya apa masalah Senja dengan Resti. “Masih pagi udah bikin keributan, ada masalah apa lu sama dia?”


“Masih untung cuman gue siram, nggak gue jambak! Lu tahu kenapa gue bisa terjebak di gudang?”

__ADS_1


“Ulah mereka kah?” tanyanya. Senja mengangguk dengan raut wajah kesal. Bima mengelus rambut sang sahabat lembut, dia mencoba menenangkan. Leo yang berada disamping Senja berbisik, cowok itu meminta untuk tidak menceritakan kejadian semalam dimana dirinya yang menangis kepada ketiga temannya.


“Heh! Lu berdua ada rahasia apa hah?! Pake bisik-bisik segala,” ujar Bima.


”Nggak! Nggak ada apa-apa ya Sen,” sahut Leo.


Leo menatap Senja penuh harapan agar gadis itu tidak memberitahu yang lain. Mood yang tadinya jelek kini berubah, dia tertawa kecil melihat wajah Leo. Dikediaman Bu Miya, Pram sedang merasa senang karena keinginannya untuk mempunyai motor terwujud. Dia akan pergi sekolah menggunakan kendaraan barunya. Melihat sang putra begitu bahagia, Bu Miya memeluknya, tanpa sadar air mata mengalir membuat Pram heran.


“Kenapa nangis?”


“Nggak papa sayang, ya udah sana pergi sekolah. Nanti telat loh terus kena hukum,” jawab Bu Miya mengelap air matanya yang mengalir.


Senja yang melihat dari kelas pun sedikit memuji Pram yang terlihat keren dalam hatinya. Bintang sadar bahwa teman gadisnya tengah memperhatikan Pram dibawah. Dia tersenyum, berpikir jika Senja tertarik kepada si murid baru. Bel masuk berbunyi, mereka duduk rapi menunggu sang guru datang. Akan tetapi sudah setengah jam menunggu tidak ada satupun yang datang mengajar. Dirasa mendapat kelas kosong, mereka semua pergi keluar.


Senja yang teringat dengan Daffa saat pagi langsung bertanya. Dia juga baru sadar jika teman cowoknya menumpang bersama Bima. Daffa tidak menggunakan motornya, padahal saat pagi dia lihat sang sahabat membawa kendaraannya.


“Daf, tadi pagi gue lihat lu bicara sama seseorang. Btw ngapain lu?”

__ADS_1


Daffa menelan ludahnya, dirinya tidak menyangka bahwa Senja melihatnya. “Oh itu, dia mau sewa motor gue buat balapan katanya.”


“Nggak lu jual kan?” tanya Senja menyipitkan matanya.


“Mm-mana ada gue jual, nggak mungkin lah.”


“Bagus deh, itu motor hasil kerja keras lu dan kesayangan juga kan? Saran aja kalo misalkan lu lagi ada masalah jangan sungkan buat bilang ke gue. Bintang dan yang lain nggak tahu kok soal kehidupan lu yang asli.”


“Makasih Sen, lu benar-benar sahabat gue. Sejak masuk sekolah hanya lu yang peduli, setelah itu datang Bintang, Bima sama Leo. Tapi mereka bertiga nggak tahu tentang kehidupan asli gue.”


“Kita udah lama temenan. Kenapa nggak lu tunjuk-in aja tentang keluarga dan kehidupan lu yang sebenarnya. Jangan takut atau merasa mereka bakal ninggalin lu karena nggak punya apa-apa. Sahabat sejati nggak akan pandang kaya atau miskin,” ucapnya merangkul Daffa. Senyuman hangat Senja membuat dia nyaman. Hanya dirinya yang tahu betapa baiknya Senja, dulu di saat kedua orang tuanya meninggal gadis itulah yang menjadi penyemangat hidup.


Bintang, Leo dan Bima walau sudah berteman lama tapi mereka tidak tahu lebih dalam tentang kehidupan Daffa. Mereka selalu mengira jika sahabatnya itu hidup enak dan bahagia terus, padahal dari balik senyuman yang selalu terpancar ada kisah menyedihkan yang hampir membuat Daffa putus asa. Kehidupannya tak seindah teman-teman yang lain.


“Ingat kata gue! Kalo butuh apa-apa jangan sungkan buat bilang. Gue dan Om Biru pasti akan bantu, lu itu udah gue anggap kayak saudara sendiri.”


“Iya iya Sen, gue nggak tahu lagi harus balas kebaikan lu sama Om Biru gimana.”

__ADS_1


Perbincangan mereka terhenti karena datangnya Bintang dkk. Mereka duduk ditempat masing-masing, lalu saat asik menikmati minuman datanglah si gadis yang kemarin dibully. Dia memberikan kacamata milik Bintang sembari mengucapkan terimakasih. Setelah itu dia kembali ke kelasnya, tanpa mereka tahu gadis itu bukanlah gadis lemah seperti perkiraannya.


Di tempat lain, Bu Miya menelpon Ara. Dia mengajaknya untuk ketemuan karena rindu. Jelas saja diterima dengan senang hati ajakan itu oleh Ara. Mereka berdua berada di sebuah restoran dan mulai menceritakan tentang kehidupannya masing-masing, walau umur keduanya terbilang jauh. Ara terlihat seperti anak yang bercerita kepada ibunya.


__ADS_2