Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 96


__ADS_3

Gibran mengambil ponsel milik Nasya, cowok itu langsung membuangnya ke lantai. Dia memasang wajah datar dan dinginnya, menatap tajam gadis yang ada di depan. Tanpa berbicara panjang dia memperingati kembaran Melissa tersebut untuk tidak bermain-main dengan dirinya. Ketika Nasya akan mengambil handphone yang ada dilantai, Gibran sengaja menjatuhkan barang pipih itu.


Nasya berdengus kesal, setelah mendapatkan ponsel dia malah membantingnya lagi. Menatap seluruh mahasiswa yang ada dikelas dengan tatapan marah, dia tak terima jika Gibran mempermalukan dirinya di depan orang-orang. Melissa yang baru datang ke kelas bersama antek-anteknya keheranan melihat sang adik. Nasya menepis tangan kakaknya, pergi meninggalkan kelas dan tidak mengikuti pelajaran.


Kini di tempat berkumpulnya mahasiswa VIP, Thalia dan Gio mempertanyakan soal kepergian Gibran dari rumah. Masih terlihat raut wajah sahabatnya yang kesal serta marah. “Jawab nanti aja, kalo gitu gue sama Gio pergi dulu. Lu tenangin diri di sini,” ucap Thalia. Dia menggandeng tangan Gio pergi meninggalkan ruangan.


Gibran merebahkan diri di sofa, telpon dari Mamanya pun tidak dia angkat. Tak lama pintu ruangan terbuka, terlihat sosok pria dewasa yang dirinya kenal yang tak lain sang Ayah. Tanpa berbicara apapun Ayahnya itu langsung menampar membuat Gibran terdiam sejenak.


“Kalo kamu terus menolak pertunangan itu biaya kuliah tanggung sendiri. Ayah beri kamu satu kesempatan untuk memikirkannya lagi,” ujarnya dan berlalu pergi tanpa mendengar jawaban dari sang putra. Gibran segera mengejar Ayahnya, dia berdiri di depan pria dewasa tersebut.


“Sampai kapan pun aku nggak mau bertunangan dengan Melissa!”


Thalia dan Gio dari kejauhan mendengar perdebatan anak-ayah itu. Mereka kini tahu mengapa sahabatnya tersebut pergi dari rumah, itu semua karena Gibran tak mau dijodohkan dengan sang mantan kekasih. Setelah kepergian Ayah Gibran, mereka berdua berjalan menghampiri. Thalia bertanya dimana sekarang sahabatnya tinggal dan apa yang akan dia lakukan.


Lagi dan lagi Gibran tak menjawab membuat gadis itu kesal. “Yeah! Gibran, kalo lu nggak berhenti nih sepatu melayang.”


“Sabar Tha sabar, mungkin tuh anak butuh waktu sendiri dulu. Balik kelas yuk, bolos terus nggak baik buat masa depan.”

__ADS_1


Thalia menatap Gio dengan seksama. Dia menempelkan lengannya dikening sang sahabat. “Lu sehat kan? Tumben amat biasanya bolos nomor satu dipikiran lu.”


“Gue bolos salah nggak juga salah, dasar cewek!”


Awan langit berubah mendung, tak lama rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Senja tersenyum ke arah jendela menatap lapangan. Senyum manisnya pudar ketika melihat si kakak senior tengah berbaring dibawah rintiknya hujan. Bintang berdehem namun tak membuat gadis disampingnya menoleh.


“Liatin aja terus, awas lama-lama suka lagi,” sindirnya dengan wajah masih pokus ke depan. Senja tersadar, dia cengengesan lalu menggenggam lengan sang kekasih. Wajah Bintang terlihat cemburu, ketika digenggam pun cowok itu tak memberikan reaksi apapun. Namun, saat Senja berbisik sesuatu barulah dia tersenyum.


Kelas selesai, mereka berdelapan pergi ke ruang seni. Di sana Senja mengajak teman-temannya untuk menunjukkan karya masing-masing. Sudah cukup lama semua tak melakukan apa yang mereka suka. Senja sendiri sangat rindu dengan kuas dan cait airnya. Gadis itu kerepotan akan rambutnya yang terurai, ingin mengikatnya namun tangan dia sudah penuh akan warna.


Tanpa diduga Bintang langsung mengikat rambut Senja dengan penuh perhatian. Momen romantis itu di abadikan oleh Daffa dan di post ke media sosial. Adik kelas mereka di SMA yang melihat postingan terbaru dari idolanya langsung membagikan ke grup. Banyak doa terbaik untuk Senja dkk dari murid-murid tersebut. Paris yang melihat pun ikut tersenyum dan senang.


Suara gitar dan nyanyian dari Bima, Leo CS menambah suasana keromantisan Bintang dan Senja. Selesai mengerjakan karya seninya mereka semua malah bermain cat membuat ruangan sedikit berantakan. Karena sudah tak ada lagi kelas Seon pun mengajak teman-temannya pulang. Namun hujan masih belum reda membuat mereka menunggu sebentar. Senja melihat Thalia dan Gio yang menjahili Gibran, dia tertarik untuk bermain hujan dengan kakak seniornya itu.


Sayangnya saat akan melangkahkan kaki menuju lapangan, Bintang menahannya. Senja memasang wajah memohon pada sang kekasih, imut yang Bintang lihat. “Boleh ya? Ayo Bin, kita main juga.”


Banyak perubahan dari Senja saat berpacaran dengan Bintang. Gadis itu selalu saja bersikap manis dan lucu, tak ada lagi wajah-wajah galak dan omongan kasar. Hal tersebut sedikit menguntungkan Bima, Leo dan teman lainnya. Namun, mereka juga kadang merasa geli dengan tingkahnya.

__ADS_1


Bintang mengangguk setuju, dia menarik Senja menuju lapangan. Gibran yang melihat langsung bangkit dari rebahan. Pada akhirnya sebelas remaja itu bermain bersama dengan tawa bahagia. Dari atas sana Ayah Gibran memperhatikan, dia berbicara pada orang di sampingnya, meminta berkas identitas dari kedelapan mahasiswa tersebut.


“Mereka lulusan terbaik dari salah satu sekolah ternama?” tanyanya pada diri sendiri.


Ayah Gibran tertegun saat melihat nilai-nilai sempurna dari Senja dkk. Dia mengira jika para remaja itu merupakan anak berandal yang masuk universitas dengan menyuap. Matanya teralih ke nama yang tertera di formulir. “Pak Arya?”


Seketika dia teringat akan bantuan dari orang yang bernama sama dalam berkas tersebut. “Ternyata ini putrinya yang selalu diceritakan. Cukup lama tidak ada kabar dan sekarang aku bertemu dengan anaknya.”


Ayah Gibran tersenyum, ternyata dahulu dirinya bersama Pak Arya merupakan rekan bisnis. Dia selalu mendapatkan bantuan ketika mengalami kesusahan dalam perusahaannya. Hanya Pak Arya yang bersedia membantu dan saat itu juga mereka berdua menjadi dekat. Hujan reda, Senja dkk berpamitan pada seniornya. Sebelum benar-benar pergi Bintang kembali menawarkan tumpangan pada Gibran.


“Ya udah Tha, Gio, gue cabut ya ikut mereka," ujarnya.


“Hati-hati Gib, Sen, Bin.”


Malam harinya, setelah azan isya rumah Bintang dan Senja kembali ramai dengan datangnya para warga untuk mendoakan orang tua mereka. Di tempat lain, Sea memaksa masuk kedalam rumah Daniel. Namun selalu dicegah oleh satpam di sana. Keributan diluar pun menarik perhatian orang didalam. Saat itu keluarga calon istri Daniel datang, mereka membicarakan acara pernikahan yang beberapa hari lagi terlaksana.


Ketika melihat Sea, Daniel menelan ludahnya. Dia menyuruh si satpam mengusir wanita itu dan juga menuduh sang mantan sebagai orang gila. Penampilan yang lusuh serta wajah yang kusam membuat orang-orang di sana percaya akan perkataan Daniel. Sea menggelengkan kepala, berteriak-teriak membuat orang yakin jika dirinya tidak waras.

__ADS_1


“Ya udah Om, Tan, kita masuk lagi aja. Biar satpam yang urus wanita gila itu,” ucapnya. Daniel menoleh kebelakang sambil tersenyum miring kepada Sea.


__ADS_2