Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 107


__ADS_3

Bintang panik melihat Diana yang tergeletak dilantai. Saat akan dibawa kerumah sakit gadis di pangkuannya membuka mata, meminta diantarkan ke apartemen. Bintang menurut, dia segera mengangkat tubuh sahabatnya tersebut. Setelah kepergian bossnya, Thalia dan Gio melanjutkan obrolannya. “Ikut casting bagus tuh,” sindirnya.


...----------------...


Malam semakin larut, sudah belasan sampai puluhan kali Laura mencoba menghubungi anaknya. Namun, tetap tidak aktif membuatnya menjadi khawatir. Daffa, Theo dan lainnya juga masih terus berjalan mencari keberadaan sang sahabat. Semuanya cemas takut terjadi sesuatu pada gadis itu.


Di pinggir jalan yang sepi nampak Senja tengah duduk seorang diri. Tak ada satupun orang atau kendaraan yang lalu lalang di sana, dia termenung memikirkan sang kekasih. Mengingat kembali perkataannya yang meminta menyudahi hubungan mereka.


“Harusnya gue nggak ngomong gitu ke Bintang.”


“Kenapa gue jadi lemah cuman gara-gara cinta. Dimana Senja yang dulu? Lu nggak seharusnya begini Sen, nggak boleh egois,” lanjutnya sambil berteriak.


Senja terlonjak saat mendapati semua teman-temannya dibelakang. Dia langsung menundukkan kepala, Pram mendekat lalu mengangkat wajah Senja. Adik tirinya tersebut menyemangati, meminta sang kakak berhenti menangis. Suara dering telpon menghentikan dramatis mereka, Senja mengambil handphonenya dan mulai mengangkat. Dan tak lama benda pipih yang dipegangnya terjatuh. Tubuh Senja seketika lemas, air mata mengalir membuat teman-temannya heran dan bingung.


“B—bintang.... Bintang dia kecelakaan,” serunya dengan mata kosong dan terbata-bata.


Semuanya terkejut tak percaya dengan yang Senja katakan. Di sisi lain Diana pingsan melihat sahabat kecilnya yang sudah tergeletak tak berdaya dengan berlumuran darah. Gadis itu tak sanggup berdiri melihat pemandangan tersebut. Saat itu, Diana meminta Bintang berhenti, dia merasa haus dan pusing. Tahu sang sahabat tengah proses penyembuhan kekasih Senja itu pun turun dari motor dan menyebrang untuk membelikan minuman serta obat.


Tak disangka, sebuah mobil melaju dengan cepat ketika Bintang akan kembali pada Diana. Tubuhnya terpental cukup jauh, kepala dia terbentur. Diana yang melihat itu seketika terduduk lemas sambil menutupi mulutnya. Bukannya segera menolong dia malah diam ditempat memperhatikan orang-orang menggotong Bintang. Sesampainya dirumah sakit, tidak ada satu orang pun yang menemani Bintang. Lalu suster menemukan ponsel milik korban yang terjatuh saat akan dibawa ke dalam ruangan dan menghubungi nomor paling atas yaitu Senja.

__ADS_1


“Gue harus susul Bintang, nggak seharusnya gue balik ke apartemen ninggalin dia yang terluka,” gumam Diana dengan raut wajah cemas.


Beberapa jam berlalu, semua orang yang ada di sana sama sekali belum memejamkan matanya. Apalagi Senja, gadis itu terus menangis dalam pelukan Pram. Diana yang baru datang langsung ditatap tak suka oleh para cowok di sana. Dokter keluar dia telah menyelesaikan operasi di kepala Bintang.


Esok paginya Senja dijemput oleh Laura. Wanita itu diberitahu Daffa jika mereka sedang berada dirumah sakit menemani Bintang yang kecelakaan. Senja menolak ajakan pulang Mamanya. Dia ingin berada disamping sang kekasih, meminta maaf atas perkataannya yang semalam.


“Ada gue di sini yang jaga Bintang. Mending lu pulang, lagian nggak penting juga keberadaan lu di sini, ngerepotin yang ada,” ucap Diana sinis.


“Senja pacarnya, jelas dia khawatir dan mau nemani Bintang,” sahut Daffa.


“Gue sahabat kecilnya, orang paling dekat dan paling disayang. Daripada bikin keributan di sini mendingan kalian semua pulang, gue bisa jaga dia sendirian.”


Saat Bintang tidak sadarkan diri dan masih terbaring lemah dirumah sakit. Diana melarang Senja dan teman-temannya datang menjenguk. Dia tidak memperbolehkan mereka semua masuk ataupun melihat keadaan sang pasien. Hal itu jelas membuat Senja kesal, sebab dia merasa khawatir dan ingin tahu tentang keadaan kekasihnya. Seminggu kemudian, kebetulan Diana tidak ada dirumah sakit. Itu menjadi kesempatan Senja untuk masuk melihat.


Baru saja membuka pintu dia sudah menitikkan air mata. Sang kekasih masih belum sadarkan diri, Senja benar-benar merasa sedih dan ingin meminta maaf. Gadis itu begitu perhatian, membersihkan badan Bintang dengan cara mengelap, menemani siang malam sampai lupa akan kesehatannya sendiri. Dia tidak mau pergi dari ruangan tersebut, Senja memanfaatkan kepergian Diana, karena jika gadis itu sudah kembali maka tidak akan bisa lagi untuknya bersama Bintang.


Teman-temannya juga selalu mengingatkan Senja menjaga kesehatan. Mereka tidak mau satu sahabatnya lagi jatuh sakit, setiap pagi Daffa atau yang lainnya selalu membawakan makanan saling berganti. Seminggu, dua minggu sampai empat bulan berlalu Bintang masih belum juga sadar. Kesetiaan Senja menjaga kekasihnya berhenti di empat bulan terakhir, Diana telah kembali dan mulai mengusir anak-anak geng motor tersebut datang.


Thalia dan Gio setia menjaga cafe milik bosnya. Mereka berdua dibantu oleh Bima, Seon juga Leo. Setiap harinya Senja dkk menempelkan kertas berisikan kata-kata untuk Bintang di dinding cafe, tak hanya mereka tetapi para pelanggan juga meminta si boss muda tampan itu segera kembali.

__ADS_1


“Banyak yang sayang sama lu Bin, cepet sadar kasian Senja di sini. Dia benar-benar khawatir sama keadaan lu, dia nggak bisa datang menjenguk kerumah sakit karena dilarang Diana,” tulis Daffa.


“Woy! Bintang sialan, cepet sadar gue kangen sama lu...” lanjut Bima.


“Bin, aku nunggu kamu di sini. Aku minta maaf...., aku nggak mau kehilangan kamu, cukup tiga lelaki yang aku sayang pergi jauh, hanya kamu dan Om Biru yang tersisa. Aku mohon cepat sadar dan kembali ke sini, berkumpul bersama dan bercanda dengan teman-teman,” tulis Senja lalu menempelkannya ke dinding.


“Cepet sadar lu, gue nggak mau lihat Senja terus-terusan sedih," sambung Theo.


Semua isi hati mereka ditulis dalam kertas kosong itu dan ditempelkan di dinding bercat putih tersebut. Ide itu berasal dari Thalia, agar Bintang sadar nanti bisa membaca dan mengetahui betapa sayangnya dan khawatirnya para sahabat dia. Berbulan-bulan menunggu kesembuhan dirinya. Di minggu terakhir bulan kelima Bintang koma, akhirnya cowok itu siuman. Dia mendapati Diana yang duduk disampingnya.


Melihat ke sekeliling mencari keberadaan Senja serta teman-teman yang lain. Diana memberitahu jika dirinya telah menunggu Bintang selama lima bulan, selalu setia menemani. Mendengar penuturan dari Diana yang seperti itu membuat hati Bintang sakit karena kekasihnya dan para sahabatnya tidak ada yang menjenguk ataupun menunggu.


“Kamu boleh pulang semingguan lagi, semua urusan administrasi dan lainnya udah Mama dan Papa tangani.”


“Makasih, maaf ngerepotin. Ngomong-ngomong Senja, Daffa sama yang lain nggak datang ke sini?”


“Dari awal kamu masuk rumah sakit mereka semua nggak ada yang datang menjenguk padahal aku udah kasih tahu.”


“Apa mereka masih marah sama gue?” tanya Bintang.

__ADS_1


“Bisa jadi tapi ya udahlah yang terpenting sekarang kamu sehat dulu. Nggak usah mikirin mereka yang nggak peduli sama kamu,” jawab Diana.


__ADS_2