
Semua guru dan siswa lain dikumpulkan ditempat yang sama. Sambil memegang pipinya Lea berjalan mengikuti perintah dari beberapa orang dengan badan kekar. Dia merasa tidak tega saat melihat Aldo yang dihajar habis-habisan oleh mereka.
Pukul 08.30 ketika seluruh siswa tengah belajar dan guru-guru mengajar. Segerombolan orang datang ke sekolah menaiki dua buah mobil. Mereka semua memaksa ingin masuk pada satpam yang sedang berjaga. Awalnya tidak di izinkan namun karena kalah jumlah dan dia dihajar maka mau tak mau gerbang pun dibuka.
Para lelaki itu turun satu persatu, memandangi bangunan tinggi di depannya. Sebelum pergi masuk mereka mengambil sesuatu terlebih dahulu dari mobil. Salah satu siswa yang melihat kedatangan orang aneh pun langsung mengadu kepada guru. Para siswi terlihat panik ketika melihat barang yang orang-orang tersebut bawa.
“Kalian kumpulkan kursi-kursi ini dan simpan di depan pintu,” titah sang guru. Segera lah mereka menuruti perintahnya, di saat itu juga Lea merogoh sakunya mengambil ponsel dan menelpon Leo.
Wajah-wajah ketakutan terlihat pada seluruh murid begitu pun dengan para guru. Semuanya hanya bisa pasrah dan menurut apa yang orang-orang aneh itu perintahkan. Lea yang sudah berkumpul dengan siswa lain memejamkan mata berdoa agar kakaknya segera datang menyelamatkan. Ingin melawan tapi dia hanya seorang diri, Aldo yang selalu berkelahi dan jago bela diri pun harus kalah dihajar oleh mereka.
Kembali pada Senja dkk, ketujuh anak remaja itu sedang memikirkan cara untuk masuk ke sekolah Lea. Tidak ada satu orang pun di luaran sana yang tahu akan keadaan murid-murid serta guru di sekolah. Daffa bersama dengan Seon berjalan mendekat ke gerbang, keduanya berusaha sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara.
“Kayaknya didalam sana ada banyak orang yang jaga Daf,” ucap Seon.
“Kita tunggu di sini dulu, biar si Bima sama Leo yang mengalihkan dua orang itu.”
Seon mengangguk, dia dan Daffa bersembunyi di salah satu pohon besar. Bima datang dengan tingkah menyebalkan nya bersama Leo, mereka berhasil membawa dua orang penjaga pergi keluar. Di sisi lain, Senja, Bintang serta Pram mencari jalan samping. Ketiganya memanjat dinding yang cukup tinggi hanya untuk dapat masuk kedalam.
__ADS_1
Daffa dengan Seon pun membuka gerbang, dilihatnya ada dua mobil hitam terparkir. Pelan-pelan mereka berjalan dan tak sengaja menemukan pak satpam yang terikat dan terlakban mulutnya. Segera keduanya membantu, saat akan membukakan ikatan itu tiba-tiba seseorang datang dari belakang lalu memukul Daffa dan Seon sampai tak sadarkan diri.
“Bim sampai kapan kita lari terus? Gue benar-benar capek,” tanya Leo sambil terus berlari dari kejaran dua orang berbadan besar.
“Kalo kita berhenti bisa abis dihajar mereka emangnya lu mau babak belur hah? Kita sembunyi di sana aja Le,” jawabnya.
Ketika sudah merasa aman, tanpa mereka ketahui dua orang itu telah berada dibelakangnya. Hari yang belum terlalu siang itu dan keadaan tempat yang cukup sepi membuat dua lelaki tersebut dengan mudah membawa teman-teman Senja. Kini Bima, Leo, Daffa dan Seon dikumpulkan di tempat yang sama beserta para murid dari sekolahan Lea.
“Telpon polisi dulu nggak sih, kayaknya ini bahaya deh. Nggak mungkin juga kita bisa bantu Lea,” seru Pram.
“Benar, yang lain juga belum ngasih kabar. Sen kamu bawa handphone?” sahut Bintang. Senja mengangguk, dia segera mengeluarkan ponselnya. Baru saja akan menelpon tiba-tiba terdengar suara sirine. Para polisi berdatangan mereka mendapatkan telpon dari seorang pria dan mengatakan jika orang tersebut meminta tebusan sebesar 1 miliyar.
“Kita jangan sampe kelihatan sama para polisi, pergi dulu dari sini.”
“Bener, kalo sampe ketahuan kita nggak bisa bantu Daffa sama yang lain keluar,” lanjut Senja. Tiga anak remaja tersebut berdiri tak jauh dari para penjahat, sedangkan anggota polisi masih berusaha bernegosiasi dengan pemimpin penyandera. Tidak ada gerakan maju dari mereka, semuanya hanya diam dan terus meminta melepaskan seluruh murid.
“Bim, coba lu pinjam kaca tuh cewek,” bisik Daffa. Bima melihat ke arah siswa perempuan yang ada disebelahnya. Dengan sangat mudah cowok itu mendapatkan barang yang diminta. Setelahnya dia memberikan cermin tersebut pada Daffa.
__ADS_1
Di sekolahan Senja, Paris bertanya pada anak muridnya tentang Bintang dkk. Padahal guru itu ingin memberitahu jika beberapa minggu lagi ujian akhir akan segera datang. Ketika memulai pelajaran suara notif pesan dari grup terdengar, kepala sekolah mengirimi gambar tentang berita penyanderaan di sekolah sebelah. Buru-buru Paris pergi untuk berkumpul diruang guru, sebelum itu dia meminta anak-anaknya mengerjakan tugas agar tidak keluyuran.
Seketika berita tersebut menjadi ramai diperbincangkan, para orang tua juga berdatangan ke lokasi melihat anak-anaknya yang berada didalam. Papa Leo yang berada diluar kota langsung panik karena sekolah yang viral itu tempat putrinya menuntut ilmu. Dia berusaha menelpon kedua anaknya namun ponsel mereka sama-sama tidak aktif.
“Mau kemana? Jangan pergi sendirian, aku sama Pram harus ikut. Kita berdua nggak mau kamu kenapa-kenapa,” ucap Bintang. Dia sadar jika Senja akan nekat masuk seorang diri untuk melawan para lelaki besar itu. Walau sudah mengetahui kemampuan kekasihnya tetap saja Senja adalah seorang perempuan. Dia tidak akan bisa mengalahkan banyaknya para penjahat tersebut.
Para polisi sudah menyepakati semua permintaan penyandera. Saat akan mulai dikeluarkan satu persatu, Aldo yang kesal pada mereka memberontak. Semuanya menjadi kacau, siswa-siswi berlarian menyelamatkan diri namun sayang pintu terkunci. Satu suara tembakan terdengar oleh Senja, Bintang dan Pram. Ketiganya yang termenung memikirkan rencana seketika terkejut.
Orang tua diluaran sana juga ikut panik, mereka meminta untuk anak-anaknya diselamatkan. “Kita nggak boleh terus diam di sini. Gue khawatir sama Daffa, Bima dan yang lain. Nunggu polisi lama,” ucap Senja.
“Om Biru sama Om Arka, kira-kira mereka mau bantu nggak ya?”
“Nggak usah ngelibatin mereka Sen, biar para polisi aja yang urus semuanya. Kita juga harus keluar dari sini takutnya ketahuan. Kalo ketangkap malah nambah repot,” seru Bintang.
“Terus lu mau teman-teman kita didalam sana terkurung? Biar gue aja yang masuk, lu berdua nunggu di sini.”
“Nggak!”
__ADS_1
Bintang menahan tangan kekasihnya, wajah cowok itu terlihat marah karena Senja tidak mau menuruti perkataannya. Dia bersikap demikian karena takut terjadi sesuatu pada gadis yang dicintainya. “Okay! Fine. Kita masuk barengan dan hadapi mereka semua bersama.”
“Tapi..., kalo begitu kita bakal menambah kekacauan didalam sana,” seru Pram. Dua temannya terdiam, Senja mengacak rambutnya kesal karena belum ada gerakan dari kepolisian. Dua jam sudah berlalu, tapi dua anggota itu masih membahas kesepakatan. Jika saja Aldo tidak melawan pasti beberapa siswa dan guru sudah dikeluarkan.