Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 70


__ADS_3

Di kantin sekolah Daffa mengatakan jika dia tahu betapa sakitnya mencintai orang yang telah memiliki kekasih. Senja langsung menatapnya, dia sebenarnya bingung dengan perasaannya sendiri.


“Lebih baik mengikhlaskan daripada harus terus sakit. Gue tahu perasaan lu datang secara tiba-tiba, tapi lu juga harus percaya sama Bintang Sen, dia itu masih suka dan cinta sama lu.”


“Gue bingung Daf, padahal Bintang udah gue anggap seperti saudara. Cuman lu doang yang paham sama kondisi gue, lu bisa langsung nebak apa yang gue pikirin dan rasain.”


“Btw selama mereka pacaran apa aja yang udah dilakuin?” lanjut Senja pelan.


“Hah? Nggak ada sih, paling jalan sama makan bareng doang. Waktu berdua ya cuman dikit, lebih banyak berantemnya. Kadang suka kasian sama si Bintang tapi tuh anak nurut mulu sama ceweknya.”


“Lu suka kan sama adiknya Leo? Jujur Daf, gue tahu semuanya kok dari Seon. Dia selalu merhatiin lu, Bima sama Lea.”


“Nggak! Gue nggak suka siapa-siapa, si Seon ngawur itu.”


Seketika Daffa langsung salah tingkah sedangkan Senja malah tertawa kecil melihat sahabatnya. Kedua orang itu pun menghela napas bersamaan. Lalu mulai memesan makanan. Setelah jajanan datang Senja mengajak Daffa ke roof top. Sudah lama keduanya tidak berkumpul di sana, tempat paling nyaman untuk menyendiri.


Dari atas terlihat para siswa yang lalu lalang dibawah sana. Keduanya juga melihat si para pembully tengah beraksi, sambil menikmati makanan mereka menonton drama itu. Saat matanya beralih ke arah lain, Senja tanpa sengaja melihat Bintang yang tengah dipeluk oleh Cantika. Dia menelan ludah, tertawa sendiri membuat Daffa yang berada disamping keheranan.


“Sen? Lu nggak kesurupan kan? Jangan buat gue merinding deh ketawa sendiri, tiba-tiba lagi.”


Senja menghentikan tawanya dan langsung memasang wajah datar. Tanpa melirik Daf dirinya berkata bahwa dia bodoh, sang sahabat mengernyit.


“Kenapa hah?”


“Gue bego ya Daf, ughhh....!”

__ADS_1


“Nggak kok, perasaan nggak bisa diatur. Gue paham apa yang lu rasain sekarang. Intinya jangan pernah menganggap diri lu bodoh cuman karena masalah cinta.”


Tiba-tiba Senja menangis membuat Daffa semakin bingung, dia merangkul sahabatnya dan menenangkan. Senja sudah dia anggap seperti keluarga, tidak tega rasanya jika melihat gadis itu menangis apalagi didepan matanya sendiri. Daffa bergumam, dia ingin mengatakan perasaan Senja kepada Bintang.


“Wah ada apa ini? Lu berdua diam-diam jadian ya?” seru seseorang dari belakang. Dengan kompak dua orang tersebut berbalik badan melihat siapa yang berbicara. Ternyata itu Seon, dia tersenyum menghampiri Daffa serta Senja. Tanpa disuruh dirinya berbicara panjang lebar menceritakan kisah asmara dan hidupnya. Saat Seon menyebutkan nama aslinya Daffa menahan tawa.


“Jadi nama panjang lu Seonarto Adrian?”


“Di panggil Narto bagus loh,” lanjut Senja.


“Udah gue duga sih bakal diledek.”


Ketiganya asik berbincang, saking asiknya mereka tidak mendengar bel yang telah berbunyi. Beberapa menit berlalu, Senja melihat jam yang melingkar di tangannya, dia kaget karena jam telah menunjukkan pukul 13.00. Buru-buru gadis itu menarik kedua temannya untuk segera pergi ke kelas. Sesampainya di sana mereka menghela napas kasar, dipikirnya tidak ada guru yang mengajar. Namun baru satu langkah suara yang familiar terdengar oleh mereka bertiga.


Senja, Daffa dan Seon terkekeh saat telinganya ditarik. Sang guru menyuruh mereka berdiri didepan sampai jamnya selesai. Senja berdengus kesal sedangkan dua orang lainnya malah asik bercanda.


Bel pintu terdengar, Echa cepat-cepat membukanya. Ara bersama Silla datang untuk menjenguk. Shena yang baru bertemu lagi dengan istri Bara itu langsung menghampiri dan memeluk dengan erat. Raut wajahnya terlihat sangat senang, tangannya pun tak lepas dari genggaman Echa.


“Nggak sabar nunggu kalian berdua lahiran, nanti Shena punya temen.”


Ara berbicara demikian, ucapannya tersebut langsung membuat si mantan kakaknya terdiam membisu. Nadia yang melihat perubahan wajah Echa pun mengalihkan topik dan tertawa serta menanyakan kabar Shena.


“Eh Ca, kemarin aku lihat Bara di restoran.”


“Iya kah? Mungkin dia lagi ada meeting tapi diluar,” jawabnya.

__ADS_1


“Sama cewek, kelihatan dari gayanya sih mereka berdua nggak seperti kerja. Apalagi ceweknya nempel terus sama Bara,” sambung Ara.


Nadia sontak menyenggol lengan Ara, dia tidak habis pikir akan perkataan adik sahabatnya itu. Silla hanya menyimak, dia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tak lama ponsel milik Echa berdering, ternyata sang suami yang menelpon. Dia menanyakan keberadaan Echa karena tidak ada dirumah.


Setelah itu wanita tersebut izin pamit. Dia tetap tersenyum baik kepada Ara, selain itu dia juga percaya pada suaminya jika Bara tidak akan pernah bermain dengan wanita lain dibelakangnya.


“Tante Echa hati-hati ya, nanti main lagi sama Shena,” seru gadis kecil sambil melambaikan tangan.


Kembali kesekolah, akhirnya hukuman tiga orang nakal itu selesai. Seon mengeluh jika kakinya terasa sangat pegal. Bima dan Leo bertanya mengapa mereka bisa telat masuk? Keduanya juga telah mencari di kantin serta lapangan namun tidak menemukan keberadaan Senja.


“Kepo lu ah! Bagi minum dong Bim, lu bawa air nggak?” ujar Daffa.


“Eits! Tidak bisa. Jawab pertanyaan dari kita dulu baru dikasih minuman.”


“Kita tadi abis nonton orang pelukan,” jawab Senja. Namun wajahnya memandang kedepan, dia sama sekali tidak melirik pada teman-temannya yang duduk dibelakang.


Seketika Bima dan Leo langsung memajukan kursinya. Seperti biasa dua cowok itu tidak ingin ketinggalan berita baru. Mereka mencondongkan tubuhnya kedepan, berbicara pelan menanyakan siapa orang yang berpelukan tersebut. Mata Bima tidak berkedip sama sekali, pokus melihat Senja yang asik memainkan pulpen. Dia menunggu jawaban dari gadis didepannya, namum sudah 1 menit berlalu Senja tetap diam tidak menjawab membuat Leo kesal lalu melemparkan kertas.


“Siapa yang nyampah sembarangan?”


“Leo Pak,” jawab semua murid serentak.


“Hayoh loh,” ledek Bima bahagia.


Leo maju kedepan mendekat pada gurunya. Dia mencium lengan si guru beberapa kali sambil meminta maaf. Untungnya saat itu Paris lah yang mengajar, jadi Leo tidak terkena marah. Pelajaran si wali kelas membuat murid-muridnya merasa terhibur. Setiap menjelaskan materi tidak lupa Paris selalu memberikan sedikit lelucon. Pukul 14.00, jam dimana anak sekolah selalu merasakan kantuk.

__ADS_1


“Bapak tuh cocoknya ngajar pas awal jam sama akhir. Bilang sama Pak kepsek buat ganti jam dong Pak. Hari Rabu sama Kamis jangan dipertengahan,” ungkap salah satu murid.


__ADS_2