
Pram yang sedang makan terus melirik Ara. Hatinya merasa jika dia sudah sangat dekat dengan wanita yang tengah berbincang bersama sang Mama. Ara yang sadar sedang diperhatikan pun tersenyum, membuat Pram menjadi salah tingkah.
Malam harinya, Biru baru datang kerumah Daffa, dia sedikit terlambat karena urusan bisnisnya yang tidak dapat ditinggalkan. Para anak remaja itu memaklumi betapa sibuknya Om Senja. Lagipula semua urusan untuk pengajian nenek Daffa sudah mereka bereskan.
Ditempat lain...., Pak Baba tengah merenung seorang diri. Tiba-tiba saja istrinya datang menghampiri dan bertanya mengapa sang suami melamun. Lalu Pak Baba bercerita bahwa dirinya ingin meminta maaf kepada kedua ponakannya. Dirinya juga mau memberitahu semua tentang Nugraha. Awalnya sang istri menolak untuk meminta maaf kepada Ara dan Biru. Namun si suami terus membujuk sampai dia mengangguk setuju.
Setelah pengajian usai, Senja serta yang lain pamit pulang kecuali Bintang. Cowok itu ingin menemani Daffa yang kini tinggal seorang diri. Di lain rumah, Echa tengah menunggu kepulangan suaminya, sudah larut malam namun Bara belum kunjung pulang juga membuat Echa khawatir. Suara ketukan pintu terdengar, Echa mengira jika suaminya telah pulang. Namun saat sudah dibuka malah muncul seseorang yang dia kenal. Dia adalah Sasa, wanita tersebut membawa Bara.
Melihat suaminya bersama Sasa, Echa heran dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dia tidak menyangka bahwa teman sekelasnya itu sudah bebas dari penjara. Sasa tersenyum kepada istri Bara. “Lama nggak jumpa, Ca.”
“Oh iya, ini suami lu kan? Tadi kita berdua habis makan bersama, dia juga terlalu banyak minum makanya seperti ini,” sambungnya melirik wajah Bara yang tampan.
Ditatap seperti itu, Echa langsung menarik lengan suaminya. Dia merasa jika Sasa mempunyai niat jahat terhadap rumah tangganya. Setelah mengantarkan sang suami ke kamar, Echa kembali ke luar untuk menemui Sasa. Namun wanita itu sudah tidak ada lagi didepan rumah. Keesokkan paginya, dengan wajah datar Echa menyiapkan sarapan untuk Bara. Melihat sang istri seperti itu dia pun bertanya.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Bara memeluk Echa dari belakang. Dia mengelus lembut rambut sang istri sambil menciuminya.
“Semalam pergi kemana aja sama Sasa?”
__ADS_1
“Oh itu, ternyata aku sama dia satu kantor. Kita berdua hanya makan dan minum aja, itu juga dipaksa. Apa kamu marah?”
“Berdua aja atau ada yang lain juga? Aku nggak marah Bar, tapi aku merasa Sasa punya niat jahat sama hubungan kita. Sebaiknya kamu jaga jarak sama dia,” ungkapnya. Echa memandang wajah sang suami dengan lekat, dirinya berharap jika Bara mau mendengarkan ucapannya.
“Aku rasa Sasa udah berubah, dia jauh lebih baik dari Sasa yang kita kenal dulu. Kamu tenang aja, aku nggak bakal tergoda sama dia,” jawabnya tersenyum.
Dikediaman Ara, Biru tengah menjenguk Shena yang sakit karena demam. Dia ke sana membawa semua makanan yang keponakannya sukai. Saat sedang asik mengobrol bersama Galang, terdengar suara salam dari seseorang diluar. Galang awalnya ingin bangkit dari duduk, namun Ara sang istri menyuruhnya diam karena dia yang akan membukakan pintu. Betapa terkejutnya wanita itu setelah melihat kedatangan paman dan bibinya bersama seorang perawat panti.
Biru dan Galang ikut keluar melihat siapa yang datang dipagi hari. Sama seperti Ara, sang kakak juga terkejut saat melihat Pak Baba serta istrinya. Karena sudah tidak mempunyai dendam lagi dan sudah melupakan kesalahan keduanya. Biru dan Ara mencium lengan paman-bibinya. Keduanya senang karena mereka mau datang juga kerumah. Padahal dulu saat diajak, Pak Baba menolak keras walau hanya untuk berkunjung sebentar. Namun kini mereka berdua sendiri lah yang datang kerumah Ara.
Galang mempersilahkan kedua orang tua itu masuk kedalam, Ara pergi ke dapur membuatkan semuanya minuman. “Kedatangan kita ke sini untuk memberitahu siapa orang yang telah membeli putranya Ara,” seru Pak Baba pelan.
Ara yang baru selesai membuat minum sontak menjatuhkan gelas-gelas yang dibawanya. Dia langsung duduk disamping Pak Baba, menggoyangkan lengan lelaki tua itu. “Siapa orangnya? Ayo antarkan Ara ke sana, Ara kangen sama Nugraha.., ayo paman.”
“Sayang duduk di atas, kita dengarkan lagi perkataan paman kamu,” ujar Galang.
Setelah berbincang lama, akhirnya mereka semua pergi ke rumah yang ditunjukkan oleh Pak Baba. Saat melihatnya Ara berseru jika kemarin dia baru saja bermain ke rumah tersebut. Biru terkejut, tidak menyangka ternyata Nugraha sudah sang adik lihat dan bahkan saat kecil anaknya itu selalu bermain bersama. Namun, mereka tidak menyadari hal tersebut. Bu Miya yang tengah menyapu melihat kedatangan Ara serta yang lainnya, dia berjalan dan menyapa mereka semua.
__ADS_1
Di sekolahan, banyak yang menaruh bunga dimeja Daffa. Teman-teman sekolahnya turut bersuka cita atas meninggalnya nenek Daffa, mereka melakukan itu karena tidak datang dan peduli terhadap cowok populer tersebut. Daffa mengucapkan terimakasih pada semuanya, dia tersenyum manis. Senja dan yang lain membantu membereskan bunga-bunga itu dan memasukkannya kedalam loker.
Pram yang masih berada diparkiran tengah menyiapkan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Senja. Ternyata cowok itu tidak tahan menyimpan rasa cintanya.
Saat jam istirahat tiba, disitulah Pram akan mengungkapkan perasaannya kepada Senja. Dengan modal percaya diri, dia berteguh yakin akan diterima oleh gadis tersebut.
“Maaf, boleh pinjam Senjanya bentar?” ujar Pram pada Bintang dkk.
“Mau ngapain lu pinjam Senja?” tanya Leo.
“A-anu, aku mau bilang sesuatu sama dia. Tapi cuman berdua aja, bolehkan pinjam temannya dulu?”
Bintang mengangguk, sedangkan ketiga temannya terdiam. Sepertinya dia tahu jika Pram ingin mengatakan cinta kepada Senja, oleh sebab itu mengizinkannya membawa sang sahabat. Setelah kepergian mereka berdua, Bima dan Leo bertanya-tanya namun Bintang menyuruhnya untuk diam.
Di taman belakang, Pram menghela napasnya. Saat akan menyatakan cinta, tiba-tiba saja telponnya berbunyi. Ternyata sang Mama lah yang menghubunginya. “Sen lain waktu aja bicaranya, aku harus pulang karena perintah dari Mama.”
Senja mengangkat sebelah alisnya bingung dengan sikap Pram. Tapi gadis itu tidak menghiraukannya lagi dan langsung kembali pada keempat sahabatnya. Sedangkan Pram setelah izin pada guru dengan alasan penting, dia pun pergi pulang kerumahnya. Sesampainya di sana, dia heran karena banyak orang yang tidak dia kenal kecuali, Ara yang memang bertemu kemarin.
__ADS_1
“Ada apa Mah? Kenapa tiba-tiba nyuruh Pram pulang?”
Bu Miya terdiam memandangi wajah sang anak dengan lekat. Terlihat dari wajahnya jika Bu Miya tidak siap untuk memberitahu Pram tentang Ara dan yang lain. Dia tak ingin kehilangan putranya yang telah dirawat sejak bayi.