
Sepeninggalan Bu Ana, Bintang menarik lengan Senja keluar. Mereka duduk dihalaman depan, cowok itu mempertanyakan tentang apa yang dilihatnya saat di angkot. Senja menjelaskan jika dia memasang cctv untuk memantau Laura karena wanita licik tersebut senang sekali masuk kedalam kamarnya. Tak hanya itu Senja juga ingin tahu apa yang dilakukan Mama tirinya saat sang Papa dan dirinya tidak ada dirumah.
Saat melihat rekaman tadi dia sendiri terkejut serta tidak menyangka. Mengetahui betapa busuknya Daniel dengan Sea yang selingkuh dibelakang Laura. Bintang mengangguk mengerti, kehidupan temannya itu sedang tak baik-baik saja setelah datangnya Laura. Perbincangan terus berlanjut, sampai dimana Bintang bertanya soal perasaan Senja kepada Pram. Gadis itu tak ragu menceritakan masalah hati, dia mengakui bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada Pram.
“Kenapa harus repot-repot buat tantangan kalo lu aja udah jatuh cinta sama dia? Buang-buang waktu yang ada nanti Pram tergoda sama cewek lain, dan lu nyesel deh.”
“Gue bakal cabut tantangan itu dan mulai menerima dia lagi. Lu dukung gue kan Bin? Maaf ya gue nggak bisa nerima cinta lu.”
“Santai aja Sen, gue sadar kok. Apapun keputusan lu gue dan yang lain bakal dukung, semoga nanti hubungan ku sama Pram nggak ada masalah.”
Senja memeluk Bintang erat, dia mengucapkan terimakasih. Merasa bersyukur memiliki sahabat yang begitu perhatian, baik dan selalu ada disaat dirinya sedih. Melihat jam yang melingkar ditangannya sudah menunjukkan pukul 21:45 Senja pun izin pamit. Awalnya Bintang menawarkan untuk mengantar pulang namun ditolak oleh Senja dan berkata bahwa dia bukan anak kecil lagi.
Ara yang tengah menidurkan Shena dikejutkan oleh Galang. Suaminya itu meminta sang istri untuk membuatkan semangkok mie. Ara mengerutkan kening, padahal baru saja mereka selesai makan malam tapi Galang sudah merasa lapar kembali. Setelah memastikan Shena terlelap, Ara bangkit dari kasur dan mulai berjalan menuju dapur. Saat sedang membuat mie Galang datang memeluk dari belakang, Pram yang akan mengambil air pun berbalik badan.
“Nugraha, belum tidur?” ucap Ara. Si ibu menyadari kehadiran putranya, dia meminta Galang melepaskan pelukan tersebut.
“Eh iya belum tidur, ini mau ambil air haus. Tapi nggak jadi deh mau pergi ke luar aja.”
“Udah malam, jangan main. Kalo mau ambil minum silahkan apa kamu ingin juga ibu buatkan mie?”
“Nggak usah Bu, Nugraha ambil air aja. Ya udah silahkan lanjut,” ujarnya lalu pergi setelah mendapat sebotol air.
Galang tersenyum pada istrinya, dia melihat gemas pada Nugraha yang sepertinya malu melihat kedua orangtuanya. Mie pun sudah siap disantap, Ara menyuruh Galang untuk meniupnya terlebih dahulu. Sang suami mencubit hidung istrinya sambil mengatakan bahwa dia bukan anak kecil yang harus diberitahu.
__ADS_1
Pagi harinya Laura melihat si suami sedang bersantai di depan rumah. Dia mengerutkan kening mengapa suaminya itu tidak pergi bekerja. Padahal niatnya hari ini dia akan berkencan dengan Daniel. “Mas nggak ke kantor kah? Tumben belum siap-siap.”
“Nggak, Mas sudah berikan semua pekerjaan pada sekretaris. Sekarang Mas mau istirahat, akhir-akhir ini kurang enak badan.”
“Kamu sakit?” tanya Laura.
“Makanya urusin suami jangan jalan sama pacar. Papa gue sakit aja lu nggak tahu, istri macam apa!” ujar Senja dari belakang.
Pak Arya hanya diam, putrinya itu pamit mencium punggung tangan Papanya. Senja bersikap cuek pada Laura, dan Pak Arya tidak menegur. Biasanya lelaki tua itu akan menyuruh Senja untuk bersalaman juga pada istrinya namun kali ini tidak. Setelah kepergian sang putri, dia meminta si istri membuatkan dirinya secangkir kopi. Dengan cepat Laura pun mengangguk dan pergi menuju dapur. Tanpa sengaja dia mendengar obrolan sang adik dengan Daniel lewat telepon.
“Ya ampun kak Lau, ngagetin aja.”
“Daniel nelpon kamu? Kenapa nggak ke aku langsung aja?” tanya Laura, dia tidak menghiraukan adiknya yang terkejut.
“Sayang, maaf ya sekarang kita nggak jadi pergi soalnya lelaki peyot itu nggak ke kantor, dia ada dirumah.”
“Ya udah nggak papa, lagipula aku juga banyak kerjaan,” jawab Daniel dari balik telpon.
Selesai bicara sedikit Laura mengembalikan ponsel milik adiknya dan melanjutkan langkahnya menuju dapur membuatkan kopi. Sea tersenyum mengirim pesan pada Daniel. Di sekolahan, Senja yang baru saja sampai sudah disambut oleh anak-anak dari SMA LENTERA. Mereka mempertanyakan mengapa Senja tidak datang malam kemarin.
“Gue lupa!” ucapnya singkat.
“Kita udah baik mau ngundang sekolah lu, tapi apa? Kalian nggak datang dan tidak menghargai undangan dari kita.”
__ADS_1
“Gue dan yang lain, khususnya sekolah ini nggak pernah minta untuk diundang!” serunya dengan wajah dingin.
Bintang, Leo, Bima dan Daffa yang baru saja datang melihat sahabatnya dikerumuni oleh SMA LENTERA langsung menghampiri. Mereka berempat sigap menjaga Senja, menyuruh anak-anak itu untuk pergi dari sekolahnya. Cuaca masih pagi, namun masalah sudah menghampiri Senja. Dia benar-benar lupa akan undangan tersebut karena bermain kerumah Bintang.
Perdebatan selesai mereka membubarkan diri. “Gue mau nyimpen ini dulu, kalian ke kelas aja,” ujar Senja sembari menunjukkan barangnya yang akan disimpan.
Sebuah tangan terasa di pundaknya. Senja berbalik badan ternyata Pram yang menyentuh. Cowok itu siap dengan tantangan berikutnya, akan tetapi Senja menggeleng.
“Kenapa? Berubah pikiran kah?” tanya Pram heran.
“Iya gue berubah pikiran.”
“Apa alasannya? Bukannya persyaratan aku untuk jadi pacar kamu itu harus menyelesaikan semua tantangan yang kamu berikan?”
“Gue berubah pikiran untuk langsung jadi kekasih lu, Pram! Maaf merepotkan usaha lu buat dapetin gue,” ujarnya membuat Pram terdiam seketika. Tanpa berbicara lagi Senja melanjutkan langkahnya, namun sebelum benar-benar pergi dia berhenti sejenak dan kembali berbicara. “Gue suka dan cinta sama lu, makasih atas perjuangannya,” sambungnya sembari tersenyum tipis tanpa melihat kebelakang.
Hal itu jelas saja membuat Pram bahagia, dia berteriak mengucapkan kata I love you Senja dan didengar oleh banyak murid. Semua bertepuk tangan atas keberhasilan Pram menjadikan Senja sebagai kekasihnya kembali. Saat didalam kelas, keduanya terlihat malu-malu, Senja yang awalnya cuek dan jutek kini selalu memalingkan wajahnya. Gadis itu seperti tidak berani menatap atau melihat Pram. Lalu salah satu murid, teman sekelasnya menggoda Senja, Bima dkk heran.
“Selamat ya Pram, semoga hubungan kalian nggak putus lagi.”
“Thanks!”
Beberapa menit kemudian barulah keempat sahabat Senja paham. Ternyata teman gadisnya sudah menerima Pram, Bima pun ikut menggoda dan meminta untuk ditraktir makan saat istirahat nanti.
__ADS_1