
Para cowok yang ada di sana semuanya menggeleng. Walaupun masih ada Bima dan Leo tetap saja suasana basecamp terasa kurang. Cukup lama hujan turun namun belum reda, hari pun mulai gelap dan Senja terus menerus di telepon oleh Papanya. Sampai pukul 20.00 akhirnya rintik hujan berhenti. Beberapa orang sudah terlelap akibat udara yang dingin.
Karena tidak mau mengganggu teman-temannya Senja pun memutuskan untuk tidak berpamitan langsung. Dia akan mengirim pesan saat sudah sampai dirumah, tak lama taksi pesanannya datang menjemput.
Dalam perjalanan pulang dia terus menatap ke arah luar. Memikirkan apakah dia akan menerima Laura dalam kehidupannya atau tidak? Melihat poto yang terpajang dirumah membuat hati Senja tergetar. Dia sebenarnya ingin berbaikan dengan Mama tirinya itu.
Tak terasa dia pun sampai di rumah, setelah memberikan uang Senja merogoh ponsel lalu mengirim pesan pada Bima. Saat akan membuka gerbang masuk kedalam rumah tak sengaja melihat Sea bersama Daniel. Dua orang tersebut tengah berbincang berdua dengan sangat serius. Awalnya Senja tidak memperdulikan namun setelah mendengar kata akan menyingkirkan keluarganya dia pun kembali mundur dan mengumpat.
Betapa tidak percayanya dia saat tahu penyebab dirinya kecelakaan. Ternyata semua sudah Sea dan Daniel rencanakan sejak lama, kini keduanya akan mencoba menyingkirkan Pak Arya yang lemah dan sudah tua itu, lalu mengkambing hitamkan Laura sebagai pelaku. Dengan begitu Senja akan bertambah benci pada Mama tirinya tersebut.
“Emang udah gila nih cewek, sebelum dia bertindak kayaknya gue harus duluan menggagalkan rencananya,” gumam Senja.
Melihat Sea yang berciuman dengan Daniel membuat Senja jijik. Bisa-bisanya mereka berdua melakukan itu dirumah orang, apalagi didepan ada satpam.
Beberapa menit sudah dia menunggu akhirnya kedua orang itu selesai juga bermesraan. Senja menghembuskan napas, kakinya merasa kram terus berjongkok.
“Non Senja ngapain di sini?”
“Nggak papa kok Pak,” jawabnya. Langkah dia terhenti, berbalik badan lalu memberikan perintah pada satpamnya untuk tidak menerima Daniel lagi datang ke rumah.
“Baik non, tadi juga sebenarnya sudah dilarang sama nyonya muda. Tapi non Sea malah marah-marah dan ngusir nyonya bahkan sampe terjatuh,” jelasnya.
“Okay Pak, ya udah tolong tutup lagi gerbangnya. Saya masuk dulu.”
Si satpam mengangguk dia langsung berlari kecil menutup gerbang. Di dalam rumah Papanya tengah menemani sang istri menonton televisi, mereka berdua terlihat bahagia menonton film. Mata Senja tertuju pada lutut Laura, apa yang satpamnya katakan ternyata benar.
__ADS_1
“Sini sayang, Papa mau tanya sama kamu.”
“Tanya apa Pah?”
Pak Arya mengambil ponsel dan menunjukkan beberapa poto motor. Ternyata dia ingin bertanya motor mana yang putrinya suka. Sebuah senyuman bahagia terpancar pada wajahnya, dia sangat senang akan dibelikan lagi sebuah motor.
“Ini semua berkat Mama Laura, dia yang membujuk Papa agar membelikan kamu motor lagi. Sebenarnya Papa mau memberikan kamu mobil.”
Senja berseru oh, ternyata Mamanya itulah yang membujuk sang Papa. Dia mengucapkan terimakasih dengan suara pelan.
......................
Pagi harinya saat akan pergi ke sekolah Senja melihat sebuah pulpen pemberian dari Pram. Dia kembali mengingat kebersamaan dirinya bersama sang mantan. Semenjak kejadian itu kini keduanya sudah tidak saling berkomunikasi lagi.
“Ternyata dia adik tiri gue. Haha..., lucu!”
Mereka menyunggingkan bibir, mengatakan jika Senja hanyalah gadis lemah. Selama dirinya sakit ternyata para pembully selalu meminta uang sebagai pengganti jika tidak akan mengganggu.
“Bokap lu bangkrut atau gimana? Kok minta duit ke gue, butuh banget emangnya hah?” seru Senja dengan senyuman sinis. Dari wajahnya tidak ada ketakutan sama sekali, padahal orang yang sedang membully dirinya cukup banyak.
Salah satu dari mereka heran dengan sikap Senja yang sok berani lagi. Karena diledek miskin orang yang bernama Resti pun mengangkat tangannya dan akan menampar. Sebelum pipi halusnya terkena tangan kasar mereka, Senja dengan cepat mencegah lalu menampar lebih dulu. Amarah semakin memuncak, keributan antara satu lawan enam orang itu pun terjadi.
Pram yang baru sampai di parkiran dihampiri oleh salah satu siswi. Dia mengadu pada lelaki tampan itu jika dirinya melihat Senja tengah berkelahi. Tidak mau kakaknya kenapa-kenapa maka dengan cepat dia berlari menuju belakang sekolah. Penampilan yang awalnya rapi kini harus berubah acak-acakan.
“Sialan mereka, dikira gue takut kali. Awas aja gue bales lu semua nanti,” omelnya. Dia tidak menyadari kehadiran Pram, tetap pokus merapikan rambut serta seragam.
__ADS_1
“Kamu nggak papa Sen?” tanyanya khawatir. Senja kaget saat tangannya di pegang oleh Pram. Dia menelan ludah menatap wajah lelaki tampan di depannya. Jarak mereka begitu dekat, apalagi disaat si adik tiri meniup luka akibat cakaran para pembully.
“Gue nggak papa kok, santai aja gosah khawatir.”
“Biasanya kalo deket dia jantung gue berdebar, kenapa sekarang nggak ya? Apa gue udah nggak punya rasa lagi sama Pram?” pikirnya.
Didalam kelas Bima tertawa melihat keadaan Senja yang acak-acakan. Sedangkan Bintang bertanya apa yang telah terjadi, dengan kesal gadis itu menjawab jika dirinya baru saja berkelahi bersama siswa dari kelas sebelah. Seon yang asik menyisir rambut kaget saat barang favoritnya itu di ambil paksa oleh teman perempuannya.
“Patah satu ganti yang baru!” ungkapnya.
“Sisir kayak gini doang, nanti gue beliin sama pabriknya,” jawab Senja.
Cantika datang ke kelas Bintang, dia membawa kotak makan lalu duduk disamping cowoknya. Mata gadis itu tak sengaja bertatap dengan Daffa, seketika wajahnya berubah.
“Lu sakit Can? Pucat amat tuh muka. Yang satu kusut yang satunya kayak orang sakit,” ujar Bima.
“Maksud lu gue yang muka kusut hah?!” sahut Senja sambil terus menyisir, Bima tertawa, dia merasa senang akan omelan teman ceweknya.
“Tumben lu makan pemberian dari Cantika Bin, biasanya selalu ditunda,” serunya.
“Lah si Bintang sama tuh cewek kan udah jadian. 6 bulan malah menjalin hubungan,” sahut Leo sibuk memakan snacks.
Daffa dan Bintang seketika menatap dirinya. Sedangkan Senja mengernyitkan dahi, mendengar jika sahabat paling dekatnya sudah menjadi milik orang hati dia seperti teriris. “Oh, selamat!”
“Lu ketombean ya? Kampret emang,” ucap Seon mengambil sisirnya yang disimpan sembarang oleh Senja.
__ADS_1
“Berisik! Daf temenin gue ke kantin yuk, laper nih.”
Daffa mengangguk bangkit dari kursinya dan menyusul Senja. Bintang dan Pram yang melihat perubahan dari gadis itupun heran.