
Sea tak berkata lagi, dia melamun lalu berjalan dengan langkah yang gontai.
Satu minggu berlalu, Gibran masih tinggal bersama Bintang. Setiap hari melihat kemesraan juniornya dirumah, sedikit cemburu namun dirinya sadar diri. Suatu ketika sang Ayah datang berkunjung ingin mengetahui keadaan putranya. Sudah beberapa kali dibujuk pulang akan tetapi anak cowoknya tersebut terus menolak.
Pria tua bernama Wili itu berjanji pada putranya untuk tidak melanjutkan pertunangan tersebut. Wajahnya tak henti memandang dan tersenyum kepada Senja membuat gadis remaja itu menelan ludahnya sambil menggenggam tangan sang kekasih. Gibran tak ingin ada keributan yang Ayahnya buat dirumah Bintang, dia pun membawa si Ayah pergi keluar.
Setelah sedikit jauh dari rumah Bu Ana, pria tua itu berkata jika dirinya setuju akan kedekatan Gibran dengan Senja. Putranya mengerutkan kening heran akan sikap sang Ayah yang tiba-tiba berubah. Namun, Gibran menolak itu karena gadis pujaannya telah memiliki kekasih dan dia tak ingin merusak hubungan orang lain.
Selesai berbicara Pak Wili pun pergi menuju mobilnya meninggalkan Gibran. Sedangkan didalam rumah, Senja tengah memasak dibantu oleh kekasihnya. Mereka berdua terlihat bahagia tidak ada lagi raut wajah sedih setelah kepergian orang tua masing-masing.
“Apapun masalahnya kita harus hadapi bersama, kamu punya aku begitu juga sebaliknya. Mungkin diwaktu yang akan datang bakal ada banyak cobaan,” ujar Senja lalu mengulurkan tangannya pada Bintang.
“Mau ngapain?" tanyanya.
“Saat hidup kamu terasa sulit aku akan mengulurkan tangan." Bintang melanjutkan memotong sayur, dia tak menerima uluran tangan dari kekasihnya membuat Senja heran.
“Kenapa?”
“Karena nanti kita berdua akan jatuh,” jawabnya. Senja menghela napas mendengar jawaban dari cowok disamping.
“Nggak papa, kan bisa bangkit bersama.”
“Oh ya? Okay! Kalo gitu aku nggak boleh jatuh karena kamu akan terluka.”
Keduanya tersenyum, perbincangan mereka didengar oleh Gibran membuat dia tak jadi menghampiri. Tidak tega jika dirinya harus merusak hubungan juniornya tersebut, sudah cukup baik Bintang mau menerima dia tinggal dirumahnya. Di tempat lain, Laura berkeliling mencari keberadaan adiknya, sang ibu meminta dia untuk membawa pulang Sea. Walaupun sudah banyak berbuat salah dan menyakiti perasaannya.
Di pinggir jalan, terlihat Sea sedang duduk sembari melamun. Laura khawatir karena adiknya tersebut seperti orang yang tidak waras. Dengan penuh perhatian dia memapah Sea masuk kedalam mobil, setelah sampai dirumah sang ibu langsung memeluknya.
__ADS_1
Sea hanya terdiam, tatapan matanya kosong. Mendapati putri kandungnya seperti itu jelas membuat si ibu cemas, dia meminta diantarkan kerumah sakit memeriksa keadaan sang anak.
Betapa terkejutnya dua wanita itu saat tahu jika Sea tengah mengandung. Laura menghela napas, dia tahu siapa Ayah dari anak yang adiknya kandung itu.
Dia berniat datang kerumah Daniel untuk meminta pertanggungjawaban, tidak peduli mau lelaki itu sudah menikah ataupun belum.
Silla yang sedang membuatkan kopi untuk suaminya tiba-tiba berteriak meminta tolong. Perutnya merasakan sakit luar biasa, wanita itu segera dibawa kerumah sakit yang seperti akan melahirkan. Biru cemas serta khawatir dengan calon anak dan sang istri, dia tak henti-hentinya berdoa meminta keduanya diselamatkan. Beberapa jam berlalu, suara tangis bayi terdengar dari dalam.
Arka dan Nadia tersenyum lebar, ketiga sahabat itu saling pandang. Tak lama dokter keluar dengan wajah bahagia, dia menyampaikan jika keadaan Silla dan bayinya baik-baik saja. Setelah itu mereka di izinkan masuk, Biru terkejut karena wajah anaknya tersebut begitu mirip dengan sang sahabat, Andi. Nadia menangis terharu, tak menyangka dapat melihat sosok Andi kecil. Mereka bertiga sama-sama merasakan rindu pada sahabat tengilnya tersebut. Tuhan begitu baik memperlihatkan kembali wajah sahabatnya.
Ara bersama Galang segera datang ke tempat Biru. Shena begitu senang mendapatkan teman baru lagi, dia akan menjadi kakak dari anak-anak para Tantenya. Mereka yang hadir mengucapkan selamat atas lahirnya member baru.
“Gemes kan? Mau buat juga nggak?” bisik Bintang pada Senja yang terus tersenyum melihat bayi Omnya. Refleks gadis itu mencubit perut cowok di sampingnya.
“Nikah dulu tapi," sambung sang kekasih.
“Nggak usah bercanda.”
“Bintang! Stop nggak? Udah ih,” ujar Senja malu.
...----------------...
Thalia dan Gio merasa bosan karena tak adanya Gibran ketika berkumpul. Walaupun temannya tersebut selalu terlihat dingin juga cuek, tapi dengan adanya dia dapat membuat kebahagiaan mereka menjadi lengkap. Selama ini sedih ataupun senang mereka bertiga selalu bersama.
“Gue ke toilet bentar ya, lu coba telpon terus tuh anak ajak main,” ucap Thalia. Gio mengangguk, mengambil ponselnya dan mulai menelpon Gibran.
Beberapa menit kemudian, Thalia telah keluar dari toilet. Para remaja cowok yang duduk tak jauh dari meja Gio terus memperhatikan langkahnya membuat Thalia kesal. Gadis itu menggebrak meja membuat semua mata tertuju padanya. Gio sendiri terkejut merasa heran akan sikap wanita di depan.
__ADS_1
“Napa sih? Kesurupan lu hah?!”
“Lihat noh, mereka nggak berhenti merhatiin gue. Kayaknya harus gue siram,” omel Thalia.
Dia berdiri dan berjalan menuju meja yang tak jauh dari tempatnya. Ketika akan menegur tiba-tiba seorang lelaki datang menyapa orang-orang di sana. Tak lupa dia juga memperkenalkan diri kepada Thalia. Mengulurkan tangan guna berkenalan namun gadis itu tak menanggapi. Gio menarik tangan sahabatnya pergi, meminta maaf atas sikap yang ditunjukkan Thalia.
“Kavindra, cantik kan cewek tadi?”
“Menarik. Itu cowoknya kah?”
“Ya mana kita tahu, coba tanya.”
“Gila! Ngapain juga, oh iya gimana udah bisa hubungin Senja sama anak gengnya?”
“Udah, katanya minggu depan. Kita harus servis lagi motor biar tambah mantep kecepatannya. Jangan sampe kalah sama bocah, malu!”
Diluar sana, Thalia cemberut. Dia melepaskan genggaman tangan Gio, memandangnya sinis karena telah membawa dirinya pergi. Lalu suara notifikasi terdengar, segera Gio membuka handphone, Gibran menyuruh mereka berdua datang kerumah Bintang karena sedang sendirian. Dalam perjalanan menuju rumah si junior, keduanya dikejutkan dengan Bara yang tertidur dipinggir jalan. Thalia menggoyangkan tubuh pria dewasa tersebut, memintanya untuk bangun.
Ada bekas pukulan di wajah tampan milik Bara, Gio menerka jika pria di depannya baru saja terkena begal. Karena merasa kasian mereka pun membawanya kerumah Bintang, ingin mengantarkan pulang tapi keduanya tak tahu tempat tinggal Bara. Sesampainya dikediaman Bu Ana, Gibran terkejut melihat dua temannya membawa orang asing.
“Gib, antar gue ke dapur. Mau kompres lebam di wajah Om itu,” ucap Thalia.
“Lu nemu dimana orang ini?” tanya Gibran pada Gio.
“Di jalan, kayaknya abis dirampok. Dompetnya juga nggak ada, karena gue dan Thalia kasian dan bingung mau bawa kemana ya udah bawa aja ke sini. Kerumah sakit nanggung harus putar balik,” jawabnya.
...~•~...
__ADS_1
“Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri.”
^^^Kavindra Altezza Athaya^^^