
Setelah berkuliah, para anak-anak remaja itu tak pergi seperti biasanya. Mereka memutuskan untuk langsung pulang kerumah masing-masing guna beristirahat. Nampak juga rasa lelah dari wajah mereka. Bintang yang tengah rebahan teringat dengan Senja, dia baru sekali mengajak kekasihnya itu kencan. Malam ini dirinya berniat membawa Senja jalan-jalan menghabiskan waktu berdua.
Sebelum pergi kerumah sang pacar, dia terlebih dulu mampir ke sebuah toko membeli sesuatu. Bintang tersenyum melihat barang yang baru saja dibelinya. Sesampainya dirumah Senja, dia memencet bel dan tak lama keluar Laura membukakan pintu. Bintang menyalami wanita didepannya dengan sopan.
Laura kembali masuk ke dalam memanggil putrinya. Senja pun keluar dan melihat kehadiran Bintang yang berpakaian rapi. Satu tangkai bunga diberikan kepada gadis tercintanya tersebut, lalu menggandeng lengan Senja menuju luar gerbang tempat motornya terparkir. Betapa terkejutnya gadis itu melihat banyak bunga di motor Bintang. Seketika pipinya memerah, dia berbalik badan dan tersenyum malu. Tak berani memperlihatkan wajahnya didepan sang kekasih.
Senja menghitung bunga tersebut, ada 50 tangkai yang Bintang bawa. Tanpa diduga dia mendapatkan satu kecupan dari kekasihnya itu membuat dirinya semakin tak karuan. Dia berlari ke dalam dan tersenyum-senyum sendiri lalu kepergok oleh Mama tirinya. Laura terus menggoda gadis remaja itu, dia bahkan merasa gemas dengan tingkah lucunya. Dan menerima pukulan-pukulan kecil dari Senja.
“Bintang kesambet apa ya? Kok dia bisa seromantis ini sih, aduh jantung gue nggak aman.”
“Kasian loh masa ditinggal gitu aja. Kalo kamu nggak mau biar buat Mama aja deh,” ujar Laura.
“No! Nggak boleh Mamaku sayang. Ya udah aku ke balik lagi ke luar.”
Senja menghela napasnya terlebih dulu sebelum kembali pada Bintang yang masih setia berdiri diluar sana. Dia memasang wajah cuek, menyembunyikan kesaltingannya. Setelah itu Senja masuk lagi untuk siap-siap karena di ajak pergi. Di dalam kamar, gadis itu memegang dadanya memeriksa keadaan jantung yang terus berdegup kencang. Beberapa menit kemudian dia menghampiri Bintang dengan penampilan yang mempesona.
Mereka berdua pun pergi menggunakan sepeda motor. Bintang membawa Senja ke restoran mewah, dia juga telah memesan meja sejak sore hari. Pasang mata semuanya tertuju pada dua remaja tersebut. Beberapa dari mereka memotret dan tersenyum-senyum. Senja sendiri menundukkan kepala, baru kali ini pergi berdua dengan seorang cowok ke tempat yang romantis. Biasanya gadis itu selalu beramai-ramai, nongkrong di cafe atau basecamp.
__ADS_1
Seorang anak kecil menghampiri meja mereka dan meminta foto dengan keduanya. Awalnya Senja malu karena dirinya bukanlah seorang aktris atau semacamnya, namun melihat wajah si anak yang menunggu serta memohon membuat dia mengangguk lalu berfoto bersama. Senja menyodorkan kepalanya, sebuah jepitan rambut disimpan oleh anak kecil itu.
“Bin, aku malu tahu. Kenapa kita harus makan di sini sih? Padahal di ajak ke pasar malam aja udah seneng,” ujar Senja pelan.
“Sekali-kali ajak bidadari makan ditempat mewah. Udah jangan dibahas lagi,” jawabnya. Keduanya mulai menyantap makanan yang telah dipesan sebelumnya. Ketika sedang asik menikmati hidangan, seorang pria tua datang menghampiri bersama istrinya.
Senja dan Bintang tak mengenalnya, tapi kedua orang itu menyapa baik serta menyebut nama gadis disampingnya. Sang kekasih menatapnya, seolah-olah bertanya apakah Senja tahu sosok pria tersebut atau tidak. Walau begitu dua remaja itu tetap menyapa balik lalu mempersilakan duduk. Tapi si pria dan istrinya menolak dengan alasan harus segera pulang.
“Ternyata anaknya sudah tumbuh menjadi gadis cantik ya Pak, ngomong-ngomong sekarang kabar Papanya gimana, sudah lama nih,” seru si istri sambil masuk kedalam mobil.
“Nanti deh kita pergi ke kantornya, kasih suprise. Kelamaan di luar negeri apakah dia masih ingat sama kita atau tidak.”
Bintang berjalan mendekat pada si pengamen, berbisik lalu mengambil gitar dan duduk menggantikan si penyanyi. Mulailah dia memainkan alat musik tersebut, sorakan dari para perempuan terdengar cukup keras membuat Senja menggelengkan kepala. Cowok itu masih bernyanyi sambil terus memandang kekasihnya, si pengamen yang mengerti langsung menyuruhnya maju dan duduk disamping Bintang. Senja menatap mata sang pacar dengan tatapan hangat.
Melihat kerumunan yang terjadi membuat beberapa remaja cowok yang menggunakan sepeda motor datang menghampiri. Dia adalah Kavindra dan gengnya. 5 menit kemudian Bintang mengembalikan gitar si pengamen, lalu mengajak Senja pergi dari tempat itu. Langkah mereka terhenti saat akan menuju motor, Kavindra memanggil, menyapa keduanya dengan sebuah tos.
“Ini Senja ketua geng motor itu? Musuhnya Aldo? Gila cantik banget, Penampilan yang berbeda dari biasa. Gimana kabarnya?”
__ADS_1
“Halo bro! Kalian jadian kah?" lanjutnya.
“Yeah!” jawab Bintang singkat.
“Gue baik, lu gimana Kav? Oh iya minggu ya kita mulainya,” seru Senja.
“Iya gue udah kirim pesan ke salah satu temen lu. Ini terus kalian mau kemana lagi? Lanjut pacaran?”
“Oh jelas, mau berduaan,” ucap Bintang. Kavindra mengernyitkan dahi karena jawaban Bintang yang sedari tadi singkat dan cuek.
Kavindra pun mempersilakan mereka melanjutkan kencannya. Dia menggeleng-gelengkan kepala mengira jika Bintang merasa cemburu terhadapnya. Di tempat lain, Daffa sedang berbicara berdua secara serius dengan Sasa. Wanita yang telah dirinya anggap keluarga itu dilamar oleh wali kelasnya yaitu Paris. Daffa Sendiri justru mendukung dan mengizinkan Sasa bersama gurunya. Dia juga ingin melihat Sasa menikah seperti teman-teman yang lain, Biru, Arka, Ara dan Echa. Semuanya telah memiliki keluarga masing-masing.
“Kamu mau kan nanti ikut Tante?” tanya Sasa.
“Pergi kerumah Pak Paris? Setelah Tante menikah? Gimana ya...., aku nggak bisa ninggalin rumah ini. Karena telah banyak kenangan sejak aku kecil.”
Seperti tebakannya, Daffa pasti menolak ajakan dirinya untuk ikut bersama. Sebenarnya Sasa tak tega jika harus meninggalkan remaja tersebut, walaupun bukan saudara dia merasa khawatir.
__ADS_1
“Tante nggak mau ninggalin kamu Daf, ya udah nanti bilang ke Paris deh kalo Tante nggak bisa nerima lamaran itu.”
“Eh Tan, jangan gitu dong. Terima aja aku bisa jaga diri kok di sini. Kesempatan nggak datang dua kali loh, bukannya Tante juga ingin menikah seperti yang lain?”