
Di lain tempat, Echa tengah menyiapkan sarapan untuk suaminya. Keduanya sarapan bersama, sebelum berangkat kerja Bara mengingatkan sang istri untuk tidak membukakan pintu sembarangan, lelaki itu begitu perhatian kepada Echa, cintanya tak pernah pudar walau keduanya belum diberikan keturunan. Bara tetap setia pada teman kecilnya yang kini telah menjadi pendamping hidup.
Echa mengangguk dan tersenyum, lalu mencium lengan suaminya. “Semangat kerja hari pertamanya.”
“Iya, ingat! Jangan buka pintu sembarangan, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
Bara pun hilang dengan mobilnya. Echa kembali masuk membereskan bekas sarapan tadi. Suara dering telepon membuat dirinya menghentikan aktivitas. Nampak nama Ara yang tertulis, dia langsung mengangkatnya.
Di sekolahan, Senja terus tersenyum. Orang-orang yang melihatnya merasa heran, begitu juga dengan Pram dan keempat sahabat cowoknya. Leo menegur si gadis sambil menyenggol lengannya. Ini pertama kalinya semua murid melihat Senja tertawa terbahak-bahak. Daffa pun langsung menyimpan tangannya dikening Senja, memastikan sahabatnya sehat.
Laura yang kelelahan karena sakit perut tergeletak dilantai. Dia terus memegangi perutnya berusaha mengambil ponsel yang ada dimeja. Wanita itu menelpon seseorang untuk datang kerumahnya. Beberapa saat kemudian suara bel pintu terdengar, Laura berteriak meminta orang yang di teleponnya untuk langsung masuk kedalam.
Seorang lelaki muda berjalan ke arah Laura, dia membantu wanita tersebut berdiri. “Kamu kenapa? Kok bisa kayak gini sih, apa laki-laki tua itu berbuat kasar?”
Laura menggeleng, matanya sayu dan wajahnya pun pucat. Karena merasa khawatir maka lelaki itu mengangkat Laura membawanya ke rumah sakit. Tak berapa lama kemudian mereka sampai, dia langsung mengantarkan Laura masuk kedalam untuk diperiksa. “Kenapa sih hah?! Cerita sama aku, apa laki-laki tua itu berbuat kasar?” tanyanya lagi.
“Ini semua ulah gadis nakal itu.”
“Anaknya?”
“Iya, kalo begini rencana kita berdua untuk mendapatkan harta Pak Arya akan gagal. Dia bukan gadis sembarangan, sangat pintar juga licik.”
__ADS_1
“Habisin aja,” ucapnya. Laura menatap tajam lelaki didepannya. Dia menjelaskan kembali jika Senja bukanlah gadis biasa, dia cerdas, apalagi gadis tersebut selalu dijaga oleh Biru dan teman-temannya. Si lelaki menghela napasnya lalu mengajak Laura pulang.
Kembali ke Senja, dia memandang Daffa yang masih menyimpan tangannya dikening. “Apa sih Daf, gue sehat nggak sakit. Emangnya ada yang salah kalo gue ketawa?”
“Ya..., aneh aja sih. Soalnya kan lu jarang banget ketawa sampe segitunya, noh lihat para siswa lain juga heran ngeliatnya.”
Senja melihat kanan kiri, benar saja para murid lain menatapnya aneh. Gadis itu mengedip-ngedipkan matanya pada mereka semua.
Bintang pun bertanya mengapa Senja terlihat begitu bahagia? Sahabatnya tidak menjawab, dia duduk lalu mengeluarkan buku pelajarannya dan mulai menulis.
Bima yang penasaran menjitak kepala Senja dengan pelan. “Aelah nih bocah kesambet kayaknya. Leo coba lu rukiyah, biar setannya hilang. Ngeri juga kalo nih anak terus-menerus senyum.”
Jelas saja sikapnya itu membuat semua orang terkejut. Apalagi penggemar Bintang, mereka tidak menyangka bahwa gadis tersebut bisa seberani itu kepada idolanya. Suasana menjadi hening, Senja, Leo, Daffa dan Bima duduk memerhatikan drama didepannya. Dengan wajah serius dan coolnya membuat si gadis menundukkan kepala.
“Sorry!” ujar Bintang. Dia mengembalikan bunga dan kotak makan itu pada si gadis. Semua orang sudah menebak itu, jika Bintang akan menolak pernyataan cinta gadis tersebut. Begitupun dengan keempat sahabatnya. Saat si gadis berkacamata keluar, beberapa siswi yang menyukai Bintang juga langsung menghampirinya. Mereka adalah siswi yang sok jagoan serta hobi membully.
Si gadis mereka bawa ke toilet. Di sana para pembully itu mulai mengganggunya, mulai mencoret wajah dengan lipstik sampai kacamatanya diinjak-injak. Seorang siswi yang tak sengaja melihat perundungan tersebut langsung melapor kepada Senja. Walau dirinya tidak berani berbicara langsung dengan gadis populer itu, tapi dia memberanikan diri untuk mengadu.
“Heh cupu! Lu jangan coba-coba buat deketin Bintang. Dia nggak bakal suka sama lu yang kumel dan jelek. Nggak usah berharap deh, jangankan lelaki berkelas seperti Bintang, cowok biasa aja nggak akan mau pacaran sama lu!”
“Mm—maaf,” ujar si gadis ketakutan. Para pembully itu benar-benar keterlaluan. Mereka menendang kacamata saat akan dipungut.
__ADS_1
“Ingat! Kalo lu berani kayak tadi lagi, kita nggak akan ampuni lu dan bakal lakuin yang lebih dari ini!” ucapnya mengancam dan akan menampar pipi si gadis. Namun, sebelum itu terjadi. Sebuah tangan menghentikan aksi mereka semua. Betapa terkejutnya saat melihat Senja yang memegang tangannya.
“Orang yang merundung itu bukanlah jagoan, tapi mereka orang-orang yang lemah! Bukannya disekolah nggak boleh membully?”
“Ss—senja,” ucapnya menelan ludah.
“Heh! Jangan kira kita takut ya sama lu!” ujar siswi lainnya.
Senja tersenyum miring, dia bertepuk tangan mendengar perkataan siswi tersebut. Dengan gaya berkelasnya Senja menjawab ucapan siswi itu dengan cool. Para pembully terdiam, mereka tak bisa mengelak dengan apa yang Senja katakan. Bintang yang merasa bersalah pada si gadis membantunya mencari kacamata yang ditendang pembully. Kacamata itu telah hancur karena diinjak, Bintang meminta maaf kejadian ini disebabkan karena dirinya. Si gadis dengan cepat menggeleng, dia terus menundukkan kepalanya tak berani menatap orang-orang yang berada di sana.
“Bim, ambil kacamata yang ada di tas gue,” titah Bintang. Bima pun pergi ke kelas mengambil kacamata milik Bintang lalu kembali lagi ke toilet tempat pembullyan terjadi.
“Untuk hari ini pakai punya gue, ini kacamata minus udah nggak kepakai lagi,” ujarnya sambil memasangkan kacamata ke si gadis.
“Mm..makasih,” jawabnya bergetar.
Senja menyuruh murid-murid lain untuk membubarkan diri, kebetulan bel masuk juga telah berbunyi. Karena tak ingin berurusan dengan Senja dkk maka semuanya menurut. Di saat orang-orang sudah kembali ke kelasnya, para pembully itu menendang pintu toilet dengan kencang. Dia kesal dikatakan lemah dan bodoh oleh Senja.
“Dia cewek paling ngeselin! Sok berkuasa padahal bukan siapa-siapa di sini. Kalo nggak ada Bintang mungkin gue udah tampar tuh cewek.”
“Iya benar, sejak awal lihat dia gue juga nggak suka. Bisa-bisanya tuh cewek berteman sama Bintang dkk. Kayaknya kita harus beri dia pelajaran kalo tuh cewek sendiri,” seru yang lainnya.
__ADS_1