
Nadia meminum air yang diberikan sahabatnya. Lalu para cowok mengajak mereka semua untuk turun melihat perkampungan yang berada dibawah sana. Mereka penasaran dengan apa yang para warga lakukan. Berada disebuah kampung dengan udara yang sejuk membuat semuanya merasa nyaman, segar, dan lainnya.
Senja berlari kecil bersama Shena, keduanya tersenyum lebar menikmati indahnya alam.
Di kota, Laura terus membantu suaminya agar perusahaan milik mereka kembali bangkit, dia terlihat sangat serius saat mengerjakan apa yang suaminya perintah. Tak hanya itu saja, Laura juga begitu telaten merawat ibunya yang masih terbaring dikasur. Ungkapan terimakasih terus menerus keluar dari mulutnya kepada sang suami, Pak Arya pun sudah melupakan perselingkuhan istrinya itu dengan Daniel. Lagipula dia percaya kepada Laura bahwa perempuan tersebut benar-benar berubah.
Kembali ke villa, kini Biru beserta yang lain sudah sampai di bawah. Para warga semuanya bersikap ramah, selalu mengulas senyum membuat orang-orang kota itu merasa senang dan tersanjung. Seorang nenek yang bawa kayu bakar hampir saja terjatuh ke tanah, untungnya Lea dengan sigap dan cepat menarik tangannya. Si nenek mengucapkan terimakasih, kakinya tadi tersandung sekaligus keberatan membawa semua barangnya.
Bima semakin suka kepada Lea, sikapnya yang dingin namun hatinya hangat. Dia terus memuji kecantikan Lea serta kesopanannya di depan para sahabat.
“Sekarang lu tahu kan Daf siapa cewek yang gue suka itu?” ujarnya. Daffa hanya tersenyum tipis sembari mengangguk, kemudian berjalan duluan meninggalkan teman-temannya, dia pergi menyusul Senja dan Shena.
“Si Daffa kenapa Bin, Leo?” tanya Bima heran.
“Lah mana kita tahu,” jawab Leo.
“Dari kemarin mukanya murung, padahal padahal pas awal berangkat dia seneng banget wajahnya,” sambung Bintang.
“Coba deh lu tanya langsung sama dia Bin, bicara berdua apa yang sebenarnya terjadi sampai membuat dia nggak semangat,” seru Seon berbisik pelan kepada Bintang.
“Maksud lu?” tanyanya. Seon menggeleng lalu berjalan duluan, Bintang penasaran apa yang di maksud Seon barusan. Ada apa dengan Daffa? Dia juga merasa heran akan sikap sahabatnya itu yang mendadak bad mood.
Di depan sana, Senja bertanya kepada Daffa mengapa tidak bergabung dengan para cowok. Jawaban sahabatnya itu hanya gelengan kepala saja, dia tidak berbicara sedikit dan hanya mengulas senyum saat Shena melihatnya. Di saat sedang istirahat disebuah warung sekaligus sarapan, Lea dan Bintang secara bersamaan memesan makanan yang sama. Tak hanya itu, minuman pun mereka sama. Jantung Lea berdegup kencang apalagi dia duduk bersebelahan dengan sahabat kakaknya.
__ADS_1
Selesai makan, Shena mengajak Pram dan Senja melihat seekor domba. Gadis kecil itu terus memegang lengan mereka, membuat keduanya tidak bisa pergi untuk berpacaran. Bintang memandangi Senja dari kejauhan, melihat gadis yang dicintai tersenyum saja sudah membuatnya senang walau bersama orang lain. Seon yang mempunyai rasa juga pun hanya bisa melihat kemesraan mereka berdua, dia dapat melihat sosok Pram yang tulus dan baik.
“Leo! Temen lu yang itu cakep ya,” ujar Lea pelan kepada kakaknya.
“Yang mana?” tanyanya. Leo melihat teman-temannya yang duduk berpencar.
“Itu loh yang pake topi hitam, Bintang kan namanya?”
“Ohh..., lu suka sama Bintang?”
Lea menunduk malu, pipinya merah saat sang kakak berkata demikian. Lalu Leo menyarankan si adik untuk tidak menyukai Bintang, sebab cinta sahabatnya itu hanya untuk Senja. Tak lupa Leo juga bercerita jika di sekolah banyak sekali para siswi yang mengejar, namun tak ada satu pun yang bisa membuat hati dingin Bintang terbuka. Lea hanya mengangguk, mendengarkan cerita kakak tirinya.
“Emang pantes sih dia banyak yang suka, geng lu kan golongan orang pintar, populer di sekolah. Fans lu aja di Instagram banyak banget.”
“Udah pernah, tapi sayang ditolak. Senja udah anggap dia sebagai saudaranya. Nggak lebih, lagipula dia sekarang udah jadian sama Pram.”
“Sakit banget pasti hatinya Bintang, cinta dia cuman bisa dipendam entah sampai kapan itu. Di lihat-lihat juga kayaknya pacar Senja setia dan penuh kasih sayang,” ucapnya.
Obrolan keduanya terpotong karena kedatangan Bima. Cowok itu langsung duduk di samping Lea dan mulai menggodanya. Beberapa gombalan sudah Bima ungkapkan olehnya, namun tidak ada satu pun kata-katanya membuat Lea tersenyum. Dia menghela napas, lalu entah dari mana datangnya seekor angsa langsung menyosor kepadanya. Hal itu seketika membuat Lea tertawa, yang awalnya ingin marah dia urungkan.
“Leo, temen lu yang ini lucu banget deh.”
“Lucu darimana yang ada ngeselin. Ya suka jahil juga sih kadang,” jawabnya.
__ADS_1
Arka dan Galang menggoda Biru, pengantin baru tersebut tak henti-hentinya mengumbar kemesraan di depan mereka semua. Mereka juga kembali melihat tingkah bucin Biru yang sudah lama hilang. Silla perempuan beruntung yang bisa mendapatkan hati si mantan ketua osis tersebut. Echa tersenyum senang melihat Biru sudah menemukan cinta sejatinya. Dalam hatinya masih ada rasa bersalah karena dulu tidak memperjuangkan cintanya, dan dia malah menerima Bara tanpa menjelaskan apapun kepada Biru.
Para remaja yang tengah berkumpul bersama itu melihat beberapa anak kecil yang sedang memancing, Bima mengajak teman-temannya untuk menghampiri anak kecil tersebut, dia ingin ikut bermain dan memancing. Dalam hidupnya Senja dkk tidak pernah melakukan apa yang anak kampung lakukan. Mereka selalu sibuk dengan motornya. Waktu kecil pun Senja dkk hanya menghabiskan waktu dirumah, bermain di halaman depan.
“Ini gimana caranya dek?” tanya Leo. Dia serta yang lain mencoba memegang seekor cacing, namun baru saja menyentuhnya sedikit Senja dkk sudah bergidik geli. Melihat ada ranting di sampingnya, muncullah ide jahil dari kepala Bima.
“Boleh kakak minta satu cacingnya?”
“Iya kak, ambil aja.”
Bintang, Daffa, Seon, Pram serta yang lain bergidik geli saat melihat Bima mencoba mengambil cacing itu dengan ranting. Saat sedang serius melihat sang sahabat, tiba-tiba saja cacing yang Bima ambil itu terlempar ke arah mereka. Dia sengaja melakukannya, Senja dkk pun berlarian sedangkan dirinya malah tertawa terbahak. Bintang kesal akan tingkah sahabatnya, dia ingin marah akan tetapi melihat Bima yang berusaha mengambil cacing lagi.
“Woy! Senja, Bintang, cupu lu! Masa sama cacing aja takut tapi sama preman berani.”
“Bima, lu mau gue hajar hah? Gue tahu lu juga takut sama tuh hewan, buktinya lu pegang pake ranting bukan sama tangan.”
“Kata siapa? Gue berani kok,” ucapnya dengan percaya diri, padahal aslinya dia juga merasa geli.
Lea yang berada di samping anak-anak kampung berbisik pelan. Tak lama mereka mengambil cacing yang cukup besar lalu menyuruh Bima membuka telapak tangannya. Seketika cowok itu menjerit keras dan berjingkrak, di belakangnya terdapat sebuah empang tak sengaja Bima jatuh ke bawah. Senja dkk pun giliran tertawa terbahak melihat Bima yang basah kuyup.
“Azab, mampus lu!”
“Sialan!”
__ADS_1