
Beberapa jam kemudian, bel istirahat berbunyi. Pram menghampiri meja Senja, dia mengulas senyum manisnya. Sepertinya lelaki itu sama seperti Biru, sekali senyum bisa membuat para perempuan meleleh dibuatnya. Pram duduk disamping Senja, berbisik memanggil gadis itu dengan sebutan sayang. Bima yang tak sengaja mendengar pun mulai usil.
“Daffa sayang, ke kantin yuk.”
“Sehat?” tanya Daffa sembari memegangi kening Bima. Dipegang seperti itu sang sahabat pun semakin menjadi, dia menggenggam lengan Daffa dan menaruhnya di dada.
“Amit-amit! Dasar Bim kita sama-sama laki, please jangan belok, gue masih doyan cewek.”
Anak-anak yang masih berada didalam kelas bergidik melihat Bima, mereka merasa geli akan tingkah cowok tampan tersebut. Leo yang tak mau kalah pun mencoba menggoda Bintang, namun sayang dia salah orang. “Nggak usah ikut-ikutan!” ujar Bintang dingin. Seketika Leo pun langsung terdiam, dia menelan ludahnya dan tidak menggoda Bintang lagi. Senja bersama Pram hanya tertawa melihat kelakuan teman-temannya.
Selesai bercanda mereka berenam pergi menuju kantin, dalam perjalanan Bima kembali dengan tingkah randomnya. Sepanjang perjalanan dirinya selalu memegang tangan Daffa membuat sahabatnya merasa risih. Para siswi yang melihat pun hanya bisa menahan tawa. Sesampainya di kantin, kini Daffa lah yang menggoda Bima. Cowok itu meminta dibelikan semangkuk bakso dengan nada suara lembut tepat ditelinga.
Bima menelan ludahnya mendengar suara sang sahabat yang seperti mendesah. Seketika bulu kuduknya berdiri sedangkan kelima teman lainnya tertawa bersama. “Jago juga lu bikin si Bima diam,” ujar Leo.
“Tahu tuh padahal gue cuman ngomong pelan doang, tapi kok kayak ketakutan ya?” ucap Daffa. Tak berapa lama makanan mereka pun sampai. Meja yang biasanya dihiasi canda tawa kini malah diperlihatkan pemandangan romantis antara Senja dan Pram. Bima dkk menghela napasnya kasar saat melihat Pram menyuapi sang sahabat.
Leo berdiri bersama Daffa, mereka ingin pisah meja dengan sepasang kekasih itu. Keduanya tidak sanggup melihat keromantisan itu. “Pindah guys, pindah! Nggak aman kalo kita satu meja. Cabut..., cabut.” Satu persatu para sahabatnya pindah meja. Senja tidak memperdulikan itu semua, dia pokus kembali dengan makanan di depannya.
Di meja sebelah, Bima mulai membuka obrolan. Cowok tersebut senang sekali mengajak teman-temannya untuk berghibah. Topik yang mereka bahas adalah sahabatnya sendiri. “Bisa bahaya nih kalo kita ikut tuh dua orang terus, mata nggak aman lihat keromantisan mereka,” ujar Bima.
__ADS_1
“Jiahh jomblo! Makanya cari pacar biar aman tuh mata,” seru Leo. Bima menatap tajam temannya, lalu menyuapi Leo bakso dengan sedikit kasar. Bukannya marah dia malah menganga meminta kembali untuk disuapi. Bintang menggelengkan kepalanya. “Dosa apa gue punya temen kayak mereka?” ucapnya pelan. Daffa, Bima dan Leo langsung meliriknya.
Kembali ke meja Senja, gadis itu masih menikmati makanannya bersama sang kekasih. Setelah habis keduanya mengobrol bersama, tidak lama kemudian datanglah murid baru yang pernah Leo dan Bima bicarakan. Tanpa berkata apapun dia langsung duduk disamping kiri Senja dan mengulurkan tangannya. Mengajak gadis cantik disebelah untuk berkenalan.
Senja menyipitkan matanya, dia belum pernah melihat cowok tersebut selama ini. Bukannya menerima uluran tangan itu dia malah bertanya. Bintang, Daffa serta kedua teman lainnya melihat dari kejauhan.
“Siapa tuh cowok?” tanya Bintang penasaran.
“Dia Aldrian, katanya cowok terkaya disekolah. Seorang selebgram yang mempunyai banyak fans,” jawab Bima tanpa melirik pada teman-temannya, dia terus pokus ke arah meja Senja. Pram yang berada di sana berniat mengajak sang kekasih pergi, dia sudah menarik lengannya namun dihentikan oleh si murid baru, Aldrian.
Cowok tersebut meminta Pram menunggu karena dirinya akan meminta nomor ponsel Senja terlebih dahulu.
“Sorry! Gue nggak punya handphone,” jawab Senja dingin.
Lagi dan lagi saat akan pergi tangannya selalu dicegah. Senja menghela napas kasar, kesabarannya sudah mulai menipis. Ingin rasanya gadis itu membentak dan memelintir tangan Aldrian, tapi belum sempat melakukan hal itu Bintang bersama yang lain datang, mengajak Senja dan Pram pergi. “Mereka ada urusan sama kita,” ucapnya dengan raut wajah datar. Aldrian menyipitkan mata bertanya pada teman di sebelah siapa keempat cowok tadi.
Temannya pun menjelaskan jika keempat cowok itu adalah para murid populer, sahabat dari Senja. Anak-anak yang banyak dikagumi oleh siswa-siswi lain serta menjadi kesayangan para guru. Aldrian hanya mengangguk- angguk kepalanya saja. Di lapangan, karena tidak ada siswa yang bermain basket mereka berenam pun duduk santai ditengah. Disela perbincangan Bintang menasihati Senja dan Pram. “Mau apapun masalahnya jangan pernah lu berdua memutuskan hubungan! Sepertinya nggak akan lama bakal ada sebuah guncangan dalam masalah cinta kalian, gue berharap jangan saling egois, harus saling percaya satu sama lain.”
Bima, Leo dan Daffa menganga tidak percaya jika Bintang dapat berbicara demikian. Dia benar-benar lelaki yang dewasa, memberikan sebuah nasihat pada gadis yang dicintainya. Walau perasaan dia tidak terbalaskan akan tetapi Bintang selaku bersikap baik, dia tak membawa masalah cinta pada persahabatannya. Pram mengucapkan terimakasih, berkat dukungan dari Bintang dia kembali percaya diri mendapatkan Senja.
__ADS_1
“Maaf ya Bin, gue nggak bisa balas cinta lu,” gumam Senja. Gadis itu tersenyum tipis ke arah Bintang.
“Ya udah guys, masuk yuk bentar lagi bel masuk. Oh iya, gue mau minta bantuan sama lu semua dong, boleh nggak?” ujar Daffa.
“Apaan?” seru mereka serentak.
“Mulai besok gue bakal jualan disekolah, kebetulan udah izin dan dibolehin.”
“Hah? Seriusan lu mau jualan?”
“Jualan apa emangnya?” tanya Leo.
Daffa memberitahu kelima temannya jika dia akan berjualan makanan ringan serta minuman. Tempat telah tersedia, kepala sekolah sendiri yang membantunya menyiapkan tempat dagangan. Pak kepsek tahu jika ekonomi Daffa sedang tidak baik, apalagi siswanya itu hanya hidup seorang diri tanpa ada orang dewasa yang mengurus.
“Gue saranin ya Daf, anak-anak sekolah itu paling suka sama jajanan pedes,” ucap Senja serius.
“Nah itu dia, gue emang mau jualan makanan pedes. Jajanan kekinian gitu, kalo kalian bisa sih bantu gue sebelum pelajaran dimulai dan saat jam istirahat.”
Bintang merangkul Daffa, dia tersenyum dan bersedia membantu. “Sebuah persahabatan bukan hanya untuk bermain bersama tetapi saling membantu juga. Kalo ada salah satu dari kita yang kesusahan jangan sungkan atau ragu buat ngomong, ingat yang gue bilang dulu. Kita adalah saudara, keluarga.”
__ADS_1
“Makasih ya guys.”
“Jangan malu karena berjualan, Om Biru aja dulu juga kayak gitu, dia berusaha keras untuk masa depannya. Mulai dari usaha kecil dan sekarang dia memiliki banyak cabang, usaha nggak akan mengkhianati hasil. So, apapun perkataan orang tentang lu jangan pernah di dengerin, anggap saja omongan mereka hanyalah angin lewat,” sambung Senja.