
Di keesokan harinya, seperti biasa Senja dkk berangkat ke kampus. Mereka kembali menyimpan motor masing-masing diwarung kemarin. Semua para mahasiswa dikumpulkan dilapangan lagi, Senja menguap matanya terasa berat. Ingin sekali gadis tersebut memejamkannya. Salah satu senior wanita menghampiri dan menutupi mulut Senja dengan buku. Memintanya pergi ke toilet mencuci wajah.
Dengan muka datar Senja pun berjalan pergi, ketika sudah sampai kamar mandi tak sengaja bertemu dengan seorang cowok yang baru saja keluar dari toilet membuat Senja terkejut. Pasalnya itu kamar mandi wanita. Saat akan berbicara seorang perempuan keluar dan mengajak cowok tersebut pergi. Tak lama kemudian dia kembali lagi ke lapangan.
Senja satu kelompok dengan para cewek yang cerewet, anggotanya tersebut begitu repot akan make-up diwajahnya yang mulai luntur akibat dijemur seharian. Merasa berisik akan ocehan mereka semua, dia pun secara tegas memintanya untuk diam. Akan tetapi perkataan Senja tidak dihiraukan, justru anggotanya itu malah semakin menjadi.
“Make-up luntur doang rempong banget, cerewet! Bisa-bisanya gue satu kelompok sama manusia-manusia kayak gitu,” ucap Senja kesal. Tak sengaja melihat kelima temannya tengah berkumpul bersama dibawah pohon. Gadis itu pun berjalan menghampirinya.
Dia menghela napasnya berat dihadapan Daffa CS. Mengambil botol minum milik Pram lalu menenggaknya tanpa meminta terlebih dulu. Gorengan yang akan Bima santap pun gadis itu ambil, tidak peduli teman-temannya menatap tajam. “Enak banget lu ambil makanan kita. Ngapain ke sini? Gabung sana sama kelompok lu,” ujar Bima.
“Berbagi itu indah bapak Bima yang terhormat. Dan iya, gue pusing satu kelompok sama Mak rempong kayak mereka. Berisik banget,” jawabnya sembari melihat ke arah para perempuan itu.
Belum selesai berbicara waktu istirahat mereka pun telah habis. Terpaksa harus kembali berkumpul dan dijemur, salah satu senior terus mencuri pandang ke Daffa membuat sahabat Senja tersebut merasa tidak nyaman.
Siang harinya, tepat pukul 14.00, mereka semua dipersilakan istirahat lagi. Kini Senja mengajak kelima temannya pergi ke warung yang ada diluar kampus tempat motor mereka. Ketika akan keluar, cowok kemarin pagi menghentikannya.
“Apa gunanya kantin di sini kalo masih jajan diluar,” sindirnya.
Dengan kompak Senja CS berbalik badan. Bima cengengesan sambil menggaruk kepala, tidak mau bermasalah dia pun mengajak teman-temannya jajan dikantin. Membatalkan niatnya makan diluar.
“Bro! Thanks ya udah menangin balapan semalam.”
“Iya sama-sama, traktir gue sekarang.”
__ADS_1
Dua cowok tampan itu menatap Senja CS yang masih berdiri. Ketika di tatap keenam orang tersebut langsung membubarkan diri, sambil berjalan menuju kantin Bima menceritakan kejadian semalam yang hampir saja dirinya serta yang lain tabrakan. Sesampainya ditempat makan, mereka duduk dimeja pojok. Kehadiran Senja di kelima cowok tampan itu membuat orang-orang berbisik. Tidak di sekolah tidak di kampus, mereka menjadi sorotan publik.
Kebetulan dari kampus itu terdapat sekelompok geng yang isinya anak-anak VIP, orang kaya. Mereka mendengar bisikan para maba yang memuji ketampanan dan kecantikan Senja CS, membuatnya penasaran lalu pergi ke kantin untuk melihat. Sedang asik-asiknya menikmati makanan, meja mereka didatangi oleh orang tak dikenal.
“Lumayan, lu cewek sendiri?”
Senja mengangkat kepalanya melihat ke arah orang yang berbicara. Bukannya menjawab tapi gadis itu hanya menatap lalu kembali fokus pada makanan. Senior wanita bernama Nasya tersenyum karena pertanyaan dirinya tak dijawab, dia duduk tanpa disuruh. Merangkul Senja dan merapikan rambut gadis tersebut. Daffa, Seon serta lainnya beranjak, menyimpan uang di atas meja lalu mengajaknya pergi.
“Mantan lu kayaknya tertarik sama tuh para maba,” ujar Gio.
“Nggak peduli, udah nggak ngurusin mantan,” jawab Gibran.
“Apa itu mantan? Gue nggak tahu tuh, iya nggak Gib?” seru Thalia.
Dia tidak menyangka bakal ada banyak orang menyebalkan dalam kampusnya. Orang-orang yang sok-sokan berkuasa hanya karena mahasiswa VIP. “Kepopuleran kita hilang setelah masuk nih universitas,” ujar Leo sembari merapikan rambutnya.
“Gue nggak peduli, jadi diri sendiri lebih baik.”
“Bener kata Daffa, cukup di SMA kita populer. Lu emangnya kagak capek?” sambung Senja.
“Btw si Bintang sekarang lagi ngapain ya di sana? Udah nelpon ke lu belum Sen?” seru Seon.
“Belum nelpon dari semalam. Sibuk mungkin, padahal gue kangen sama dia. Mana masih lama lagi buat ketemu,” jawabnya.
__ADS_1
“Mamam tuh LDR-an. Harus kuat ya Bu, berdoa terus biar tuh anak nggak kecantol bule di sana,” ledek Bima.
Tiba-tiba Senja ingin ke toilet. Dia menitipkan almamaternya kepada Pram dan berlari pergi. Setelah beberapa menit, dia keluar dan bertemu Nasya. Perempuan yang dirinya lihat saat dikantin tadi. Langkah kakinya terhenti setelah senior itu memanggilnya. Senja berbalik badan, mengangkat sebelah alis. Ternyata Thalia hanya ingin memberikan tissue.
Dia tersenyum sangat manis, wajahnya yang kecil dan memilki gigi ginsul. “Boleh kenalan nggak?”
“Nama gue Thalia,” ucapnya sambil menjulurkan tangan.
“Tahu kok, tuh lihat di nametag. Gue Senja.”
Setelah berkenalan sebentar gadis itu pergi meninggalkannya. Nasya tersenyum melihat kepergian juniornya tersebut. “Menarik, tipe Gibran nih cewek.”
Pada malam harinya pukul 19.30, Senja berpamitan kepada sang Mama untuk pergi bermain. Laura memberikan kunti motor putrinya, dia juga berpesan kepada Senja untuk tidak pulang larut malam. Gadis itu mengacungkan jempol, dia mengeluarkan motor lalu menyalakan mesinnya. Tujuan awalnya adalah datang kerumah Daffa, lama tidak berkunjung karena sahabatnya tersebut sudah memiliki teman dirumah yang tak lain Sasa.
Dulu Senja dan Biru akan datang ke sana untuk menemani, mereka tahu jika Daffa merasa kesepian dirumahnya. Tapi sekarang cowok tersebut terus terlihat happy. Di sana Senja mengobrol dengan mantan musuh Omnya, dia mengucapkan terimakasih karena Sasa telah merawat Daffa, menjaga dan menyayangi. Hidup tanpa adanya orang tua pasti membuat seorang anak sedih, apalagi keluarga Daffa semuanya telah tiada. Cowok itu tinggal seorang diri harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apa jadinya jika tidak ada orang yang peduli terhadapnya.
“Lu nggak pergi kumpul sama yang lain Sen?” tanya Daffa dari arah belakang sambil membawa cemilan.
“Nanti jam setengah sembilan gue ke sana. Sekarang main dulu kerumah lu Daf, hebat ya udah bisa beli rumah baru. Kagum gue sama lu,” jawabnya.
“Kerja keras nggak mengkhianati hasil, sukses terus ya Daf, gue bangga punya sahabat kayak lu.”
“Keberhasilan gue ini juga atas doa dari kalian. Dukungan lu dan yang lain berpengaruh dalam kerja keras gue buat berdagang.”
__ADS_1
“Kira-kira Bintang lagi ngapain ya Daf? Kok dia belum ngasih kabar juga sih,” ucapnya. Daffa menggeleng, gadis itu masih saja menunggu kabar dari sang kekasih, begitu rindu Senja kepada Bintang.