
Theo segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sedangkan yang lain hanya mengangkat kedua bahunya, setelah itu mereka membubarkan diri. Di malam harinya Biru datang kerumah, dia bersama anak serta istrinya ingin membicarakan sesuatu dengan Laura. Senja duduk ditengah antara sang Mama dan Nenek. Lalu topik pertama pun mulai dibicarakan, maksud dan tujuannya.
Biru menjelaskan pada Laura jika salah satu kedai miliknya akan diberikan pada Senja. Dia tahu semenjak tidak adanya Pak Arya, keuangan keluarga ponakannya semakin mengurang. Belum pengobatan untuk Sea, lahiran anaknya walaupun masih lama. Kebutuhan sehari-hari, dan juga uang kuliah. Senja sendiri tidak pusing akan biaya pendidikannya sebab dari dulu gadis itu sudah mempunyai tabungan yang menurutnya cukup banyak. Jika uang tersebut mulai habis maka dia bisa memanfaatkan otaknya, kembali membuat karya seni atau bakatnya yang lain.
Laura melirik pada sang putri, dia ingin tahu jawaban Senja tentang kedai Omnya yang akan diberikan padanya. Cukup lama Senja berpikir, dia sebenarnya enggan menerima pemberian Biru. Demi menghargai niat sang Om, Senja pun mengangguk menerima kedai cake.
“Bagus kalo gitu, Om mau kamu lanjutkan kedai cake itu. Kamu juga bisa bekerja sama dengan cafenya Bintang, kalian usaha bareng-bareng.”
“Makasih Om, Tante Silla.”
“Eum...Om juga nggak maksa sih mau kamu melanjutkan usaha cake atau membuat usaha lain. Itu terserah kamu Senja, Om hanya bisa mendukung saja, dan kalo kamu memutuskan usaha yang berbeda dari sebelumnya nanti Om akan suruh orang untuk membereskan alat-alat dan barang lainnya.”
“Iya nanti Senja pikir-pikir lagi,” jawabnya.
__ADS_1
Memberikan satu usahanya pada Senja tidak akan membuat Biru jatuh miskin. Dia sudah banyak memilki cabang, Shena sang ponakan juga mendapatkan satu kedai, dan itu akan diganti nama ketika anak Ara tersebut beranjak dewasa. Semua telah di atur sebelumnya juga sudah dibicarakan dengan baik bersama sang istri.
Senja memperhatikan bayi yang digendong Silla. Bayi itu tersenyum saat melihat gadis cantik yang menatapnya. Silla memberikan putranya kepada Laura, betapa senangnya wanita tersebut saat menggendong bayi kecil, Laura sendiri ingin memilki anak tapi dia sudah tak mempunyai suami. Menikah lagi takut putri tirinya tidak setuju, dia tak mau membuat masalah dengan Senja. Keadaan yang sekarang sudah cukup membuatnya bahagia.
Di tempat lain, Bintang mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia tersenyum melihat cafe yang banyak pengunjung, lalu merogoh saku jaket mengambil ponsel, belum ada pesan ataupun telpon dari sang kekasih. Banyak para perempuan datang hanya untuk melihat si pemilik cafe, mereka penasaran akan wajah Bintang, menurut orang-orang sangat tampan. Para adik kelasnya dulu juga tak henti-hentinya bergosip.
Lea yang lama tak berkumpul lagi pun datang bersama kakaknya. Membuat Daffa serta Bima kembali merasakan getaran dalam hati mereka berdua. Pasalnya adik Leo tersebut semakin terlihat cantik, tampang tomboynya sedikit berkurang dan bisa dibilang jika kini gadis itu nampak feminim. Selalu mengenakan rok atau dress, berbeda seperti dulu yang mirip Senja.
Bima berjalan mendekat pada Lea, dia mulai beraksi lagi dengan memberikan gombalan. Sedangkan Daffa hanya memperhatikan, dia sudah berusaha melupakan adik Leo itu namun sekarang malah datang kembali. Tak lama Pram bersama Seon datang ke cafe, mereka berdua terlambat karena Ara menahannya pergi.
Paris selalu menceritakan kisah dari lima remaja itu, muridnya waktu SMA kepada sang istri. Dia merasa bangga, karena sekarang sudah dapat terlihat masa depan yang cerah dari anak-anak tersebut. Kini nama Senja dkk selalu di bicarakan oleh guru-guru saat mengajar, memberitahu murid-murid lain. Sudah banyak prestasi yang di raih oleh mereka, dari bidang olahraga, seni serta lainnya.
“Jaman sekarang anak-anak remaja seperti mereka yang mau berusaha sendiri juga bekerja keras hanya sedikit. Gengsi, rasa malu tidak berpengaruh dalam dirinya,” seru Paris.
__ADS_1
“Dan kebanyakan juga remaja seusia mereka hanya bisa menghabiskan uang orang tua, menghamburkannya dengan shopping, berpesta, kumpul ditempat mewah untuk kebutuhan media sosial,” lanjut Sasa.
“Bukan sekarang aja sih, tapi dulu juga gitu. Seperti aku dan kamu yang selalu membuang-buang uang orang tua, itu semua kita jadikan sebuah pelajaran, beritahu anak-anak serta ajarkan bagaimana caranya berhemat. Tapi sepertinya Senja, Daffa dan yang lain sudah bisa dengan caranya sendiri, mereka selalu berpikir terlebih dahulu jika melakukan sesuatu.”
Sepasang suami istri begitu serius mengobrol. Gibran sedikit mendengarkan perbincangan keduanya, dia tidak menyangka jika Senja dkk ternyata anak-anak yang dibanggakan banyak orang. Rasa kagumnya terhadap geng motor tersebut semakin bertambah, walau terlihat berandal tapi tidak membahayakan orang lain. Sasa yang sadar Gibran menguping pun langsung memanggilnya.
“Kamu pulang aja udah malam juga, Mama kamu masih sakit kan? Balik lagi ke sini kalo dia udah baikan, jaga dia dulu. Saya sama Paris mengizinkan kamu libur sementara.”
“Nggak perlu Tante, sekarang kondisi Mama saya sudah cukup membaik dan ada asisten juga yang menjaga.”
“Bukannya Ayah kamu salah satu orang terkaya, dia juga selalu berdonasi banyak ke universitas tempat kamu kuliah, kenapa mau bekerja. Apa tidak cukup uang jajan yang diberikan?” tanya Paris.
“Saya ingin menghasilkan uang dari hasil kerja keras sendiri, usia saya sudah 22 tahun waktunya mandiri tidak merepotkan orang tua lagi. Dan tadi setelah mendengar perbincangan kalian berdua tentang Daffa serta teman-temannya saya menjadi semakin bersemangat, ingin mencontoh seperti mereka.”
__ADS_1
“Apa orang tua kamu akan setuju?”
Gibran mengangguk, dia percaya jika kedua orang tuanya pasti akan mendukung apa yang akan dirinya lakukan. Lagipula sekarang sang Ayah telah kembali seperti semula, bersikap baik dan membiarkan anaknya melakukan apa yang disuka. Itu semua permintaan dari si istri, begitu cinta dia pada Mama Gibran. Tidak mau membuatnya kembali sakit, dia merasa menyesal karena telah mengusir anak semata wayangnya pergi hanya untuk kepentingan pribadi, agar perusahaan yang dimiliki bisa bergabung dengan punya orang tua Melissa. Kini hubungan mereka juga sudah tidak terlalu dekat, Ayah Gibran membatalkan semuanya.