
Tangis Daffa pecah setelah tahu sang nenek tidak bernapas lagi. Dia memeluk wanita tua itu dengan sangat erat, lalu merogoh ponselnya untuk menghubungi Senja. Suaranya begitu berat saat didengar oleh sang sahabat, dia memberitahu jika neneknya meninggal dunia.
Senja yang kaget langsung bangkit dari tidurnya, dia bergegas mengambil jaket serta kunci motor. Saat akan mengambil kendaraannya, tiba-tiba saja ada Laura yang menghalangi.
“Minggir lu!” ujar Senja.
“Mau kemana? Gue aduin ke bokap lu!” serunya. Dia berusaha mencegah Senja agar tidak pergi.
“Terserah! Sana ngadu sama Papa, gue nggak peduli.”
“Oh okay kalo itu mau lu, bakal gue aduin,” jawabnya sembari tersenyum. Setelah itu Laura pergi meninggalkan Senja, dia kembali ke kamarnya untuk mengadu kepada sang suami.
Tak butuh waktu lama Senja pun sampai dirumah Daffa. Terlihat belum ada siapapun di sana, masih sepi hanya nampak pemilik rumah saja. Senja memeluk Daffa, cowok itu menangis, hatinya benar-benar sakit kehilangan orang yang paling dia sayangi, orang terakhir yang selalu ada untuknya. Air mata mengalir begitu saja dipipi Senja, dia ikut sedih mendengar tangisan berat sang sahabat.
“Sabar ya Daf, lu nggak sendiri kok. Masih ada gue dan yang lain, mungkin ini jalan terbaik buat nenek lu, biar dia nggak tersiksa karena sakitnya. Dan dia juga nggak bakal suka kalo lu nangis,” ungkapnya menenangkan Daffa dalam pelukannya.
Daffa melepaskan pelukannya, sedangkan Senja menelpon Biru memberitahu berita kematian nenek sahabatnya. Pukul 01.00, sang Om datang dan langsung memeluk Daffa, menyuruh cowok itu untuk sabar dan tegar. Sekitar jam 4 pagi Daffa pergi kerumah Pak RT ditemani Senja. Setelah itu berita kematian pun diumumkan di masjid.
Dikediaman Pak Arya, lelaki tua itu tengah duduk disofa menunggu kepulangan sang putri. Ternyata Laura benar-benar melaporkan kepergian anak tirinya pada si suami. Sudah beberapa kali menelpon putrinya, namun tidak pernah aktif. Senja sengaja mematikan ponselnya karena ingin pokus akan Daffa. Dia juga tidak mau ketiga temannya bertanya kemana dirinya pergi, itu semua permintaan dari sang sahabat. Daffa masih ingin merahasiakan kehidupannya dari Bintang, Bima juga Leo.
Hari ini Senja dan Daffa tidak pergi kesekolah. Sedangkan ketiga sahabatnya sudah menunggu kehadiran mereka berdua diparkiran. Namun sampai bel masuk berbunyi, tidak nampak batang hidungnya satupun. Bima bertanya-tanya kemana dua temannya itu pergi?
Di dalam kelas, Pram terlihat sedang mencari seseorang. Dia selalu melirik ke meja Senja, gadis yang dirinya sukai.
__ADS_1
“Daffa, Senja kemana sih? Kompak banget nggak pergi kesekolah,” ujar Bima pelan.
“Entah! Nanti deh pas istirahat lu telpon mereka berdua,” jawab Leo berbisik.
Paris yang tengah menjelaskan pelajaran, tak sengaja mendengar perbincangan dua anak muridnya. Lalu dia menyuruh Bima dan Leo untuk berdiri menjelaskan ulang apa yang diucapkan dirinya tadi. Tanpa Paris duga, kedua cowok tersebut dapat melakukannya, para murid lain hanya mengangguk karena sudah biasa dengan kepintaran geng Senja.
Sang guru pun menyuruh mereka kembali duduk. Keduanya menghela napas bersamaan lalu tersenyum. Baru saja akan memulai pelajaran lagi, seorang guru datang mengetuk pintu menghentikan pembelajaran. “Anak-anak, bapak ada berita penting. Hari ini keluarga siswa dari kelas kita ada yang meninggal dunia. Bapak dan guru-guru lain akan datang ke rumah siswa itu untuk berbelasungkawa.”
“Sekolah tidak akan dipulangkan, kalian tunggu sampai para guru kembali. Kerjakan soal yang ada dibuku halaman 207,” sambungnya.
Bima mengacungkan tangannya, dia menanyakan siapa keluarga siswa yang meninggal itu. Paris pun menyebutkan nama Daffa, nama orang yang Bima dkk kenal. Ketiga cowok itu langsung menelan ludahnya.
“Kita ikut Pak!” ujar mereka serentak. Bintang, Bima dan Leo berdiri dan ingin ikut kerumah Daffa untuk melihat keadaan sahabatnya. Namum sayang, mereka tidak diizinkan pergi.
Bintang dan Bima melirik kearah yang ditunjukkan oleh Leo. Sesampainya dikediaman Daffa, Bima dkk terkejut saat melihat keberadaan Senja dan Biru. Begitu juga dengan sahabat perempuannya, dia tidak menyangka jika Bintang datang kerumah Daffa.
Mata ketiga cowok itu menatap tajam Senja, mereka seperti ingin meminta penjelasan mengapa dia tidak memberitahu soal kematian keluarga sahabatnya.
Daffa yang baru keluar pun ikut terkejut dengan adanya para sahabat. Leo berjalan maju mendekat padanya, mereka bertiga merangkul Daffa, mengelus pundaknya dengan lembut. “Turut berduka cita ya.”
“Makasih guys!”
Para guru baru sadar jika ada ketiga muridnya yang bolos sekolah. Namun mereka membiarkannya karena mungkin ingin menenangkan sang sahabat, guru-guru sudah tahu bagaimana persahabatan antara Senja, Daffa dan ketiga cowok lainnya. Jenazah sudah siap untuk di makamkan, semua pergi mengantarkan nenek Daffa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Setelah semuanya selesai, para warga dan guru mulai berpamitan. Kini hanya tersisa dirinya, Senja, Biru juga Bintang dkk.
__ADS_1
“Sorry guys, gue nggak ngasih kabar duka ini sama kalian bertiga,” ucap Senja meminta maaf. Dia melirik kepada Daffa yang menundukkan kepala.
“Kita sahabat Sen, Daf. Kenapa harus ada rahasia sih diantara kita berlima? Lu berdua anggap kita bertiga itu apa?” seru Bima.
“Maaf...,” sahut Daffa lirih.
“Ya udah Om pulang dulu, nanti sore ke sini lagi buat bantu-bantu,” potong Biru. Senja mengangguk, dia meminta sang Om untuk memberitahu Papanya bahwa dia tengah berada dirumah teman.
Mereka berlima kembali melanjutkan obrolannya. “Lain kali kalo ada apa-apa jangan sungkan buat bilang. Khusus lu Daf, kenapa nggak jujur ke kita? Apa lu takut setelah identitas keluarga lu terbongkar kita semua bakal menjauh? Sebuah persahabatan tidak memandang kaya atau miskin, kita semua udah seperti keluarga.”
“Udah-udah, gue juga salah di sini,” seru Senja.
“Makasih Bin, gue benar-benar beruntung punya kalian.”
Di sekolahan, Pram merasa sendiri dan sepi karena tidak ada geng Senja yang selalu membuat lelucon dikelas. Sampai pelajaran usai dan bel pulang berbunyi, dia masih belum melihat kembali Bintang dkk. Motor mereka juga masih berada diparkiran.
Melihat kepulangan putranya yang murung, Bu Miya menghampiri dan bertanya-tanya tentang sekolahnya. Pram mengeluh lelah pada sang Mama, dia meminta Bu Miya untuk membuatkan makanan favoritnya. Saat sedang menyiapkan bahan untuk memasak, bel pintu depan berbunyi. Bu Miya menyuruh Pram membukakan pintu, setelah itu nampak lah Ara bersama sang anak.
“Langit ya?”
“Iya, Tante siapa? Kok tahu nama aku?”
Bu Miya datang dan menyambut kehadiran Ara kerumahnya.
__ADS_1