Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 88


__ADS_3

Setelah mampir dari rumah Daffa gadis itu pun melanjutkan perjalannya ke basecamp. Namun, ketika akan memasuki gang dia hampir saja bertabrakan dengan sebuah mobil. Ya! itu adalah Gibran dan Gio, dua cowok yang ada di kampusnya. Kakak senior yang selalu memancing emosi Senja. Mereka turun dari mobil, memastikan tidak ada lecet pada kendaraannya tersebut. Selanjutnya menghampiri Senja yang masih duduk dimotor tanpa membuka helm.


Dalam hati gadis itu bergumam, dia mengomel kesal karena lagi dan lagi Gibran membuat dirinya emosi. Ketika Gio akan bertanya tentang keadaan si pengendara, Senja malah pergi. Sesampainya di basecamp nampak semua orang telah ada di sana. Seon mengernyitkan dahi melihat sahabatnya memasang wajah murung.


“Kenapa lu? Datang-datang pasang muka begitu,” tanya Seon berjalan menghampiri.


Senja memberikan helmnya pada sang teman, seperti biasa mengambil makanan dari salah satu orang yang ada di sana tanpa izin. Leo menyunggingkan bibir, ingin marah namun tak berani. “Gue hampir aja tabrakan sama mobil nggak jelas.”


“Serius lu? Warnanya merah bukan terus ada stiker kupu-kupu di sampingnya?” tanya Bima.


“Kok lu tahu Bim.”


“Itu mobil yang mau nabrak kita juga kemarin malam. Sialan emang,” ujarnya kesal.


Senja menjelaskan jika mobil tersebut dikendarai oleh seniornya. Yaitu, Gibran dan Gio. Leo memberi usul mengajak balapan pada dua kakak seniornya itu. Awalnya Bima dan Pram menolak karena tidak mau berurusan dengan mereka. Namun, Senja tersenyum, menganggukkan kepala dan setuju akan usul tersebut. Malam minggu nanti, mereka akan mencari tempat Gibran CS berkumpul, setelah itu mengajaknya balapan tanpa membuka helm agar tidak ketahuan.


Mereka bergembira bersama, melakukan bakar-bakar serta bernyanyi. Tak lama datanglah Lea, gadis itu baru terlihat kembali. Cukup lama tidak ikut berkumpul setelah kejadian penyandera waktu itu. Hubungannya dengan Aldo juga sedikit membaik, dia sudah menerima cowok tersebut sebagai teman. Namun, permusuhan antara Senja masih berlanjut. Ada rasa tak suka akan kedekatan Lea bersama musuhnya, Bima selalu ingin mengutarakan isi hati namun tak pernah dia lakukan.


Sempat beberapa waktu lalu dia meminta saran pada Seon dan Pram. Jawaban dari kedua temannya meminta Bima berpikir ulang. Mengingat jika Daffa juga menyimpan rasa suka kepada Lea membuat Seon bingung. Dia tidak ingin persahabatan yang telah damai ini kembali pecah hanya karena seorang perempuan.

__ADS_1


“Kak Leo, Papa bilang suruh jemput Raisa. Katanya Mama dia mau pergi lagi,” ucap Lea pada sang kakak.


Leo menghela napas, berpikir jika Mamanya tersebut terus-terusan pergi mengapa gadis kecil itu tak tinggal dengan Papanya saja. Lagipula keberadaan Raisa dirumah Lea sangat disambut baik oleh Mamanya. Di sana juga dia bisa bermain dengan Reno. “Ya udah. Guys gue cabut bentar ya,” jawabnya.


Dikediaman Leo, terlihat sang adik tengah berdiri didepan rumah sambil memeluk boneka. Dia menangis karena ditinggal oleh Mamanya. Sang asisten pun sudah menyuruhnya masuk namun gadis itu menolak. Leo segera menghampiri, dia izin pada pembantunya untuk membawa Raisa ke rumah sang Papa. Perceraian kedua orangtuanya membuat dia sedih, entah siapa yang harus disalahkan. Namun beruntung Leo dibawa oleh Papanya tinggal bersama keluarga baru.


Di sana dia mendapatkan kasih sayang dari Mama tiri, memiliki dua adik yang pengertian dan mau menerima keberadaannya. Sayang sekali Raisa harus tinggal dengan Mama kandung yang selalu pergi bersama pacarnya.


...----------------...


“Hay brother!”


“Serius bener bahas apaan sih?” tanya Nasya.


“Lu denger suara nggak?” tanya Thalia pada Gio. Cowok didepannya menggeleng membuat dua gadis itu kesal karena keberadaannya tidak dianggap.


“Kok gue merinding, cabut yuk.”


Gibran langsung bangkit dari duduknya lalu disusul oleh Gio dan Thalia. Mereka bertiga pergi meninggalkan Melissa bersama Nasya.

__ADS_1


Beberapa minggu yang lalu, salah satu penggemar Gibran di kampusnya mengirimkan sebuah poto Melissa yang bermesraan dengan cowok lain. Awalnya dia tidak percaya, namun setelah dihampiri ke tempat mereka dia melihatnya secara langsung. Tanpa berbicara sedikit pun Gibran berjalan lalu melepaskan gelang ditangannya. Mulai hari itulah hubungan dia dengan Melissa selesai. Sedikit kecewa pada sang mantan karena telah berselingkuh, padahal apapun yang Melissa inginkan selalu Gibran turuti. Keduanya juga dianggap sebagai pasangan yang romantis, hubungan mereka telah berjalan tiga tahun.


Sikap yang tadinya hangat kini berubah menjadi dingin. Dan setelah bertemu dengan Senja saat pertama kali di kampus membuat hati Gibran kembali bergetar. Menurutnya Senja berbeda dari gadis lain, pemikiran Thalib waktu di toilet pun benar bahwa memang iya sahabatnya tersebut tertarik pada si mahasiswi baru.


“Guys lihat deh, bukannya ini anak-anak baru itu ya?” ucap Thalia sembari menunjukkan ponselnya.


“Wah, jadi mereka populer? Gila banyak banget followersnya. Alumni SMA mana, coba lihat.” Gio mengambil alih ponsel sahabatnya. Dia mencari tahu tentang Senja dkk.


Mereka kaget saat tahu gadis yang selalu bersama lima cowok itu merupakan orang populer di sekolah. Ditambah dengan melihat poto-poto Senja dan geng motornya. Beberapa saat Gibran sadar akan motor yang ada di poto tersebut. Dia ingat ketika kemarin malam hampir menabrak seseorang.


“Tapi kok kayak ada yang kurang ya? Di poto ada tujuh orang tapi yang ke kampus cuman enam,” seru Thalia.


“Mungkin beda universitas. Lihat-lihat mereka berdua kek pacaran nggak sih?” ucap Gio. Matanya tertarik pada salah satu poto yang mana di sana ada Senja dan Bintang tengah bermain gitar serta bernyanyi bersama.


“Kalo dipikir-pikir emang mereka tuh beda dari yang lain sih. Apalagi si cewek, dingin terus nggak ada rasa takut sama sekali. Pantes aja populer di sekolahnya orang cantik-ganteng gitu.”


“Gue jadi tertarik buat berteman sama mereka,” sambung Thalia tersenyum. Gibran hanya diam menyimak, namun matanya masih terus melihat ke poto Senja dan Bintang.


Sebelum jam sebelas malam Senja sudah pulang kerumahnya. Dia tidak langsung masuk ke kamar, berbincang sedikit bersama kedua orangtuanya diruang televisi. Sesekali gadis itu melihat ponsel, merasa heran mengapa Bintang masih belum menelponnya. Dia khawatir karena sejak kemarin sang kekasih tidak memberi kabar. Malam pun semakin larut, Laura dan Pak Arya menyuruh putrinya segera tidur.

__ADS_1


Didalam kamar Senja duduk dikursi belajar. Dia melanjutkan obrolan lewat chat grup dengan teman-temannya. Membicarakan soal Bintang yang belum menelpon. Daffa merespon curhatannya meminta Senja sabar menunggu. Lagipula hari sudah malam pastinya Bintang telah tertidur. Pram yang masih online ikut gabung dan mengejek sang kakak. Dengan handphone masih menyala Senja pun terlelap.


__ADS_2