
Pertarungan kembali berjalan. Kali ini Pram lah yang mendominasi, dia terus meninju Aldo sampai lawannya terkapar lemah. Wasit pun menghentikannya dan mulai menghitung, sampai hitungan sepuluh Aldo masih juga belum bangun. Padahal semua anak-anak geng motornya sudah berteriak menyuruh sang ketua bangkit. Tangan Pram diangkat dan dinyatakan menang. Setelahnya dia ikut terbaring membuat Bintang dkk naik ke atas ring. Senja yang khawatir meminta para sahabatnya untuk membawa Pram ke rumah sakit terdekat.
Biru menenangkan Senja, namun tetap saja gadis itu terus menangis melihat kekasihnya yang babak belur walau memenangkan pertarungan. Sesampainya dirumah sakit, Pram langsung diberikan perawatan intensif oleh sang dokter. Tidak lupa juga Biru menelpon Ara, memberitahu jika putranya terluka. Bintang mendekati Senja, dia berusaha membuat sahabatnya itu tenang. Beberapa saat kemudian Ara datang bersama dengan Galang, wajah adik Biru tersebut terlihat cemas, dia menanyakan keadaan putranya.
Jam telah menunjukkan pukul 00.00, Biru meminta Senja untuk pulang karena Pak Arya menelepon. Awalnya gadis itu menggeleng, namun karena terus dibujuk maka Senja pun mengangguk dan berpamitan pada semuanya. Malam sudah sangat larut, Bintang menawarkan diri mengantar Senja pulang. Saat sudah sampai dirumah ternyata Pak Arya belum tidur, lelaki tua tersebut tengah berdiri didepan pintu menunggu kepulangan putrinya. Sedangkan didalam sang istri bersama adiknya tengah asik mengobrol.
Senja heran setelah masuk kedalam rumah, tumben sekali dua orang asik itu menunggu kepulangannya. Biasanya Laura sudah pergi tidur, tidak peduli jika dirinya pulang larut malam. “Kamu nggak papa sayang?” tanya Pak Arya. Senja menggeleng sembari tersenyum tipis. Lalu izin ke kamar dan menyuruh Papanya untuk tidur.
Keesokan paginya, Bintang sudah menelpon. Dia memberitahu jika Daffa akan memulai usahanya hari ini. Cowok itu juga mengajak Senja menjenguk Pram setelah pulang sekolah. Setelah mendapatkan info dari sahabatnya Senja langsung berpamitan, dia tidak sarapan dan bersikap cuek pada dua orang perempuan yang tidak tahu diri tersebut.
“Ya udah Mas aku juga berangkat ya, ada meeting penting soal proyek kita.”
“Aku juga deh Om, udah ada janji sama teman-teman. Sekalian mau nanya-nanya apakah mereka punya lowongan kerja buat aku,” sambung Sea. Pak Arya mengangguk, satu persatu penghuni rumahnya pergi menyisakan dirinya yang masih duduk di ruang makan. Entah apa yang lelaki tua itu pikirkan, dia terbengong melihat poto pernikahannya bersama Laura. Tidak lama kemudian suara dering telpon terdengar membuat dirinya terkejut. Setelah diangkat betapa kagetnya dia mengetahui jika proyek yang sedang Laura kerjakan itu gagal dan mengalami kerugian yang besar.
__ADS_1
Buru-buru Pak Arya menelepon istrinya. Laura menjelaskan jika dia tidak tahu apa-apa. Sesampainya di kantor semua rekan kerja sudah berkumpul. Dia meminta maaf atas kelalaiannya, para investor meminta uangnya kembali. Telepon dimatikan, Pak Arya menghela napasnya kasar. Dia sudah menebak jika istrinya itu tidak akan pernah bisa mengurus perusahaan. Dibalik gagalnya proyek Laura ternyata ada ulah Daniel, kekasihnya itu membayar lebih mahal dari perusahaan Pak Arya.
Suara bel pintu berbunyi, namun tidak ada satu orang pun yang membuka. Galang dan Ara masuk begitu saja karena pintu tidak terkunci dan sedikit terbuka. Sepasang suami istri itu melihat Pak Arya yang tergeletak dilantai, Galang langsung membawanya ke sofa. “Ini Pak Arya kenapa?” tanya Ara.
“Nggak tahu, coba kamu cari minyak kayu putih.”
“Iya,” jawabnya. Ara mulai mencari benda yang suaminya minta, tak lama dirinya kembali ke tempat Galang berada. Beberapa menit kemudian Pak Arya terbangun, dia memegangi dadanya.
Ditempat lain, Daffa sudah bersiap-siap dengan dagangannya. Baru saja buka sudah ada beberapa siswa yang datang. Dia melayani teman sekolahnya dengan sangat ramah, tersenyum dan berterimakasih. Mendapatkan senyuman dari salah satu murid populer membuat mereka senang. Apalagi mendapat senyum dari Bintang, bagi mereka hal itu merupakan yang paling berharga karena tidak mudah melihat cowok tampan tersebut tersenyum.
“Bagus dong kalo gitu, berarti kita nggak capek-capek jualan lagi pas istirahat. Pagi aja udah mau habis padahal si Daffa bawa makanannya banyak banget. Bersyukur aja semoga usaha lu lancar terus ya Daf,” seru Bima melirik sahabatnya.
Aldrian yang melihat Senja duduk sendirian langsung menghampirinya, dia memberikan minuman kaleng pada gadis itu. Senja menatapnya tajam tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Karena minuman kalengnya belum diterima maka Aldrian menaruhnya disamping Senja. “Minum aja kalo haus, pasti lu capek kan bantu temen lu yang susah itu?” ujarnya.
__ADS_1
“Maksud lu apa ngomong gitu?” tanya Senja.
“Benarkan temen lu itu susah, buktinya dia jualan di sekolah.”
“Cih! Daffa lebih baik dari lu! Harusnya lu malu karena masih minta uang ke orang tua. Menurut gue Daffa cowok yang keren, dia nggak malu berjualan. Mencoba usaha nggak kayak lu yang bisanya ngabisin duit ortu. Ambil tuh minuman lu gue nggak butuh!”
Bintang, Bima, Leo dan Daffa melihat ke sumber suara. Nampak Senja yang tengah berdebat dengan Aldrian, ke empatnya langsung menghampiri dua orang tersebut. Baru saja sampai Senja mengajaknya pergi membuat teman-temannya mengerutkan kening penasaran. Selesai beres-beres semuanya masuk kedalam kelas. Di sana teman sekelas memuji dagangan Daffa yang enak. Bahkan ada beberapa siswa yang memesan duluan dan memintanya untuk diantarkan saat malam.
Daffa berterimakasih dan meminta maaf. Bukan karena tidak mau menerima pesanan itu melainkan dia harus belajar dimalam hari. Tidak lama bel berbunyi, beberapa anggota osis datang meminta Senja dkk untuk ikut dengan mereka membahas soal persami. Leo sangat bersemangat, dia sampai berjingkrak. Kelima siswa itu pun tidak mengikuti pelajaran pada jam pertama. Sang ketua osis mulai berdiskusi, menyuruh sekretaris untuk mencatat nama-nama siswa. Senja bersama Bima, Leo dan Bintang sedangkan Daffa dengan Pram.
Dua hari lagi acara akan dilaksanakan, si ketos meminta anggotanya untuk menyiapkan semua yang diperlukan saat nanti. Dia mengucapkan terimakasih kepada Senja dkk karena telah mau menerima tawarannya menjadi panitia persami bersama para osis.
“Oh iya, tugas kita apa nih nanti?” tanya Leo.
__ADS_1
Sang ketua osis menjelaskan tugas mereka masing-masing. Senja mengangguk adan mulai membantu persiapan. Setelah satu jam semuanya pamit untuk mengikuti pelajaran. Saat sudah sampai dikelas, Senja mendapat bisikan dari ketua kelas bahwa mereka akan melakukan penukaran siswa dengan kelas lain.