
Senja memukul pelan sahabatnya, dia terlihat malu-malu saat semua orang yang ada di sana memuji kecantikannya. Setelah semuanya selesai, mereka pun langsung berangkat ke rumah sakit menemui Shena. Ternyata hari ini adalah hari ulang tahun gadis tersebut, oleh karena itu Biru meminta Senja dkk untuk berdandan layaknya seorang pangeran dan putri.
Para suster dan dokter yang merawat Shena ikut merayakan hari spesial itu. Acara berlangsung begitu meriah walau diadakan di rumah sakit. Beberapa saat kemudian, salah satu suster datang ke ruangan Shena. “Maaf mengganggu waktunya, apa di sini ada yang namanya Senja?”
“Saya, ada apa ya?” seru Senja maju mendekat, alisnya mengangkat sebelah.
“Mari ikut dengan saya ke ruangan Pak Heru. Beliau meminta saya untuk mempertemukan anda dengannya.”
Biru, Ara, Nadia, Arka serta Galang menelan ludahnya, sedangkan Senja dkk merasa heran atas perkataan sang suster. Pasalnya dia tidak tahu orang yang suster tersebut maksud. Karena penasaran Senja pun mengikuti langkah si suster menuju ruangan Heru.
“Mari masuk, Pak Heru sudah menunggu. Keadaan dia benar-benar mengkhawatirkan, anda sebagai putrinya harus menemani beliau,” ungkapnya. Senja terkejut akan perkataan yang baru saja keluar dari mulut si suster. “Putri? Dia ayah gue? Mana mungkin?!” gumamnya.
Mata dia tertuju pada seorang pria yang tengah terbaring lemah. Biru yang melihat itu langsung masuk dan menarik tangan Senja agar menjauh dari Heru. Dia tidak ingin rahasia masa lalu terbongkar. Saat akan membawa gadis kesayangannya pergi keluar, Ara menghentikan langkah sang kakak sembari menghela napasnya kasar. Mungkin dalam benak dia sudah waktunya untuk Senja mengetahui siapa keluarga kandungnya.
Terjadilah perdebatan antara Biru dan Ara, kakak beradik itu sama-sama dengan pendiriannya. Yang satu ingin semua terbongkar, satunya lagi ini terus merahasiakan identitas Senja. Melihat keadaan yang tidak memungkinkan Nadia pun melerai mereka, menyuruhnya untuk pergi keluar.
“Udah 17 tahun kak, mungkin ini waktunya buat Senja tahu siapa orang tua kandungnya,” ujar Ara.
“Stop, Ra! Kakak nggak mau itu terjadi.”
__ADS_1
“Ini ada apa? Coba jelasin Om, Tante Ara. Dia siapa?” ujar Senja memotong perdebatan kakak beradik itu.
Baru saja Ara akan menjawab pertanyaan Senja, si suster kembali memanggilnya menyuruh masuk. Di dalam, Heru menatap gadis di depannya dengan tatapan sendu. Mulutnya lalu mengatakan kata maaf sembari mencoba mengelus rambut sang putri. Tanpa sadar Senja juga menitikkan air mata melihat Heru yang seperti itu. Suasana menjadi hening, Biru hanya bisa menelan ludahnya dan menunduk pasrah. Ara mendekat memegang lengan Senja. “Dia Ayah kamu,” ungkapnya.
“A—ayah? Bagaimana bisa Tante?” tanyanya.
“Dia bukan Tante kamu, tapi ibu,” ujar Heru. Dengan cepat Ara menggelengkan kepala, dia menjelaskan jika Senja bukanlah anaknya. Heru terkejut, ternyata selama ini dia sudah salah. Senja merupakan anaknya bersama Tita, sedangkan bersama Ara adalah Nugraha yang tak lain Langit/Pram. Bintang, Bima serta yang lain hanya terdiam mereka juga ikut terkejut dengan apa yang terungkap tentang masa lalu sahabat perempuannya.
Pram yang baru datang terdiam, ternyata dia dan sang kekasih merupakan saudara tiri. Senja menangis melihat ke arah Omnya, gadis itu seperti ingin memastikan perkataan Ara dan Heru apakah benar atau tidak? Sang Om pun mengangguk membuat Senja terjatuh ke lantai. Selama ini dia tidak tahu keluarga aslinya dan 17 tahun lamanya dia tinggal dengan orang yang bukan siapa-siapanya.
Perhatian mereka semua kini tertuju kepada Heru, tiba-tiba saja lelaki tersebut merasakan sesak lalu tak sadar. Dokter meminta orang-orang yang berada di dalam untuk keluar, dia akan memeriksa keadaan Heru. Tak lama kemudian dokter mengatakan jika ayah Senja sudah tidak bisa tertolong. Sasa yang baru saja datang syok akan perkataan si dokter. Dia juga merasa heran mengapa begitu banyak orang di depan ruangan sahabatnya, apalagi orang itu adalah keluarga Biru.
“Tante,” ucap Senja membuat langkah mereka semua terhenti.
“Iya?” jawab Ara menoleh ke kebelakang.
“Setelah pemakaman pria itu, maksud aku ayah. Apa Tante mau mengantarkan Senja ke makam ibu?”
“Ibu kandung,” sambungnya. Ara mengangguk mengelus kepala gadis itu dengan lembut. Biru meminta maaf, namun perkataannya tidak dihiraukan oleh Senja.
__ADS_1
Di sisi lain, Sasa yang akan ikut mengurus Heru izin kepada Bara untuk tidak ikut meeting. Dia mengirimkan pesan singkat kepada bosnya itu. Kebetulan handphone Bara sedang dipegang oleh Echa sang istri, saat membaca isi pesan dari Sasa jika Heru meninggal dia pun langsung memanggil suaminya. Setelah itu menelpon Ara guna memberitahu informasi tersebut.
Sore itu juga Heru langsung dimakamkan, Echa dan Bara turut hadir dalam pemakaman tersebut, mereka berdua diberitahu oleh Ara tempat yang akan menguburkan jenazah Heru. Setelah semuanya selesai, Echa menyapa Biru dengan ramah sedangkan Bara memasang wajah datar.
“Pak Bara, malam ini bapak sibuk tidak?” tanya Sasa disela obrolan Echa dengan Nadia.
“Bara sibuk! Dia ada acara makan malam dengan mertuanya,” sahut Echa dengan tatapan tajam. Biru, Ara, Nadia dan Arka hanya melihat, mereka dapat menebak jika rumah tangga Echa sedang dalam godaan seorang pelakor.
“Oh! Ya sudah lain waktu aja saya bicara sama bapaknya, kalo begitu saya pamit duluan,” ujar Sasa.
Pak Arya yang berada dirumah tengah berduaan dengan Laura. Wanita itu meminta sang suami untuk mengatasnamakan rumah yang kini ditempati dengan nama miliknya. Bodohnya lelaki tua itu hanya manggut-manggut saja, dia membelai istrinya lalu mencium kening Laura sambil berkata iya. Si istri izin ke toilet, dia akan memberitahu kekasihnya jika Arya si lelaki tua mau memberikan rumah kepadanya. Mereka senang bukan main, selain akan mendapatkan rumah ternyata Laura juga sudah mengambil setengah harta suaminya.
“Mas, Beneran nggak papa kalo rumah ini ganti jadi nama aku? Takutnya nanti anak kamu nggak setuju?” ucapnya.
“Iya sayang, Senja pasti akan setuju. Asalkan kamu memperlakukan dia layaknya anak sendiri.”
“Kalo itu sudah pasti mas, aku sayang sama Senja. Walau kadang suka ngeselin tapi dia kan anaknya baik.”
“Setelah lu mati, anak ingusan itu bakal gue usir. Biarin jadi gembel juga, nggak bakal gue kasih harta sedikitpun,” ucapnya dalam hati.
__ADS_1