
Bel istirahat pertama telah berbunyi, kini kelas Senja tengah berganti baju olahraga, sebab setelah istirahat berakhir mereka semua akan mengikuti pelajaran berikutnya, yaitu olahraga. Diruangan ganti, Senja dihampiri oleh si gadis berkacamata. Dia mengucapkan terimakasih karena Senja telah menolongnya tadi.
“Santai aja, gue nggak suka pembullyan. Kalo mereka ganggu lu lagi jangan lupa lapor gue,” ujarnya.
Setelah berbincang sedikit, si gadis kembali ke kelasnya. Senja pun telah berganti pakaian, dia langsung menghampiri keempat sahabatnya yang sedang bermain basket. Kedatangan Senja membuat keempat cowok itu menghentikan permainannya, mereka berlima lalu duduk dipinggir lapangan dan berbincang-bincang. Pram yang berada di dekat pohon sedang berteduh memperhatikan Senja dari kejauhan.
Bintang sadar bahwa Pram tengah melihat ke arahnya. Dia bangkit dari duduk dan mulai melangkahkan kakinya menuju Pram. “Lu murid baru? Nggak ada teman kah?”
“Eh iya, aku baru beberapa hari sekolah.”
“Gabung sama gue dan yang lain aja, daripada sendirian nggak jelas di sini. Ayo,” ajak Bintang. Dia mengulurkan tangannya kepada Pram.
Bima heran dengan sikap Bintang, tidak biasanya cowok itu mengajak seseorang untuk gabung dengannya. Pram orang beruntung, bisa diajak oleh Bintang. Daffa, Leo dan Bima berjabat tangan, mereka memperkenalkan kembali namanya masing-masing. Kecuali Senja, dia sibuk dengan ponselnya. Padahal Pram berharap bisa berjabat tangan dengan gadis di samping Bima itu.
Suara peluit dari guru olahraga terdengar, dia menyuruh murid-muridnya untuk segera berbaris. Lalu setelah itu memintanya berpasangan dengan teman disamping. Senja dan Pram bertatapan, ternyata mereka berdua berdampingan. Dalam hatinya cowok itu merasa senang, namun dirinya melihat lagi wajah Senja yang tidak senang. Bintang hanya diam memandang sang sahabat dengan lelaki lain. Dia sadar diri, Senja hanya menganggapnya sebagai saudara saja.
Di kedai, Biru tengah melayani seorang pria. Entah mengapa perasaannya merasa curiga akan pria tersebut, dia terus memperhatikan dari jarak jauh. Tak lama sebuah chat masuk, tertulis sebuah ancaman bahwa orang yang mengirim pesan akan membawa pergi Senja. Sudah yang kesekian kalinya nomor tak dikenal mengirim chat seperti itu. Awalnya Biru tidak peduli dan mengabaikan, namun karena pesan tersebut datang setiap hari, membuat Biru semakin khawatir serta penasaran.
Dalam benaknya selalu terpikir Heru, dia yakin jika itu semua ulah musuhnya di masa lalu. Selama ini dirinya belum mendapatkan kabar tentang mantan adiknya tersebut, tidak ada yang tahu kemana laki-laki itu pergi.
Biru sadar dari lamunannya, dia kembali memperhatikan orang mencurigakan tadi namun sayang orang tersebut telah tidak ada di tempatnya.
Saat akan pergi meninggalkan kedai, datanglah seseorang yang sangat Biru kenal. Dia adalah Echa, perempuan itu menatap sang mantan lalu tersenyum ramah. Biru menelan ludahnya, sudah sangat lama dia tidak berjumpa dengan perempuan didepannya. Rasanya canggung saat keduanya bertatapan dan menyapa.
__ADS_1
“Halo, masih ada cakenya?”
“Masih banyak,” jawab Biru.
“Aku mau yang seperti biasa. Masih tersedia kan cake yang dulu sering aku makan?”
“Nggak ada, Ca.”
“Kenapa nggak ada?” tanyanya lagi.
“Para pelanggan mau yang berbeda, mereka ingin kita membuat cake dengan modelan dan rasa yang baru. Kalo mau kamu bisa beli yang lain, maaf.”
Echa kembali memberikan senyuman manis yang dulu sangat Biru suka. Tak lama Ara datang bersama Shena, dia memperkenalkan anaknya kepada Echa. Dengan sopan dan ramah, Shena mencium lengan perempuan didepannya. Ara melirik ke arah kakaknya, nampak wajah Biru yang datar.
Lamunan Biru pudar seketika setelah Shena mengangetkan dirinya. Gadis kecil itu mengajak Biru untuk bermain bersama. Sebab, kemarin saat Ara menelpon kakaknya, Biru berjanji akan membawa Shena jalan-jalan. Dia pun izin pergi kepada Ara dan Echa. Menggandeng tangan mungil Shena, mereka berdua berjalan bersama sembari mengobrol kecil.
“Om, Tante tadi cantik ya? Pacarnya Om Biru kah?” tanya Shena dengan polosnya.
“Ehh..., bukan pacar itu. Dia temannya Om sama Tante Nadia dan Om Arka. Tante Echa juga udah menikah, jadi mana mungkin dia pacar Om Biru.”
Shena berseru oh, lalu gadis kecil tersebut menunjukkan jarinya ke arah penjual balon. Meminta Biru untuk membelikannya satu, dengan senang hati Omnya itu menurut. Ibu-ibu yang sedang membeli balon juga pun memuji Shena yang cantik dan Biru yang tampan.
“Aduh! Masnya duda apa masih ada istri?”
__ADS_1
“Pasti duda ya?” sambungnya tersenyum. Biru terkekeh akan perkataan ibu-ibu tersebut.
“Ini ponakan saya Bu, dan saya masih lajang belum menikah.”
“Waduh saya salah berarti. Kirain anaknya dan mas itu duda. Kalo gitu mau nggak mas saya kenalin sama anak saya, dia juga masih sendiri, cantik dan rajin.”
Biru hanya tersenyum menanggapi perkataan si ibu. Dia bingung harus menjawab apa, untungnya Shena langsung mengajak dia pergi ke tempat penjual es krim. Biru pun pamit pergi, dirinya merasa terselamatkan oleh sang keponakan akan pertanyaan tadi.
Di sekolahan pelajaran olahraga telah usai. Mereka kembali pergi untuk mengganti seragam. Setelah itu Senja mengajak keempat temannya untuk jajan di kantin. Bintang mengajak Pram kembali bergabung dengannya. Tak disangka, kini dia bisa makan bersama murid-murid populer. Selagi menunggu makanan yang dipesan, mereka semua bermain game. Yaitu truth or dare, sebuah botol minum mulai Bima putarkan. Semua diam tak ada yang bersuara, botol itu pun terhenti ke arah Pram.
“Truth or dare?” tanya Bima.
“Dare!” jawab Pram.
“Masing-masing kasih dia Dare, okay!” ujar Bima melirik ke arah teman-temannya. Semua mengangguk, dimulai dari Bima yang memberikan tantangan kepada Pram. Pertama, tugasnya adalah merayu ibu kantin yang berbadan gemuk. Setelah itu dilanjut oleh tantangan dari Leo, Daffa dan Bintang. Masing-masing memberikan tantangan yang mudah untuk Pram laksanakan. Saat giliran Senja, jantung cowok itu berdegup kencang, dia takut jika gadis yang tepat berada didepannya memberikan tantangan yang berat.
Benar saja apa yang dia takutkan. Senja memberikan dare yang menurut Pram berat. Gadis tersebut meminta Pram menari didepan banyak murid, menyuruhnya naik ke kursi dan Senja menyalakan musik untuk mengiringi Pram menari. Ini pertama kalinya dia menari, apalagi dilihat oleh banyak orang. Pram ragu untuk menerima tantangan tersebut, selain itu dia juga akan merasa malu.
“Ayo menari,” teriak Senja. Leo ikut berteriak menyuruh Pram menari, lalu para murid juga bersorak.
“Sen, nggak papa nih anak joget didepan banyak murid? Kasian loh, malu juga njirr!” ungkap Daffa.
“Ya terserah sih, kalo dia cowok berarti mau nerima tantangan dari gue. Salah sendiri kenapa harus pilih dare,” seru Senja menyunggingkan bibirnya.
__ADS_1