
Senja berdiri menyapa sang Om dan mencium punggung tangannya. Tak lupa gadis itu juga memperkenalkan Silla kepada Biru. Selagi dirinya sarapan, Senja meminta sang Om untuk mengajak Silla mengobrol. Dilihat-lihat wajah kedua orang itu sedikit terlihat mirip, sambil mengunyah makanannya perhatian dia tidak lepas dari dua orang yang sedang berbincang itu.
Dering telepon membuat Senja terkejut, dia hampir saja tersedak dan untungnya ada Nadia yang memberikan minuman. Wanita itu baru saja datang bersama suaminya, mereka berdua membawa berita baik. Dugaan Arka ternyata benar jika istrinya itu tengah mengandung. Biru yang mendengar sahabatnya hamil pun turut ikut bahagia, akhirnya setelah penantian lama Nadia bisa memiliki anak.
Selain itu, kedatangannya ke kedai Biru juga untuk memberitahu bahwa sementara waktu keduanya tidak dapat bekerja. Sang sahabat mengerti, dia mengizinkan mereka untuk tidak masuk dahulu demi kebaikan kandungan Nadia. Karena merasa kekurangan seseorang, maka Biru harus mencari pekerja lagi. Senja berdiri dan angkat bicara, dirinya menyarankan agar Silla yang menggantikan tugas Nadia untuk sementara.
Tidak ada pilihan lain Biru pun menerima sarannya, begitu juga dengan Nadia dan Arka. Silla yang mendapatkan pekerjaan mengucapkan terimakasih kepada Senja dan Biru, kini dia tidak akan berjualan keliling lagi. Selesai makan, gadis remaja yang akan sekolah pun izin pamit pada semuanya, Bintang serta Teman-teman yang lain sudah menelpon menunggu kedatangan Senja.
“Tante Silla, maaf ya Senja nggak bisa anterin pulang. Udah telat ini,” ucapnya dengan sopan.
“Iya nggak papa, Tante bisa pulang pakai angkutan umum.”
“Tapi rumah Tante kan jauh, beneran nggak papa? Senja jadi nggak enak nih, gimana kalo Om aku aja yang anterin Tante pulang?”
“Eh nggak usah, nanti malah merepotkan, Om kamu juga pasti sibuk di kedai.”
“Ya udah kalo gitu Senja berangkat ya,” ujarnya berpamitan pada Biru, Arka, Nadia dan Silla.
Beberapa menit kemudian....., gadis cantik berambut panjang itu sudah sampai di sekolah. Keempat cowok tampan temannya sudah menunggu lama di parkiran. Bima menggerutu karena merasa kepanasan padahal hari masih pagi dan udara sedang sejuk. Tak lama Pram datang dengan motornya, dia menyapa Senja serta Bintang dkk. Calon pacarnya mengingatkan Pram untuk balapan malam ini atas tantangan pertama untuknya.
__ADS_1
Senja pergi bersama keempat sahabatnya, sedangkan Pram masih berdiri seorang diri memikirkan bagaimana caranya dia bisa mengalahkan Bintang yang jelas-jelas sudah jago dalam hal tersebut. Di perjalanan menuju kelas, Daffa bertanya mengapa Senja meminta Pram untuk balapan melawan Bintang? Gadis itu hanya tersenyum, dia ingin melihat seberapa cinta cowok tersebut kepadanya. Mau kalah ataupun menang, Senja akan tetap menerimanya sebagai kekasih.
Daffa menggeleng, pusing dengan apa yang ada di otak Senja. Dia benar-benar tak habis pikir, jika akhirnya akan seperti itu mengapa harus repot-repot menyuruh anak orang bertanding.
“Oh iya Sen, kemarin ada yang DM gue. Katanya dari salah satu agensi terkenal, mereka mau merekrut kita sebagai idol. Lu berminat nggak?” ungkapnya.
“Nggak ah, ribet jadi idol tuh.”
“Nah bener kata Senja, kita nggak jadi idol aja udah ribet sama murid-murid lain. Meja penuh kotak makanan, loker penuh sama snacks,” seru Leo.
“Lu tolak aja Daf, lagipula kita nggak punya skill apa-apa buat jadi idol. Masa cuman modal fisik doang,” ujar Senja. Langkahnya terhenti setelah sampai di depan kelas.
“Kalian mau tetap di depan pintu atau duduk hah!” tegur Senja melihat heran kepada temannya.
“Gue nggak tahu harus muji nih anak atau nggak, ntah dia pintar atau bodoh!” seru Bima dan diangguki oleh Daffa.
“Cewek mah begitu,” sambung Leo.
Bel masuk berbunyi, semua murid duduk rapi di kursinya masing-masing. Tidak akan ada candaan jika bukan Bima atau geng Senja yang memulai. Para murid di sana terlalu serius dalam hal belajar, mereka tidak ada yang berani untuk bercanda kecuali jika tidak ada guru. Berbeda dengan Senja dkk, mereka akan memancing si guru agar mau bercanda bersamanya, namun jika yang mengajar si guru killer maka tidak akan ada satu suara pun yang keluar.
__ADS_1
Kebetulan hari ini adalah jadwalnya Paris yang mengajar. Lelaki tampan itu sangat humoris, dia selalu melemparkan candaan kepada para muridnya membuat suasana kelas menjadi tidak tegang. Padahal dia merupakan guru baru tapi sudah banyak lara siswa dan siswi yang menyukai. Selain parasnya yang tampan, dia juga baik dan ramah. Selalu membela anak muridnya jika terjadi sesuatu.
Tidak ada yang tahu dulunya seperti apa. Saat muda dia merupakan seorang pembully namun kini berubah menjadi pahlawan siswa-siswi. Mungkin Paris belajar dari kesalahannya yang dulu dan menyadari betapa sakitnya orang yang terkena bullying.
Dia mendekati Senja pun karena ingin tahu kabar tentang Biru serta teman-temannya yang dulu. Paris ingin berjumpa dan bersilahturahmi.
Dua jam berlalu, bel pergantian pelajaran pun berbunyi. Paris meminta anak-anaknya untuk tidak berisik mengganggu kelas sebelah dan menyuruh menunggu kedatangan guru berikutnya. Beberapa menit kemudian, guru yang akan mengajar belum kunjung datang juga, Senja meminta Bima dan Leo memeriksa ke ruangan para guru.
“Bim, katanya ada murid baru di kelas sebelah kanan kita. Lu udah lihat belum wajahnya? Cakep sih tapi kelihatannya playboy,” ujar Leo.
“Belum tahu tuh, nanti deh istirahat lu ajak gue lihat. Secakep apasih anaknya. Jangan sampai deh tuh anak tahu soal Senja, bahaya juga kalo dia playboy terus deketin si bocil.”
“Bahaya karena ada dua cowok yang suka sama dia kan? Bakal jadi apa nantinya kalo mereka bertiga berantem, hahaha.....”
Sampailah keduanya di ruangan guru, Bima bertanya kepada salah satu orang yang berada di sana. Ternyata guru yang akan mengajar kelasnya tidak datang ke sekolah, dan mereka pun mendapat jam kosong. Kembali ke kelas, Leo memberitahu jika hari ini dua jam mereka tidak belajar. Semua anak bersorak karena lolos dari tugas yang diminta minggu kemarin.
Karena merasa bosan, Senja mengumpulkan teman sekelasnya. Menyuruh mereka semua untuk tidak berisik. “Guys, wahai para beban orang tua, termasuk gue! Lu semua bosen nggak sih sama warna tembok kelas kita?”
“Kenapa emangnya? Mau ganti cat kah?” tanya ketua kelas.
__ADS_1
“Yaaa....., kalo lu semua mau. Kita bisa ganti warnanya, tapi izin dulu sama wali kelas,” jawab Senja.