Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 27


__ADS_3

Malam harinya Senja sama sekali tidak mau pulang ke rumah Pak Arya. Gadis itu memutuskan untuk tinggal di basecamp beberapa hari. Jika Senja tidak ada dirumah maka Laura akan sangat leluasa menguasai rumah tersebut, karena tidak ada lagi orang yang akan menghalangi niat liciknya. Dirumah Ara, Pram ingin berbincang berdua dengan ibunya. Cowok itu bertanya kebenaran tentang dirinya yang bersaudara dengan Senja.


“Kok wajahnya sedih sih? Bukannya kamu senang ya bisa saudaraan sama Senja?” tanya Ara.


“Ah i—itu, anu..., nggak papa kok Bu. Nugraha senang bisa saudaraan sama Senja. Nggak nyangka aja,” jawabnya terbata-bata.


“Ya sudah, sana istirahat. Besok harus sekolah jangan sampai bangun kesiangan. Soalnya ibu sama ayah mau berangkat pagi ke rumah sakit jadi nggak bisa bangunin kamu nanti.”


“Shena di sana sama siapa?” tanyanya.


“Adik kamu sama Tante Nadia dan Om Arka. Mereka menjaga Shena untuk malam ini,” jawab Ara tersenyum manis. Lalu dia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar menghampiri Galang yang sudah istirahat duluan. Setelah kepergian sang ibu, Pram keluar rumah. Dia duduk di depan sembari melihat sekeliling yang sudah sepi. Dalam pikirannya terbayang wajah cantik sang kekasih.


Di tempat lain, anak-anak geng motor Senja sibuk dengan acara barbeque, mereka semua bersenang-senang bersama kecuali ketua mereka yang hanya diam duduk termenung seorang diri. Awalnya Bintang ingin menghampiri namun dicegah oleh Bima dan Leo. Dua cowok itu meminta sahabatnya untuk tidak mengganggu Senja terlebih dahulu. Ketidakhadiran Daffa membuat mereka merasa kurang, biasanya Daffa akan merekam jika ada acara bakar-bakar. Tapi sekarang cowok tersebut sudah tidak lagi bermain dimalam hari.


Pak Arya yang kebetulan belum tidur menelpon Biru, dia menanyakan keberadaan putrinya yang tidak pulang kerumah. Mendapat pertanyaan tentang Senja Biru pun menjelaskan jika gadis itu menginap di basecamp bersama teman-temannya. Seorang Papa mendengar putrinya menginap dengan temannya yang kebanyakan lelaki meminta Biru menjemput Senja, lalu mengantarkannya pulang. Om si gadis tomboy itu hanya iya iya saja, walau kenyataannya membawa Senja untuk pulang itu susah. Sebab gadis tersebut masih kesal kepadanya.


Pukul 23:15, tiba-tiba basecamp mereka dilempar batu. Suara motor yang cukup banyak terdengar sangat berisik. Senja dkk pun langsung pergi menuju sumber suara itu berasal. Nampak lah geng motor Aldo di sana dengan senyuman liciknya. Mungkin karena tidak terima dengan balapan mobil kemarin, Aldo dkk kembali membuat onar serta menantang geng Senja untuk beradu tinju.

__ADS_1


“Gimana Sen? Mereka nantang kita buat adu tinju di ring?” tanya Leo.


“Nggak usah di ladenin. Kalo ada yang nerima tantangan itu silahkan keluar dari geng gue. Balik ke basecamp,” ujarnya dengan wajah datar. Para cowok yang ada di sana tidak ada yang bersuara, saat melangkahkan kaki meninggalkan Aldo dkk tiba-tiba sebuah batu melayang ke kepala Senja dengan sangat keras. Jelas saja hal itu membuat Bintang geram dan marah, dia tidak terima jika Senja dilempar seperti itu.


“Bin, stop! BINTANG!” ucap Senja menyentak Bintang sang sahabat. Gadis itu sudah sangat pusing dengan masalah hidupnya, dia menghentikan itu karena tidak mau kedua geng motor tersebut berujung tawuran. Kali ini Senja membiarkan Aldo bertingkah semaunya, di lain waktu dia akan membalas apa yang Aldo lakukan padanya tadi.


Semua anak-anak pergi mengekor dibelakang Senja, mereka kembali melanjutkan makan-makannya. Tak lama kemudian datanglah Biru membujuk Senja untuk pulang, seperti dugaannya gadis itu tidak mau ikut bersamanya. Dia tetap kukuh ingin tinggal di basecamp beberapa hari. Perhatian Biru teralihkan pada darah yang mengucur di kepala Senja. “Kamu kenapa? Kok berdarah kayak gini?!”


Senja langsung menempelkan tangannya ke kepala, setelah itu dia melihat tangannya terkena darah. Bintang yang baru menyadari pun langsung pergi mengambil kotak P3K. ”Kenapa hah?! Bilang sama Om, apa yang terjadi?”


“Tetap aja kepala kamu terluka. Untung saja Om lihat, kalo nggak bisa bahaya,” ujarnya sambil serius mengobati luka yang ada di kepala Senja. Gadis itu tidak berkata jika luka tersebut karena ulah Aldo yang barusan melemparkannya dengan batu.


Sasa yang sudah tidak memiliki rekan kerjasama untuk menghancurkan geng Biru pun harus berusaha sendiri. Tujuan utama dirinya adalah ingin merusak rumah tangga Echa dan Bara, awalnya dia hanya membalaskan dendam masa lalu, namun setelah melihat ketampanan suami Echa maka rencananya sedikit berubah.


“Sayang, kamu bisa nggak pindahkan Sasa ke perusahaan lain? Aku nggak suka lihat dia, apalagi sepertinya Sasa ada niat jahat sama keluarga kita,” ucap Echa. Bara tertawa mendengar perkataan istrinya, padahal Echa tengah berbicara serius. Tapi si suami malah menganggap bahwa Echa sedang dilanda cemburu.


“Kamu tenang aja, aku kan udah bilang ke kamu. Kalo aku nggak bakal tergoda dengan rayuan Sasa, mau dia cantik, seksi, kaya dan lebih segalanya, aku akan tetap sayang sama kamu,” jawabnya mencubit gemas hidung sang istri. Mata Bara berkedip-kedip, sepertinya lelaki tersebut ingin meminta Echa melaksanakan tugasnya sebagai istri melayani sang suami. Tanpa ba-bi-bu lagi Bara langsung menggendong Echa naik ke atas kasur.

__ADS_1


Di keesokan paginya, sekita jam 06.00 Senja pulang kerumah untuk berganti pakaian. Dia lupa jika harus sekolah, oleh sebab itu dengan terpaksa harus kembali kerumah dan melihat wajah busuk Laura. Baru selangkah akan menaiki anak tangga, suara yang sangat Senja benci terdengar menyapa.


“Enak ya tidur sama banyak cowok, nggak pulang kerumah. Tapi bagus sih karena itu menguntungkan bagi gue. Dengan lu pergi dari rumah maka gue akan lebih berkuasa di sini.”


Senja terdiam. “Bego! Kenapa gue nggak kepikiran sampai sana. Gue nggak bakal biarin nih cewek ular berkuasa,” pikirnya.


“Heh! Kalo orang tua ngomong itu dengerin dong, awas aja ya gue aduin ke bokap lu.”


“Bac*t! Mulut lu bau, mending diem deh nggak usah ngomong.”


Laura berdengus kesal, dia menatap kepergian anak tirinya ke lantai atas. Setelah itu keluarlah Pak Arya dari kamar, dia bertanya kepada istrinya apakah Senja sudah pulang atau belum, Laura pun menjawab jika anak mereka baru saja sampai dan sedang bersiap pergi ke sekolah. Tak lama kemudian, Senja turun kebawah. Dia disapa oleh sang Papa dan putrinya itu hanya memberikan senyuman.


“Kalo pergi kesekolah itu harus sarapan dulu sayang,” ujar Laura sambil mengoles coklat ke roti milik suaminya.


“Ya! Tanpa lu bilang juga gue pasti sarapan.”


“Senja, yang sopan kalo bicara sama Mama kamu. Masa bilangnya lu,” tegur Pak Arya.

__ADS_1


__ADS_2