Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 93


__ADS_3

“Bagaimana kandungan istri saya?”


“Bayinya sehat Pak, semua aman.” Biru menghela napas lega mendengar ucapan sang dokter. Dia takut terjadi sesuatu pada kandungan Silla, sebab beberapa kali istrinya itu merasakan sakit. Keduanya saling memandang, tidak sabar menunggu kehadiran sosok kecil dalam keluarga mereka.


Laura yang sibuk tidak menyadari jika adiknya tersebut telah kabur dari rumah. Dia masih mengira bahwa Sea berada didalam kamar. Sang ibu berjalan menghampiri, mengingatkan putrinya untuk memberi makan pada si adik. Makanan pun dia simpan didepan pintu, beberapa kali dipanggil namun Sea tak pernah menjawab. Di sisi lain, adiknya itu kini sedang berada di rumah Daniel. Melihat kepergian mantan pacarnya bersama seorang wanita.


Sakit hati dia rasakan, semua telah diberikan pada lelaki tersebut termasuk harga dirinya. Sea sudah berencana akan menggagalkan pernikahan mereka yang dilaksanakan beberapa hari lagi. Kembali kerumah Senja, Thalia dan kedua temannya berpamitan. Mereka bertiga harus balik lagi ke kampus.


“Gib, kok mereka lihatin kita kayak gitu ya? Emangnya ada yang salah kah??” tanya Thalia. Para teman-teman Senja, geng motor, semuanya memperhatikan Gibran CS saat akan keluar gerbang.


“Mungkin gue terlalu tampan makanya dilihatin terus,” sahut Gio dengan percaya diri. Cowok itu tidak menyadari ada batu kecil didepannya. Dia pun tersandung dan mendapatkan tawaan dari para remaja tersebut.


“Sialan siapa yang naro batu di sini?” umpatnya. Thalia ikut tertawa begitu juga dengan Gibran.


Di lain tempat, Galang tengah pusing dengan perusahaannya. Dia heran mengapa keuangan keluar begitu banyak tanpa ada pemberitahuan. Salah satu karyawan masuk kedalam ruangan, memberitahu jika beberapa bulan ini seseorang terlihat mencurigakan. Galang memeriksa berkas, dia mengerutkan kening. Tak lama pintu ruangannya terdengar ketukan. Muncul seorang lelaki dia tersenyum dan membungkukkan badan.


Dia adalah Daniel, lelaki tersebut memberikan surat pengunduran diri kepada Galang. Beralasan jika dirinya telah pindah perusahaan ketempat calon istrinya. Dan itu semua permintaan dari sang mertua. Galang mengambil suratnya, setelah itu menganggukkan kepala. Saat Daniel akan keluar tiba-tiba boss nya memanggil.


Galang mempersilakan duduk, raut wajahnya terlihat serius. Mata menatap tajam pada orang yang ada di depannya. Daniel menelan ludahnya melihat tatapan sang boss, namun dia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan ketakutannya. Beberapa saat kemudian dirinya menghela napas karena ternyata Galang hanya memberikan uang pesangon saja. Setelah itu memperbolehkan Daniel pergi.


Semua karyawan tahu jika boss mereka dahulu merupakan anak geng motor yang nakal, berandal dan sering tawuran bahkan pernah masuk kedalam sel namun beberapa hari. Oleh sebab itu Daniel sedikit merasa takut dengan Galang. Dia juga yang telah korupsi di kantornya, uang tersebut dirinya pakai untuk melamar sang pacar.

__ADS_1


“Setelah keluar dari sini aku akan menjadi boss,” gumamnya. Daniel telah berharap jika setelah menikah nanti maka orang tua kekasihnya akan mengangkat dia menjadi pemimpin di perusahaan. Menurutnya bertahan dengan Sea hanya membuang-buang waktu saja, oleh karena itu dia mencari wanita lain yang lebih kaya dari mantan pacarnya walau Daniel akui jika Sea jauh lebih cantik.


Bu Ana yang sedang membantu Ara di dapur tiba-tiba jatuh pingsan, dia berteriak memanggil Bintang tak lama setelah itu cowok yang dipanggilnya datang. Melihat sang Mama tergelatak dilantai buru-buru Bintang mengangkatnya. Kekhawatiran terlihat dari raut wajahnya, apalagi saat ada darah keluar dari hidung Bu Ana. Arka menyuruh Daffa mempersiapkan mobil, dia bersama Bintang akan pergi kerumah sakit untuk memeriksa wanita tua tersebut.


Bima dan yang lainnya terdiam saat melihat Bintang menangis. Selama ini cowok itu tidak pernah terlihat sedih apalagi sampai mengeluarkan air mata di depan mereka semua. Senja berlari dan ikut masuk kedalam, dia memeluk Bintang dengan erat, mengusap air matanya dan meminta sang kekasih tenang.


Dalam perjalanan Bu Ana tersadar, dia mengusap pipi putranya. Keadaan dia terlihat sangat lemah tapi tetap tersenyum manis pada dua remaja itu. Beberapa kata keluar dari mulutnya membuat sang anak semakin menangis. Bintang sedikit membentak Mamanya karena perkataan yang baru saja Bu Ana ucapkan. Dia mengusap wajah dengan kasar meminta maaf dan menggelengkan kepala.


“Mama bangga punya anak seperti kamu, Bintang. Maafin Mama karena masih belum bisa menemani kamu sampai menikah nanti. Jangan menyimpan dendam pada keluarga yang lain ya, tetap sabar jika mereka menghina lagi.”


“Tante titip Bintang ya nak Senja. Jaga dia dari perbuatan buruk, sayangi dan temani jika dia merasa kesepian dan sedih. Semoga hubungan kalian berlanjut ke jenjang pernikahan, Tante do'akan itu,” sambungnya.


Melihat mobil Arka di sana, Biru dan Silla langsung menghampiri. Pintu terbuka buru-buru Bintang membawa Mamanya masuk. Dia tidak memperdulikan keberadaan dua orang itu. “Ini kenapa Ka?” tanya Biru dengan serius.


“Tadi Mamanya Bintang pingsan. Dan...., kata Senja tadi...” jawabnya. Arka tak melanjutkan ucapannya dia malah melirik ke arah gadis yang masih terdiam.


“Kamu kenapa Sen? Ada apa sama Bu Ana?”


Seketika itu Senja menangis, memeluk Silla sambil berkata jika Bu Ana telah meninggal dunia dengan suara pelan. Benar saja didalam sana dokter memberitahu jika pasien telah tiada membuat anak muda di depannya mematung. Sang dokter juga menjelaskan apa penyebab Bu Ana meninggal, hati Bintang terasa sakit karena tidak mengetahui penyakit yang di derita oleh Mamanya sendiri.


Biru mengajak Arka, Senja dan Silla melihat. Nampak Bintang yang tengah terduduk dilantai sambil menundukkan kepala. “Om...”

__ADS_1


“Biar Om yang ngomong,” jawabnya lalu melangkah mendekat dan membangunkan remaja tersebut.


Daffa yang sibuk mendapatkan telpon dari Senja, handphonenya terjatuh membuat semua teman memandangi. Pram dan Seon bertanya apa yang terjadi namun Daffa tak menghiraukan dia langsung menuju motornya.


“Ada apa sih? Daffa kenapa hah?” tanya Bima heran.


“Mending ikuti aja, perasaan gue kok nggak enak ya,” seru Leo.


Bima dkk pun mengikuti Daffa dari belakang, 20 menit kemudian mereka sampai dirumah sakit. Awalnya keempat remaja itu terdiam dan saling menatap. Namun saat melihat Daffa yang masuk kedalam mereka pun mengikutinya.


“Sen?”


“Daf, Bu Ana Daff....”


“Iya-iya, Bintang gimana keadaannya?”


“Dia lagi sama Om Biru didalam ruangan. Kenapa orang yang gue sayangi semuanya pergi, apa gue pembawa sial?”


“G—gue juga udah lihat berita itu, mungkin benar kalo gue...”


Daffa langsung memeluknya sebelum Senja melanjutkan perkataannya. Gadis itu kembali menangis, Bima yang baru sampai melihat kedua temannya berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2