
Tidak ada orang yang membuka suaranya kecuali Pram, dia kebingungan dengan apa yang terjadi, dirinya juga mengusap air mata sang Mama lembut lalu memeluknya. Ara yang melihat itu ingin juga merasakan pelukan putranya, tanpa ragu wanita tersebut melangkah maju memeluk Pram dari belakang. Hal itu jelas saja membuat sang anak terkejut, tiba-tiba dipeluk oleh orang yang tidak dirinya kenal.
“Tante, kenapa peluk saya? Maaf, lepas,” ungkapnya.
Ara meneguk ludahnya mendengar perkataan Pram. Dia memaklumi hal tersebut karena memang putranya itu belum tahu yang sebenarnya. Galang menghampiri istrinya dan membawanya kembali duduk, si suami mengelus punggung Ara. “Biar Bu Miya saja yang menjelaskan sayang.”
Pram kembali bertanya ada apa dengan semuanya, Bu Miya menghela napasnya kasar, saat akan mengungkapkan yang sebenarnya sang suami tiba-tiba datang dan memotongnya. Semua mata tertuju ke arah suara itu berasal, pria tua tersebut tidak ingin anaknya tahu tentang masa lalunya. Pak Baba berdiri, dia dengan tegas berkata bahwa Pram/Langit (Nugraha) adalah anak angkat mereka. Dia juga memberitahu siapa ibu kandungnya.
“Jaga omongan kamu! Pram adalah anak kami,” seru suami Bu Miya dengan tegas.
“Ini sebenarnya ada apa sih Mah? Kenapa laki-laki itu bilang Pram anak angkat kalian? Apa itu benar, jawab Mah, Pah?” sahutnya bingung. Dia menatap satu persatu orang-orang yang ada di sana dengan mata penuh pertanyaan.
“Jangan kamu dengarkan lelaki tua itu Pram! Orang tua kamu itu kita, semua yang diucapkannya bohong, lebih baik kamu pergi ke kamar,” ucap sang Papa. Bu Miya hanya diam tak bisa berkata-kata, sedangkan Ara berdiri ingin protes.
“Saya ibu kandung Nugraha! Saya yang melahirkan dia.”
“Bagaimana bisa, dia adalah Langit Pramudya Ananta bukan Nugraha! Sejak bayi sampai dewasa, sekarang dia selalu bersama kami. Saya dan istri sayalah yang merawatnya. Dan dia bukanlah anak kamu!”
__ADS_1
Air mata Ara seketika mengalir, dia merasa sakit akan ucapan suami Bu Miya. Memang benar dari bayi sampai dewasa Nugraha mereka rawat, akan tetapi jika saja waktu itu sang putra tidak diculik dan dijual maka sekarang dirinya masih bersama Nugraha. Biru berdiri ikut bicara, dia tidak tega melihat sang adik. Lalu setelah itu Pak Baba serta istrinya dan Galang, terakhir Bu Miya yang menceritakan semuanya membuat sang suami terkejut. Dia merupakan seorang wanita juga sama seperti Ara, maka dari itu dirinya ikut merasakan sakit dengan apa yang dirasakan adik Biru tersebut.
“Stop! Sebenarnya aku anak siapa? Kenapa kalian semua terus bertengkar?” potong Pram menghentikan pertikaian orang-orang. Dia benar-benar bingung harus mendengarkan siapa, Papanya atau orang-orang yang tidak dia kenal. Dan mengapa Mama nya itu memihak pada mereka semua, itulah yang sekarang Pram tanyakan pada dirinya sendiri.
“Kamu sebenarnya anak wanita itu, Pram. Kami membeli kamu dari dua orang yang berdiri disebelah ibu kandungmu,” jawab Bu Miya.
“J-jjadi aku bukan anak kandung Mama? Kenapa mereka tega memisahkan Pram sama ibu kandungku sendiri?” jawabnya gugup, dia tidak percaya akan ucapan sang Mama. Pram terus menatap Ara, sebenarnya dia juga merasakan hal yang berbeda saat dekat dengan wanita itu. Hatinya selalu merasa nyaman dan tentram, ternyata dia adalah ibu kandungnya.
Suami Bu Miya hanya pasrah, menghela napasnya. Berjalan maju memegang pundak sang putra, lalu menyuruhnya untuk memeluk Ara yang sedang menangis.
Pertama kalinya Pram memanggil Ara dengan sebutan Mama. Tangisnya semakin pecah, Biru yang berdiri didekat sang adik pun ikut menangis, ini kedua kalinya lelaki itu menitikkan air matanya setelah kehilangan Andi. “Ini Om Biru, kakak Mama,” ujar Ara.
Disekolah, Senja dan teman-temannya berniat akan mengikuti balapan mobil. Ini pertama kalinya geng tersebut ikut event itu, selain menantang mereka juga ternyata ingin membantu Daffa. Jika menang maka uang itu akan keempat jadikan sebagai modal sang sahabat usaha dan menebus kembali motornya. Rencana tersebut sengaja tidak mereka bicarakan didepan orangnya, sudah pasti jika Daffa tahu maka cowok itu akan melarang dan menolaknya.
Di sisi lain juga, Daffa akan menuruti amanah neneknya. Yaitu, tidak keluar malam, begadang ataupun balapan. Itu lah yang membuat Senja serta Bintang dkk tidak memberitahu. Mereka tidak ingin membuat Daffa menjadi sosok yang tidak menepati janji, apalagi itu adalah permintaan sang nenek sebelum dirinya meninggalkan dunia.
Dari dalam kelas, Bintang melihat gadis kacamata. Dia tertegun saat gadis yang dulu menembaknya berubah, bahkan para siswa yang dulu mengejeknya karena culun kini malah memuji. Bima dan Leo pun tidak tahu jika itu adalah si gadis berkacamata, mereka berdua mengucapkan kata cantik tanpa sadar.
__ADS_1
“Lu pada liatin apa sih hah?!” tanya Senja.
“Cantik,” seru Bima. Senja mengerutkan keningnya, lalu membalikkan badan melihat apa yang membuat keempat sahabatnya melongo sampai tak menghiraukan perkataannya.
“Hadeh! Ternyata itu yang buat mereka kacangi gue, kayak baru lihat cewek cantik aja. Padahal tiap hari mainnya sama cewek cantik juga,” ujarnya. Bima, Leo dan Daffa langsung melirik ke arahnya saat mendengar perkataan terakhir Senja.
“Aroma-aromanya ada yang kepincut nih sama tuh cewek. Woy! Bintang, kedip dong jangan gitu terus, biasa aja kali liatinnya,” seru Senja menyenggol lengan sang sahabat.
Tempat lain...., Bara yang tengah mengerjakan tugasnya dikejutan oleh Sasa, wanita itu tiba-tiba saja memeluk dirinya membuat Bara dengan cepat melepaskannya. Sasa beralasan bahwa dia tersandung lalu meminta maaf. Dari wajahnya terlihat wanita licik tersebut tersenyum. Tanpa Bara sadari ternyata ada seseorang yang memotret saat mereka berdua berpelukan. Sudah pasti hal itu telah Sasa rencanakan sebelumnya, entah dendam apa antara dia dan Echa sampai mau merusak hubungan rumah tangganya.
Setelah memberikan berkas kepada Bara, Sasa pamit dan menghampiri orang yang membantu rencananya. Dia memberikan beberapa uang kepada orang tersebut. Melihat hasil potonya yang bagus dia tersenyum, lalu mengirimnya kepada Echa.
“Pelukan dari orang yang dicintai dan suami orang itu rasanya hangat, sampai membuat nyaman.”
Itulah caption yang ditulisnya, tak lama pesannya dibuka oleh Echa. Melihat suaminya berpelukan dengan Sasa jelas saja dia langsung menelpon dan menanyakan sedang apa suaminya itu.
Bara menjelaskan jika itu tidak sengaja karena Sasa tersandung, dia berusaha membuat istrinya yakin akan ucapannya tersebut.
__ADS_1