Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 43


__ADS_3

Mereka berdua pun menyantap makanannya masing-masing sedangkan Cantika hanya melihat saja. Gadis itu tidak memesan makanan satu pun. Beberapa saat kemudian Senja dan yang lain datang ikut gabung. Lagi-lagi Leo bersama Bima menggoda temannya, sungguh tidak ada kerjaan selain mengganggu para sahabat. Tidak lama dari itu bel masuk berbunyi semua murid termasuk Bintang dkk bangkit dari duduknya.


Saat di koridor, mereka berenam kembali bertemu dengan Aldrian. Cowok tersebut mengajak Senja bolos, dan dengan beraninya Aldrian menggenggam tangan gadis didepannya. Bintang serta Pram kompak melarang, keduanya menyingkirkan tangan Aldrian dari tangan Senja. “Ternyata lu perempuan yang nggak cukup dengan satu cowok ya? Hebat,” ujar Aldrian tersenyum.


“Maksud lu apa? Gue cewek murahan gitu yang mau sana sini? Sorry, mereka berempat udah kayak saudara sendiri dan dia adalah pacar gue! jawab Senja sembari menunjukkan jarinya ke arah lima cowok yang berdiri disamping dirinya.


“Kayaknya yang mau sana sini itu lu deh! Kemarin gue lihat akun media sosial lu, banyak juga ya ceweknya,” sahut Daffa sambil melihat handphonenya.


“Cabut aja, buang-buang tenaga dan waktu kalo kita ladenin nih orang.”


“Gue peringatin sama lu dan yang lain, jangan pernah berurusan dengan geng High Five!” seru Bima.


Satu persatu berjalan sembari menyenggol Aldrian dan teman-temannya. Sesampainya dikelas, Leo menatap Bima. “Sejak kapan nama geng kita ganti? Kok high five?”


“Sejak sekarang dong! Nggak boleh ada yang protes, okay-okay wahai anak-anaknya ibu Senja.”


Bintang menggeleng dia tidak peduli dengan nama geng mereka. 5 menit kemudian Pak guru datang membawa pentungannya. Baru saja masuk guru tersebut sudah menyuruh para muridnya untuk mengumpulkan tugas yang dirinya berikan minggu lalu. Senja dkk saling lirik dan mengerutkan kening. Pak guru yang melihat geng Senja kebingungan pun menghampirinya, satu pukulan kecil membuat kelima orang itu terkejut.


Sang guru meminta mereka mengeluarkan bukunya, namun Senja dan yang lain malah tersenyum. “Bapak yang baik nan ganteng. Ramah serta penyayang pada anak muridnya. Hehe..., saya nggak bawa bukunya gimana dong?”


Leo mengangkat tangannya dan ikut berkata seperti Senja, kelimanya sama-sama beralasan tidak membawa buku padahal mereka sama sekali tidak ingat jika mempunyai tugas. Si guru menghela napasnya sebelum berbicara Senja dkk kompak pergi ke luar duluan. “Siapa yang nyuruh kalian berdiri di sini?” ucap sang guru tegas.

__ADS_1


“Biasanya juga di sini Pak. Emangnya bapak nggak lihat ya cuaca mendung, kalo misalkan saya sama yang lain berdiri dilapangan pasti kehujanan,” jawab Senja.


“Saya tidak peduli, mau panas ataupun hujan kalian berlima harus berdiri dilapangan! Atau mau diganti saja dengan membersihkan toilet pria? Kalian sudah dua kali tidak mengerjakan tugas dari saya, sana cepat!”


“Iya,” ucap mereka serentak. Baru saja pelajaran pertama kelima murid itu harus terkena hukuman. Dengan langkah lemas semuanya berjalan menuju lapangan. Di sana bukannya diam dan hormat, Bima malah mengajak Bercanda. Dari atas sang guru mengawasi, dia mengangkat pentungannya dan membuat Bima langsung berhenti tertawa. Daffa terus memandang langit yang sangat gelap, lambat laun rintik hujan mulai turun. Senja berteriak dari lapangan kekelas dengan suara keras, dia meminta berteduh. Namun sang guru menggeleng.


“Aish! Dasar guru galak,” omel Senja.


“Nggak papa coy kehujanan. Nanti paling kita disuruh pulang karena pakaian yang basah. Iya nggak woy?” sahut Bima tersenyum. Paris yang kebetulan melihat Senja dkk kehujanan pun langsung menyuruh mereka berteduh, memerintahkan semuanya untuk berganti pakaian yang tersedia diruang osis. Selain itu guru mereka yang satu ini berbicara pada si guru galak. Setelahnya Senja dkk dipersilahkan duduk mengikuti pelajaran.


°°


°°


°°


Kebetulan saat itu Bintang, Leo dan Bima tengah mampir disebuah warung. Tidak sengaja ketiga cowok tersebut melihat Pram yang bergabung dengan Aldo. Karena penasaran mereka pun mengikutinya dan sampailah di tempat tinju. Di sana ternyata sudah ada banyak orang.


“Ngapain si Pram sama Aldo?” tanya Leo penasaran.


“Ikutin aja guys, kita lihat mereka mau ngapain didalam sana.”

__ADS_1


Betapa terkejutnya mereka bertiga setelah mendengar nama Pram dan Aldo yang akan bertarung. Ronde pertama sudah dimulai, Aldo sangat beringas memukul wajah tampan Pram. “Bangun ayo bangun!” teriak Bima spontan.


“Bintang, Leo, Bima. Kenapa mereka ada di sini?” tanya Pram pada dirinya sendiri.


“Bangun Pram! Hajar si Aldo jangan kasih ampun. Ayo semangat!!!” teriak Leo.


Bintang hanya diam menonton memperhatikan gerakan Aldo. Dia sedikit kagum dengan pukulan yang diberikan kepada kekasih Senja itu. Terlihat jika musuhnya sangat semangat dan berambisi membuat sang lawan kalah. Bintang mengangguk, di saat ronde kedua akan dimulai dia berbisik kepada Pram.


Tanpa mereka sadari ternyata ada salah satu murid yang satu sekolah tengah merekam pertarungan. Baru saja mengambil ponselnya, Senja sudah dibuat terkejut saat melihat Pram dengan ketiga teman lainnya berada ditempat pertarungan.


Gadis itu pun segera mengambil kunci motornya. Biru yang baru saja sampai heran melihat Senja buru-buru mengeluarkan sepeda motornya. Begitu juga dengan Pak Arya, dia meminta Biru mengikuti sang putri. Dalam perjalanan ada saja halangan bagi Senja, mulai bermasalah dengan preman, jalan yang macet sampai hampir menabrak orang. Hatinya benar-benar merasa takut jika sang kekasih terluka apalagi lawannya adalah Aldo.


Setelah sampai, Senja meninggalkan motornya sembarangan. Dia begitu cemas, menerobos setiap orang yang sedang berjalan. Karena kecemasannya itu dirinya sampai tersandung dan jatuh, tangan mungilnya terinjak oleh salah satu penonton. Biru yang melihat itu langsung berlari dan menolong Senja.


“Ada apa sih hah? Kenapa pergi ke tempat kayak gini?”


“Nanti didalam aja Om jelasinnya. Ayo cepetan masuk aku nggak mau terjadi sesuatu sama Pram.”


“Pram? Maksudnya Nugraha?” tanya Biru. Senja mengangguk atas pertanyaan dari sang Om. Kini pertarungan sudah ronde terakhir, wajah tampan Pram penuh dengan memar. Bahkan pinggir bibirnya berdarah sedikit. Dia terbaring lemah, Bintang serta kedua teman lainnya terus memberikan semangat agar Pram dapat bangkit. Senja panik melihat kekasihnya seperti itu begitu pun dengan Biru.


“Pram...., bangun! Jangan lemah gue ada di sini. Gue sayang sama lu, ayo bangun Pram....”

__ADS_1


Cowok didepannya masih belum bergerak, dia tetap terbaring lemah. Namum saat Senja memegang lengan serta mengelusnya mata Pram mulai terbuka. “I love you!” ungkapnya. Senja tersenyum, dia menyemangati sang kekasih begitu juga dengan yang lain.


__ADS_2