
Kegiatan mereka berjalan seperti biasa. Tidak berubah sama sekali, setelah bersekolah semuanya pergi berkumpul sampai larut malam. Kecuali Daffa yang disibukkan dengan jualannya di rumah. Cowok itu sebenarnya ingin kembali ikut bermain dengan yang lain, tapi dia juga harus mencari nafkah sendiri, membayar uang sekolah serta untuk makannya.
Malam harinya saat Senja akan pergi lagi ke basecamp menemui teman-temannya dia dihentikan oleh Sea. Wanita itu meminta anak tiri kakaknya untuk mengantarkan dia ke sebuah restoran. Senja menolak, dia tidak mau membantu karena kesal akan kelakuan Sea padanya waktu pagi.
“Di sana ada ojek, mending lu naik itu aja. Gue buru-buru soalnya,” ucap Senja. Sea menggeleng, dia tidak mau jika harus naik ojek malam hari. Kepalanya merasa pusing mendengar ocehan adik Mamanya tersebut, dan mau tak mau Senja pun mengiyakan jika dia akan mengantarkan Sea.
Dalam perjalanan, Senja melihat dari kaca spion jika wanita yang dibonceng nya tengah telponan. Dia tidak dapat mendengar apa yang Sea bicarakan. Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di sebuah restoran.
“Thanks ya,” ucapnya. Senja hanya memasang wajah datar dia sama sekali tidak membalas senyuman dari Sea. Saat akan berputar tiba-tiba saja sebuah mobil melaju dengan sangat cepat. Senja yang tidak sempat menghindar pun tertabrak oleh kendaraan beroda empat tersebut.
Orang-orang yang berada di sekitaran langsung berkerumun melihat Senja yang terbaring di jalan. Untungnya ada salah satu orang yang dengan cepat menelpon ambulans. Tidak lama setelahnya mobil berwarna putih itu datang dan langsung memasukkan Senja kedalam. Di tempat lain, Bintang tengah menunggu kedatangan sahabatnya di basecamp. Namun hampir satu jam lebih sahabatnya itu tak kunjung datang. Padahal Senja berkata jika dia akan sampai dalam waktu 20 menit.
Biru yang sedang meminum kopi seketika teringat pada gadis kesayangannya. Hatinya merasa tidak enak, meminta sang istri mengambilkan ponselnya. Setelah itu dia menelpon Senja akan tetapi tidak diangkat. Begitu juga dengan Pak Arya, dia yang sudah tertidur tiba-tiba saja bangun. Laura bertanya mengapa suaminya itu berkeringat banyak padahal pendingin ruangan masih menyala.
“Kamu kenapa Mas? Apa AC nya kurang dingin sampe kamu kegerahan begitu?” tanya Laura. Pak Arya menggelengkan kepala, tanpa berbicara dia langsung bangkit dan melangkahkan kakinya menuju kamar Senja.
Laura mengekor suaminya, dia mengernyitkan dahi. Pintu kamar pun dibuka keduanya tidak melihat keberadaan Senja didalam.
“Ada apa Mas?” tanyanya lagi.
__ADS_1
“Coba kamu telpon Senja dan tanyakan dia ada dimana.”
Laura langsung mengambil ponselnya dan menelpon Senja dihadapan sang suami. Tiga kali dirinya coba namun tetap sama, handphone putrinya tidak aktif. Hati Pak Arya gusar dia takut terjadi sesuatu kepada anaknya. Saat itu jam telah menunjukkan pukul 22.35, suara bel terdengar, Laura buru-buru membukakan pintu. Ternyata yang datang Biru, lelaki tersebut menanyakan Senja kepada Pak Arya.
“Senja tidak ada di rumah. Mungkin main seperti biasa sama Bintang.”
“Saya sudah ke basecamp nya tapi kata mereka Senja tidak ada dan belum datang ke sana. Perasaan saya sejak tadi tidak enak, takut anak itu kenapa-kenapa.”
“Sama nak Biru, saya juga merasakan hal seperti itu. Di telpon nggak aktif,” jawab Pak Arya gelisah. Laura mengelus punggung suaminya meminta Pak Arya untuk tetap tenang. Biru memberitahu jika dia sudah meminta Bintang serta yang lain mencari Senja.
Sea kini sedang menikmati kebersamaannya dengan Daniel. Dua orang tersebut ternyata masih berhubungan. Entah apa yang keduanya bicarakan yang pasti wajah mereka terlihat bahagia. Di rumah sakit, darah segar terus mengalir dari kepala Senja. Dokter segera membawanya ke ruang UGD, mereka berusaha yang terbaik untuk korban kecelakaan tersebut. Beberapa jam kemudian, sang dokter meminta suster menelpon keluarga korban, sayangnya ponsel milik Senja tertinggal ditempat kejadian. Mereka tidak tahu harus menghubungi siapa.
“Bin, kita cari kemana lagi si Senja. Udah keliling sana sini, capek gue.”
Matanya terbelalak saat orang-orang itu menjelaskan ciri-ciri korban. Bima yang baru selesai bingung karena sahabatnya itu sudah tidak lagi berada di tempat. Saat mendengar obrolan dari orang-orang Bintang langsung pergi meninggalkan Bima yang masih buang air kecil.
Sesampainya di rumah sakit, dia bergegas menuju resepsionis menanyakan tentang korban kecelakaan yang baru saja terjadi.
“Anda keluarga korban?” tanya dokter. Bintang ingin memastikan terlebih dahulu sebelum mengiyakan pertanyaan dokter. Setelah dibawa ke ruangan Senja, dia seketika terdiam melihat sahabatnya terbaring lemah dengan kepala ter-perban yang masih ada noda darah. Pukul 04.00 cowok itu masih setia menunggu, dia lupa untuk menghubungi keluarga Senja serta teman-temannya.
__ADS_1
Pagi harinya, Bintang terbangun. Dia terus melihat Senja dari luar jendela. Suara dering telpon membuatnya terkejut, saat akan dirinya angkat tiba-tiba saja handphonenya mati.
“Gue lupa charger lagi.”
“Pinjam telpon rumah sakit aja buat hubungi Om Biru,” sambungnya.
Di kediaman Pak Arya. Laura melihat adiknya yang terus-terusan tersenyum. Sang kakak mengira jika Sea tengah berkirim pesan dengan mantan kekasihnya, Daniel. Tidak mau mengganggu dia pun pergi, Sea berbalik badan menatap kepergian kakaknya sembari menyunggingkan senyum.
Raut wajah Pak Arya terlihat pucat setelah mendapatkan telpon dari Biru. Dia buru-buru mengambil kunci mobilnya, Laura yang penasaran langsung ikut naik. Dia tidak bertanya kemana mereka akan pergi.
“Loh Mas, ngapain kita ke rumah sakit? Kamu nggak papa kan?” tanyanya heran.
Pak Arya berlari, dia melihat ada Biru, istrinya dan juga Bintang. Langsung saja lelaki tua tersebut masuk kedalam menemui putrinya. Laura terdiam saat melihat Senja yang terbaring, dia tidak berkata apa-apa namun tanpa sadar air mata mulai mengalir di pipinya.
Silla yang tahu itu mengelus Laura dengan lembut, dia menenangkan hati wanita tersebut.
“Senja baik-baik saja kok mbak,” ujarnya. Laura melirik lalu tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Kok gue bisa nangis sih lihat dia terbaring begitu,” ucapnya dalam hati.
__ADS_1
“Bintang lebih baik kamu pulang. Beritahu pihak sekolah jika Senja tidak bisa masuk dulu,” ucap Biru sambil menepuk pundaknya.
“Kamu tenang aja dia nggak kenapa-kenapa, nanti pulang sekolah kamu bisa datang lagi ke sini bareng Bima dan yang lain. Sekarang pulanglah,” sambungnya dengan suara lembut. Biru tahu jika Bintang begitu khawatir akan keadaan Senja, dia juga mengetahui bahwa lelaki itu menyimpan perasaan suka terhadap sahabat perempuannya.