
Jendela kamar berhasil terbuka olehnya, buru-buru keluar dari kamar dan pergi mengendap-endap. Wanita tersebut berniat membalas perbuatan Daniel kepada dirinya, dia tidak akan membiarkan lelaki itu hidup bahagia dengan calon istrinya. Malam semakin larut, jalanan terlihat begitu tak ada satupun kendaraan yang lewat. Namun, Sea tetap berjalan seorang diri menatap ke depan sambil menangis. Membayangkan kesalahan yang telah diperbuat pada Laura dan sang ibu serta kecelakaan Senja dulu.
Di tempat lain, seorang wanita tengah tertidur sambil berpelukan dengan sosok laki-laki. Dia tak lain adalah Daniel, belum menikah akan tetapi sudah tidur bersama. Sesampainya di tempat tersebut, terlihat mata Sea berkaca-kaca, dia mengingat kejadian dulu dimana dirinya melakukan hal terlarang dengan sang mantan.
Tangan Sea memegang perut, ingin rasanya wanita itu mengugurkan kandungannya. Ketika akan menyelundup masuk, seorang pria datang menghampiri, ternyata satpam yang menjaga, dia menyapa Sea. Satpam tersebut tidak tahu jika Daniel telah memutuskan hubungan dengan wanita didepannya.
Sea tak berkata dia pergi meninggalkan rumah besar itu. Diperjalanan pulang dia mengeluarkan ponsel lalu mengirimkan sebuah video kepada kedua orang tua kekasih baru Daniel. Sea melakukan hal tersebut agar mantan kekasihnya tidak jadi melakukan pernikahan.
Di keesokan paginya, Senja masih saja tertidur pulas. Gadis itu bahkan sama sekali tidak mendengar ketukan pintu dari luar kamar. Bintang serta yang lainnya sudah menunggu diruang tamu, 15 menit berlalu namun yang muncul malah si Mama muda. Laura memberitahu para anak cowok jika Senja sangat susah dibangunkan. Dia meminta mereka semua untuk masuk kedalam kamar dan membangunkannya sendiri.
“Ini nih yang gue suka, waktunya jahil Leo,” ujar Bima bersemangat. Sang sahabat pun mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju kamar Senja, sedangkan yang lain menunggu dibawah.
Setelah berada didalam kamar, keduanya menggelengkan kepala melihat gaya tidur sahabat perempuannya. Bima mulai mengeluarkan ponsel lalu memotret Senja yang tengah menganga. “Ambil air, siram nih kebo.”
Leo segera masuk kedalam kamar mandi, dia membawa gayung berisikan air. Seketika itu juga Senja terbangun sambil berkata bocor. Betapa terkejutnya dia saat melihat Bima dan Leo berdiri sambil tertawa. “Wah kampret! Awas lu berdua ya, sana-sana pergi hus!!”
“Bangun woy udah siang nih. kita kuliah pagi jangan lupa,” ucap Leo.
Senja mengambil alarm disampingnya, dia melihat jam tersebut yang ternyata sudah menunjukkan pukul 07.55. “Hilih! Siang darimana orang masih jam tujuh, dah sana keluar gue mau mandi.”
Bima, Leo menurut. Saat sudah sampai dibawah cowok itu menunjukkan hasil potretannya kepada yang lain. Sedikit kecewa karena hasil poto itu masih terlihat cantik. Walaupun demikian, Bima akan mengeditnya menjadi stiker meme dan mengirimkannya ke grup nanti.
Di kampus, Gibran, Gio serta mahasiswa VIP lainnya tengah berkumpul bersama. Mereka membahas sesuatu yang penting.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Senja telah selesai berdandan. Dia menyapa ketujuh temannya dengan senyuman manis. Setelah itu berpamitan pada Laura, sang Papa dan nenek. Ketika akan berangkat ban motornya terlihat kempes. Gadis itu pun meminta kunci mobil pada Laura, padahal Bintang menawarkan agar Senja ikut kepadanya.
Langit terlihat begitu cerah, para mahasiswa dan mahasiswi tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Kedatangan Senja dkk ke kampus membuat perhatian banyak orang. Melissa CS yang melihat menyunggingkan bibir, dia memperhatikan juniornya itu dari atas.
“Wah gila, kayaknya mereka semua bakal masuk circle nya Gibran deh. Kemarin juga gue lihat kalo mereka kumpul sama Gio CS.”
“Serius? Padahal mahasiswa baru tapi udah bisa deket sama mereka.”
“Kalo lu mau deket juga harus kaya dulu, lihat noh gayanya aja sultan.”
Senja tak memperdulikan omongan orang-orang tersebut. Dia berjalan menuju kelasnya sambil bergandengan tangan dengan Bintang. Thalia tersenyum saat melihat ekspresi Gibran. Gadis itu menggodanya serta mengejek. “Sebelum janur kuning melengkung gas aja Gib, nggak usah nahan-nahan begitu.”
“Apaan sih nggak jelas lu.”
“Aelah sok-sokan, cemburu kan lu lihat Senja sama tuh cowok gandengan,” ledek Thalia.
“Bu, kata Ayah buat adek kapan?” tanya Shena dengan polos. Galang tertawa kecil mendengar perkataan putri kecilnya.
“Kapan-kapan ya, udah jangan dibahas lagi. Ayo cepetan makannya abis itu kita ke kedai Om Biru.”
Shena hormat pada Ara, dia melanjutkan makan. Setelah beberapa saat mereka bertiga pun pergi, ketika dijalan tak sengaja Ara melihat Bu Miya, sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan ibu angkat Nugraha tersebut. Shena nampak bingung, gadis kecil itu mengira jika wanita tua yang disapa Ara adalah neneknya.
“Gimana kabarnya Bu? Lama nggak ketemu, ngomong-ngomong suaminya dimana?”
__ADS_1
“Suami saya sudah nggak ada nak Ara. Langit gimana kabarnya saya kangen sama dia. Ini siapa?”
“Shena, anak saya Bu. Mau ke kedai kak Biru kah? Kalo iya kita barengan aja pakai mobil.”
“Iya tapi nggak perlu nak, takut ngerepotin,” ujarnya. Ara menggeleng dia segera menggandeng lengan Bu Miya dan mengajaknya masuk kedalam mobil. Ternyata hari ini adalah hari ulang tahun suaminya, dia berniat membelikan sebuah cake kesukaan sang suami.
Setelah sampai di kedai Biru, Galang pamit untuk pergi ke kantor. Dia mencium kening si istri dan putrinya, menyuruh Biru menjaga dua wanita kesayangannya tersebut. “Udah gede nggak perlu dijaga,” seru sang kakak ipar.
Shena berlari menghampiri Silla yang sedang duduk. Sedangkan Ara membawa Bu Miya masuk melihat-lihat cake yang akan wanita itu beli. Mereka berdua sempat mengobrol sebentar membicarakan Nugraha. Ternyata Bu Miya begitu rindu pada anak angkatnya tersebut, dia merasa kesepian dirumah.
“Nanti saya suruh Nugraha datang kerumah ibu. Eum kalo mau gimana Bu Miya tinggal bersama saya saja?”
“Saya nggak papa tinggal sendiri ya walaupun kesepian. Tidak perlu repot menampung saya yang bentar lagi menyusul suami.”
“Jangan berkata seperti itu Bu, saya malah seneng kalo misalkan Bu Miya bisa tinggal bareng. Dirumah jadi nggak berdua aja sama Shena, Galang kadang pergi ke luar kota sedangkan Nugraha selalu bermain sama teman-temannya.”
“Pasti Nugraha senang,” sambung Ara.
Biru datang menyuguhkan teh dan cake untuk Bu Miya. Dia setuju dengan perkataan sang adik, melihat kondisinya yang seperti itu membuat lelaki tersebut merasa kasian. Mau bagaimana pun juga Bu Miya telah merawat Nugraha dari bayi sampai dewasa. Karena bujukan dari adik kakak tersebut akhirnya wanita tua itu mau ikut dan tinggal bersama. Dia mengucapkan terimakasih telah peduli terhadap dirinya.
“Tante, Om Biru sekarang jarang beliin Shena lollipop.”
“Nanti deh Tante yang beliin, kita borong semua permen.”
__ADS_1
“Nggak boleh. Kata Om kalo makan permen banyak-banyak nanti sakit gigi. Aku cukup satu juga,” ucapnya.
Biru yang mendengar pengaduan sang keponakan kepada Silla pun langsung menggendongnya, dia mencubit gemas hidung Shena sambil berkata akan membelikan lollipop.