
Bima, Daffa, Leo dan Seon sudah terlebih dulu berada di sekolah. Keempat lelaki tersebut menunggu kehadiran Bintang yang belum juga terlihat batang hidungnya. Pram yang datang memarkirkan motornya tidak menyapa mereka. Semenjak putus hubungan dengan Senja, cowok itu kini tidak berbicara lagi pada teman-temannya.
Keempatnya hanya melihat kepergian Pram ke kelas, tidak lama kemudian Bintang datang. Membuka helmnya dan langsung pergi, padahal teman-temannya sudah lama menunggu namun dia mengabaikannya. Daffa dan Bima saling pandang, merasa heran akan sikap lelaki satu itu. Wajahnya pun terlihat murung, mereka mengejar Bintang dan sampailah di kelas.
Seon membuka obrolan dengan menanyakan keberadaan Senja. Sebab semalam mereka tidak menemukan gadis tersebut. Bintang menghela napasnya menceritakan jika Senja sedang berada di rumah sakit sekarang. Pram yang tak sengaja mendengar percakapan kelima cowok tersebut pun langsung menghampiri. Dia bertanya alamat rumah sakit yang merawat Senja.
Setelah mendapatkannya, dia bergegas pergi ke luar menuju parkiran. Bintang dkk hanya melihat Pram dari atas.
“Jadi pulang sekolah kita ke sana?” tanya Leo.
Bintang mengangguk, lalu dia izin pada teman-temannya untuk pergi ke ruang guru. Memberikan surat yang Biru titipkan padanya. Selama pelajaran Daffa terus memperhatikan sahabatnya. Nampak rasa khawatir pada wajah Bintang, dia menepuk punggung dan menyuruhnya untuk tetap pokus mendengarkan penjelasan guru.
Di rumah sakit, Pram baru saja datang. Dia di sambut ramah oleh Biru dan Silla. Setelah saling sapa dirinya menanyakan keadaan Senja.
Dokter ke luar, dia memberitahu jika keadaan pasien sudah cukup baik. Dia juga menjelaskan kemungkinan besar jika Senja bangun nanti akan lupa ingatan. Itu semua karena benturan keras yang mengenai kepalanya.
“Pram mending kamu kembali ke sekolah. Sebentar lagi ibu kamu akan datang ke sini menjenguk. Dia pasti marah jika kamu bolos,” ujar Biru. Dirinya tidak mau membuat kegaduhan, Pram mengiyakan ucapan Omnya.
Siang berganti sore, bel sekolah sudah berbunyi menandakan sekolah telah usai. Bintang dkk bersiap memasukkan alat tulisnya kedalam tas. Mereka berlima memutuskan untuk langsung pergi ke rumah sakit tanpa pulang terlebih dahulu. Melihat Bintang yang buru-buru dan mengebut membuat keempat temannya khawatir. Mereka takut sesuatu terjadi pada sahabatnya, apalagi suasana di jalanan begitu ramai dan macet.
Daffa menyusul Bintang dan menghentikannya. Keduanya berhenti sejenak di pinggir. “Lu mau mati hah!”
“Gue tahu lu cemas sama keadaan Senja, tapi nggak kayak gini juga Bin. Lu bawa motor terlalu cepat, nggak peduli sama keselamatan lu dan orang lain hah?!” sambungnya dengan nada tinggi setelah itu dia menghela napas dan meminta maaf.
“Seharusnya gue yang minta maaf Daf,” ucapnya tersenyum tipis. Bima, Leo dan Seon ikut berhenti, mereka mengomel karena tertinggal jauh.
30 menit kemudian kelimanya sampai di rumah sakit. Kebetulan saat itu Senja telah sadarkan diri, namun apa yang dokter katakan benar jika gadis tersebut mengalami amnesia. Bima dkk terkejut, mereka kembali memperkenalkan diri masing-masing dengan berkata jika mereka adalah sahabatnya. Senja mengernyit.
__ADS_1
“Emangnya mereka sahabat aku Pah?”
Pak Arya mengangguk, dia membenarkan perkataan teman-teman putrinya. “Cowok semua?” tanyanya kembali.
“Iya sayang.”
Sikap dan sifat gadis itu begitu berbeda. Jiwa tomboinya seketika menghilang, setiap berbicara nadanya selalu pelan dan lembut. Dan tidak seperti biasanya, kini Senja selalu tersenyum saat mengobrol. Bima berbisik kepada Leo jika dirinya merasa seram melihat perubahan pada sahabatnya.
“Om, Tante, kalian mungkin capek menunggu Senja sadar. Biar kita aja yang jaga dia sekarang,” ucap Bintang.
“Iya benar Mas, kita pulang dulu aja. Aku juga harus lihat keadaan ibu takutnya Sea malah pergi dan nggak ngejaga.”
“Ya sudah, kita pulang dulu. Biru apa kamu masih mau di sini?”
“Balik aja Pak, nanti malam ke sini lagi. Kebetulan mau lihat kedai dulu,” jawabnya.
“Heh, lu berdua.”
Daffa menegur kedua sahabatnya yang asik mengupas jeruk. Bima dan Seon begitu menikmati makanan yang berada di ruangan Senja. Leo yang melihat itu langsung menjitak kepala dua orang tersebut. “Gila bener lu berdua, datang cuman buat ngabisin makanan.”
“Lu mau?” tanya Bima menyodorkan jeruk yang telah dia kupas kepada Leo. Sedangkan Seon mengangguk sambil mengunyah.
“Ya mau lah, rejeki nggak boleh ditolak,” jawabnya dan langsung melahap jeruk tersebut. Bima menjitak kepalanya dan berkata jika Leo sama saja dengan dirinya. Daffa menggelengkan kepala melihat kelakuan tiga orang itu. Senja tertawa dia tidak menyangka jika mempunyai sahabat yang seperti mereka, berbeda dengan Bintang. Cowok itu hanya terdiam sambil terus menatap Senja.
“Lu nggak papa kan?” tanyanya.
“Nggak, cuman sedikit pusing aja.”
__ADS_1
“Beneran? Nggak ada yang sakit?”
“Iya, nggak ada kok.”
“Lu tahu nggak Sen, nih anak tadi ngebut datang ke sini karena beneran khawatir sama keadaan lu,” seru Bima, mulutnya penuh donat. Seon memukul menyuruh Bima tidak berbicara saat mulut penuh dengan makanan.
Memang sejak tadi Senja memperhatikan kelima sahabatnya, dari lima orang itu hanya Bintang lah yang sangat anteng, dia juga dapat melihat kecemasan yang ada di wajah lelaki tampan tersebut. Bahkan Senja mengira jika Bintang adalah kekasihnya.
“Mau minum?” tanyanya dan di angguki Senja.
Makanan di ruangan Senja sudah mulai habis. Namun Bima dan Seon masih saja merasa lapar. Keduanya izin kepada Bintang untuk ke kantin rumah sakit. Daffa yang menginginkan sahabatnya berduaan dengan Senja pun ikut berpamitan mengajak Leo pergi.
“Kamu nggak ikut mereka?”
Bintang menggeleng, dia ingin menemani Senja. Hal itu jelas saja membuat gadis tersebut semakin yakin jika Bintang adalah kekasihnya. Senja tersenyum manis memegang lengan lelaki yang duduk di sampingnya. Jantung Bintang berdegup kencang, dia berusaha melepaskan genggaman tangan tersebut namun dicegah oleh Senja.
Tiba-tiba kepalanya kembali merasakan pusing. “Tiduran lagi aja nggak usah duduk,” titah Bintang, dia menyelimuti Senja dan merapikan rambut gadis itu dengan lembut.
Bima, Seon, Leo dan Daffa tengah makan bersama. Tanpa sengaja keempat orang itu melihat keberadaan Cantika. Awalnya mereka tidak mau menyapa namun gadis tersebut lebih dulu melihat dan menghampiri. Dia bertanya apa yang Bima dkk lakukan di rumah sakit.
“Senja sakit? Kok bisa?”
“Ya bisa lah orang dia manusia,” jawab Daffa.
“Demit tuh anak,” seru Bima.
“Titisan Mak lampir njay,” sambung Leo.
__ADS_1