Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 76


__ADS_3

Daffa memberikan kabar jika hasil pengumuman juara sudah keluar. Namun mereka mendapatkan juara kedua, hadiahnya pun setengah dari juara pertama. Walau begitu Senja dkk tetap merasa senang karena dengan modal berjalan di atas panggung dia bisa mendapatkan uang.


Di sekolah, beberapa orang yang tahu Senja ikut event mengucapkan selamat. Mereka semua memuji dan mengatakan jika Pram adalah pasangan yang serasi.


Senja yang memang mempunyai penghasilan sendiri secara diam-diam membantu. Karya lukis yang sangat bagus itu dirinya jual pada seorang seniman. Selain dia ternyata keempat sahabatnya pun ikut menyumbang agar uang yang mereka butuhkan cepat terkumpul. Daffa dkk tidak ingin melihat Bintang terhina didepan Cantika dan keluarganya. Semuanya menginginkan Bintang kembali berkumpul, bermain dan bersenang-senang bersama. Satu tidak hadir membuat mereka merasa kekurangan.


......................


Satu minggu berlalu, Senja bersama keempat temannya pergi kerumah Cantika. Mereka datang dengan baik namun disambut buruk oleh pemilik rumah. Pasalnya saat itu tengah ada tamu yang berkunjung, dan tamu tersebut tak lain ialah Farid, calon tunangan Cantika. Senja melihat jika pacar sahabatnya itu sedang dipakaikan cincin oleh seorang cowok.


Dengan marah dia menyimpan uang yang cukup banyak itu di atas meja. Tak lupa mereka juga meminta Cantika untuk putus dari Bintang, kedua orang tua Farid bingung akan perkataan kelima anak remaja tersebut.


“Hutangnya lunas! Jangan ganggu sahabat gue lagi,” ucap Senja.


“Lu jangan macam-macam Can, nggak usah cari alasan lagi buat gagal putus dari Bintang. Karena gue udah rekam semuanya, mulai dari kalian saling memasangkan cincin,” lanjut Daffa tersenyum.


Cantika terdiam, dugaannya benar. Mencari masalah dengan Senja dkk bukanlah hal yang benar. Sudah pasti dia akan kalah karena kelima orang itu merupakan murid pintar. Setia pada persahabatan dan tidak akan tinggal diam jika salah satu dari mereka mengalami masalah.


Di keesokan harinya, Bintang datang menjemput. Namun kedatangannya tidak disambut ramah, dia justru diminta pergi dan tidak datang lagi.


Sesampainya disekolah Bintang langsung dihampiri oleh kekasihnya. Gadis itu meminta hubungan mereka berakhir, dalam hati merasa senang namun dia juga bertanya-tanya. Masih dengan wajah datar Bintang menanyakan alasannya. Senja yang melihat berdengus kesal, dia mengomel sendiri membuat keempat temannya menggelengkan kepala.


“Tinggal iyain apa susahnya sih, pake nanya alasan. Udah kelewat bego si Bintang.”


“Sabar-sabar. Ini masih pagi Sen jangan marah-marah terus. Cepet tua tahu rasa lu nanti,” ungkap Seon.

__ADS_1


“Ah berisik!”


“Lah,” seru Bima, Leo dan kedua lainnya secara bersamaan. Mereka saling pandang, padahal yang sedari tadi berisik gadis itu. Tapi malah mereka lah yang disalahkan.


Didalam kelas, Bintang duduk seorang diri. Dia memikirkan cara untuk membayar hutang pada keluarga Cantika. Tiba-tiba para sahabatnya datang, Merangkul dan mengajak bercanda. “Udah nggak usah banyak mikir Bin, masalah lu semuanya beres. Jadi malam ini main nggak?” ucap Bima.


“Hah? Maksud lu apa Bim?”


“Ah elah! Kayaknya nggak perlu dijelasin juga lu pasti paham.”


“Lu nggak lihat pesan yang gue kirim ke lu kemarin malam?” lanjut Daffa.


Bintang menggeleng, dia mengambil ponselnya lalu melihat pesan yang dikirim Daffa. Dia terkejut melihat mantan kekasihnya tengah bertukar cincin dengan lelaki lain. Ternyata apa yang teman-temannya katakan benar jika Cantika lah yang sudah berselingkuh.


“Okay! Nanti malam gue ikut kalian main lagi. Sekalian mau ada suprise buat seseorang,” jawab Bintang tersenyum.


“Udahlah nggak usah ada supri, apasih supres segala,” seru Bima.


“Belajar ngomong dulu sana,” ucap Leo.


“Ini ibu ketua kenapa diem mulu, tadi pagi perasaan nyerocos terus,” ledek Seon. Semua mata tertuju padanya lalu dia pun menutup wajah dengan buku.


“Mungkin baterai nya abis,” sambung Daffa.


“Woy kalian! Ini kan udah seminggu lebih dan gue berhasil nerima tantangan dari lu semua. Seperti perjanjian diawal, mulai hari ini semua kebutuhan gue lu pada yang bayar dan tanggung, okay!”

__ADS_1


“Eh iya kah? Padahal baru juga tiga hari ya, masa udah seminggu lebih aja.”


“Mata lu tiga hari. Nggak mau tahu pokoknya mulai hari ini apapun yang gue inginkan harus lu kabulin, sekarang ikut gue ke kantin,” ucap Senja bangkit Daria duduk mengajak semua temannya pergi. Bintang dan Pram yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam.


Sesampainya di kantin, Senja berdiri di atas kursi. Dia memberikan pengumuman pada seluruh siswa yang ada di sana jika sarapan pagi ini semuanya gratis! Siswa-siswi bersorak, mereka mulai mengambil apa yang diinginkan. Daffa, Bima, Leo juga Seon menelan ludah dan bertatapan. Awal sekolah uang saku mereka berempat harus habis untuk mentraktir para murid.


Senja tersenyum kearahnya sedangkan Bima dkk hanya mematung melihat isi dompet. “Kalian kan anak para sultan, udahlah nggak usah pasang wajah murung kayak gitu. Kapan lagi coba lu traktir anak-anak sekolah. Ini sebagai hadiah buat mereka aja karena kan tiap hari orang-orang itu yang ngasih barang spesial buat kita,” ungkap Senja.


“Iya juga, apa yang mereka berikan ke kita nggak sebanding dengan traktiran hari ini. Apalagi mereka ngasih snacks dan barang lainnya hampir tiap hari, lah kita cuman satu kali doang. Okay lah, nanti minta lagi uang jajan ke bokap,” ucap Bima.


“Nah gitu, sekarang gue yang pesen ya? Eum, Bin, Pram lu berdua mau apa?”


Bima yang tersenyum tiba-tiba berubah. Uang yang ada di dompetnya sudah habis hanya menyisakan pecahan dua ribu rupiah. “Senja, ini uang kita udah habis loh. Kalo lu sama dua bocah ini pesen makan. Bayarnya pake apa hah?!”


“Ya nggak mau tahu gue, itu urusan lu berempat. Pokoknya gue laper mau pesen makan. Ngutang sama ibu kantin kan bisa, atau lu bayarnya pake tenaga. Cuci piring gitu?”


“Dan iya, ini baru satu hari permintaan gue lu turuti. Masih ada enam hari lagi, kan seminggu. Moga lu berempat nggak cepet bangkrut deh,” lanjutnya.


Bintang tertawa, Senja yang melihatnya merasa senang. “Gue seneng kalo lu ketawa kayak gini Bin, kapan ya lu sadar, gue tuh suka.”


“Ehem! Dipandang terus, bilang dong kalo suka,” sindir Pram. Senja menyenggol lengan adiknya, dia pergi ke meja kosong dan mulai memesan. Sedangkan keempat temannya masih berdiri mematung melihat ketiga orang itu asik makan. Bima menghela napas ketika ibu kantin menagih uang. Dengan senyuman manis dan kekuatan wajah tampannya dia berkata jika dirinya tidak memiliki uang.


“Maaf nak Bima, ibu sudah tidak mempan dengan wajah kamu. Ini tadi nak Senja dan dua lainnya makan cukup banyak, jadi total semuanya seratus ribu. Kalian kan berempat kenapa nggak patungan aja.”


“Aduh ibu kantin yang cantik bak bidadari, iya kita berempat. Tapi semuanya nggak punya uang,” jawab Leo menangis lalu tertawa.

__ADS_1


__ADS_2