Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 101


__ADS_3

Melihat wajah Sasa yang sedih seperti itu akhirnya membuat Daffa luluh juga, dia mau ikut dengan wanita dewasa tersebut. Dari lubuk hati yang paling dalam Daffa merasa bahagia bisa bersama Sasa, dia seperti memiliki sosok ibu lagi. Selalu diberi kasih sayang juga perhatian yang begitu besar.


Di sisi lain, Bintang telah selesai mengajak kekasihnya jalan-jalan. Kini cowok itu tengah mengantar Senja pulang. Sesampainya dirumah, Bintang menghentikan langkah pacarnya yang akan masuk kedalam. Dia memberitahu Senja serta meminta pendapat gadis itu jika dirinya ingin membuka usaha. Harta peninggalan sang Mama tidak akan cukup untuk hidup dirinya di masa depan nanti. Senja tersenyum, dia melangkah mendekat pada Bintang.


“Aku akan selalu dukung apa yang kamu lakukan, Bin.”


“Makasih, sebenarnya beberapa hari yang lalu aku udah cari-cari bangunan kosong buat dijadiin sebuah cafe.”


“Udah dapat? Atau masih nyari, kalo iya nanti aku bantu kamu.”


“Aku udah dapat, bangunannya masih bagus cuman harus di renovasi beberapa aja. Dan tempatnya juga cocok buat nongkrong, kayaknya bakal ramai sama anak-anak muda seperti kita.”


Senja akan terus mendukung apa yang kekasihnya lakukan, dia tahu jika sekarang cowok di depannya itu hidup seorang diri tanpa adanya keluarga yang membimbing. Sea mengintip dari balik jendela, dia menangis melihat kebersamaan Senja dan Bintang. Wanita itu bergumam jika dirinya merasa iri akan kehidupan sang kakak juga anak tirinya. Mereka berdua sama-sama mendapatkan sosok lelaki yang perhatian, setia serta mencintainya dengan tulus. Berbeda dengan dia yang harus patah hati dan di khianati oleh Daniel.


Tangannya terus memegang perut memikirkan anak yang ada didalam kandungan. Laura menghela napas kasar melihat adiknya yang terus-menerus menangis. Dia berniat mencarikan lelaki untuk menemani Sea dan membuatnya bahagia. Laura tahu jika adiknya tersebut tengah memikirkan nasib sang bayi.


Di tempat lain, Gibran yang sedang bekerja di toko Daffa kedatangan kedua sahabat. Tanpa berkata apapun mereka berdua langsung membantunya. Gibran melihat Gio dan Thalia yang memasang wajah dingin, dia mengernyitkan dahi bingung akan sikap keduanya. Beberapa menit kemudian pekerjaannya pun selesai, dia pamit pada karyawan senior yang menjaga. Thalia menarik tangan Gibran, dua orang itu menyuruhnya masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Mereka bertiga sampai didepan gerbang rumah Gibran. Sang Ayah telah menunggu kepulangan si anak, dia meminta maaf membuat putranya bingung. Gibran diajak masuk, ternyata sang Mama tengah sakit, dia tak mau makan karena merindukan anaknya. Tidak mau kehilangan keluarga tercinta maka si Ayah meminta Gio serta Thalia membawa Gibran kembali pulang kerumah.


Senyum senang terpancar dari wajah wanita tua tersebut, dia kini melihat putranya kembali. Dirinya tidak dapat berpisah lama-lama dengan Gibran. Mereka berdua berpelukan, seakan telah berpisah lama, sang Mama sampai menangis.


Waktu telah menunjukkan pukul 01.30 wib. Gio dan Thalia menginap dirumah Gibran, kebetulan mereka besok berkuliah siang. Ketiga remaja itu bergadang seharian sampai matahari naik kembali menyinari bumi. Nampak rasa kantuk dari wajah Thalia, gadis itu izin pulang duluan untuk beristirahat, sedangkan Gio masih berada dirumah Gibran.


Bintang duduk di teras rumahnya, menunggu seniornya yang tak pulang semalam. Dia khawatir dengan Gibran, tak lama kemudian orang yang ditunggu pun hadir. Gibran datang untuk membawa barang-barangnya, dia akan kembali kerumah atas permintaan sang Mama. Bintang hanya tersenyum dan sedikit menghela napas. Padahal keberadaan Gibran di sana cukup membuat dirinya tak merasa kesepian.


Namun apa boleh buat, dia tidak bisa melarang seniornya tersebut pergi. Setelah membereskan semua barang Gibran berpamitan, mengucapkan rasa terimakasih karena telah diterima menumpang. Bintang menatap kepergian seniornya, lalu melihat ke sekeliling rumah. Cowok itu membayangkan sosok Bu Ana yang melakukan kegiatan rumah tangganya. Lagi dan lagi Bintang menghela napas, kehidupan begitu sepi.


Dering telpon terdengar menyadarkan lamunannya. Ternyata sang kekasih yang menghubungi. Tanpa dia sadari Senja sudah berada dibelakang memperhatikan. Sang kekasih memintanya berbalik badan, Bintang sedikit terkejut mendapati Senja yang datang pagi-pagi buta. Padahal mereka berangkat kuliah pukul 07.30.


“Makasih udah ngasih seorang gadis seperti dia,” gumamnya, setelah itu dia pun melangkahkan kaki mengikuti Senja.


Senja langsung mempersiapkan bahan-bahan, dia mulai memotong sayuran. Wajah gadis itu juga terlihat begitu serius. Beberapa saat kemudian suara motor terdengar, diluar sana Daffa, Bima, Leo dan yang lain datang.


“Waduh ibu negara udah ada di sini aja, hayohh..., jangan-jangan lu nginep ya?” seru Leo.

__ADS_1


“Heh! Mana ada gue nginep,” jawab Senja sambil membawa beberapa makanan ke meja. Melihat sahabatnya membawa piring berisi makanan, mata Bima langsung melotot sambil tersenyum. Dia mengendus bau masakan Senja yang tercium wangi dan menggoda selera. Saat tangan cowok tersebut akan mengambil, Senja langsung memukulnya. Berkata jika makanan itu khusus untuk sang kekasih dan juga dirinya.


Melihat dua sahabatnya masih bertengkar, Leo mengambil kesempatan dengan mencomot salah satu makanan. Dia cengengesan saat Senja berdehem serta menatap tajam. Bintang pun meleraikan pertengkaran tiga remaja tersebut. Menyuruh Senja, Bima dan yang lain duduk. Pada akhirnya ke delapan orang itu sarapan bersama.


“Guys pulang kuliah bantu gue ya,” seru Bintang.


“Bantu apa?” tanya Daffa mengernyitkan dahi.


Bintang pun menjelaskan pada teman-temannya jika dirinya akan membuka sebuah cafe. Bima bersama Leo paling antusias mendengarkan penuturan sahabatnya itu. Wajah mereka berdua begitu semangat, Senja yang tahu niat kedua temannya langsung menyindir. Berkata jika Bima ingin makan gratis, dan perkataannya tersebut dijawab dengan sebuah tawaan. Selesai sarapan bersama, mereka bersiap pergi ke kampus. Senja ikut dengan kekasihnya sebab gadis itu tidak membawa motor.


Sebelum pergi Daffa menyadari jika tidak ada Gibran dirumah Bintang, cowok itu pun bertanya. “Baru aja pamitan, dia balik lagi kerumahnya disuruh nyokap,” jawab Bintang.


“Kalo gitu nih rumah sepi lagi dong, gue boleh nggak nginep? Soalnya dirumah juga nggak ada siapa-siapa,” sahut Theo. Kedua orang tuanya belum pulang dari luar negeri, dan dia tinggal di rumah seorang diri. Hanya ada satpam dan satu asisten, itu pun setiap malam keduanya berpamitan pulang.


Bintang menganggukkan kepala, setuju jika Theo menginap dirumahnya. “Gue juga dong Bin, boring dirumah. Tahu lah,” seru Bima.


“Yehh dasar, tapi bagus deh jadi pangeran gue ini nggak kesepian,” ujar Senja.

__ADS_1


“Pangeran-pangeran,” ucap Theo sembari menjitak kepala teman kecilnya.


__ADS_2