
Aldrian yang kini berada di ruang guru pun ditanya-tanya. Sedang apa dirinya ada di sekolah padahal bukan panitia persami. Dengan gelagapan cowok itu menjawab jika dia mengambil buku yang tertinggal. Tidak lama Daffa dkk datang, kelompoknya sudah menyelesaikan semua tugas. Di sana mereka tertawa membuat para guru dan ketua osis heran. Bintang bersama dengan Leo masih terus berjalan, tidak ada suara kecuali langkah mereka.
Junior-junior Senja terus menerus mendumel ingin segera keluar, semuanya terdengar berisik sampai membuat kakak kelasnya kesal dan marah. Bima menenangkan Senja, raut para junior juga seketika berubah. Suara langkah kaki membuat mereka terdiam, Bima mengintip lewat jendela.
“Ini kenapa lagi jendela nggak bisa kebuka,” omel Bima.
“Kan emang dari dulu begitu, lihat lagi Bim siapa yang datang.”
Harapan untuk keluar pun datang, Bintang melirik ke arah jendela di mana Bima berdiri. Cowok di luar memicingkan matanya guna melihat dengan jelas siapa dibalik jendela tersebut. Setelah dilihat-lihat ternyata itu adalah Bima, Bintang pun langsung melangkah ke depan pintu. Menggeser kan barang berat yang mengganjal. Pintu berhasil terbuka, para junior berlarian keluar, sedangkan Senja tersenyum mengucapkan terimakasih pada sahabatnya.
“Kok bisa sih lu semua kejebak di sini?” tanya Leo.
Senja dan Bima mengangkat kedua bahunya bersamaan. Mereka tidak mau ambil pusing, mengajak kelompoknya untuk melanjutkan tugas. Aldrian yang sudah mengaku pun diperintahkan memanggil teman-temannya. Setelah semuanya berkumpul para guru menghukum anak muridnya tersebut dengan berdiri didekat tiang bendera, mengangkat sebelah kaki serta menjewer telinganya masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 02.30, semua telah berkumpul kembali di lapangan. Melihat keberadaan Aldrian beserta antek-anteknya membuat Senja dengan Bintang bingung. Acara terus berlanjut, ada beberapa alumni yang datang. Mereka menceritakan kisah-kisah sedih sampai anak-anak osis juga pramuka menitikkan air mata. Begitu pun dengan Senja, gadis itu tanpa sadar telah membuang air matanya mengalir begitu saja.
Cerita paling sedih adalah di saat para alumni menceritakan tentang sebuah keluarga, terkhusus ibu. Dia bercerita jika sedari kecil sampai dewasa sekarang tidak pernah melihat sosok sang ibu, hal itu sama persis dengan apa yang Senja alami. Beberapa siswa juga merasakan hal yang sama, walau telah melihat sosok orang tua dari kecil tapi saat ditinggalkan mereka akan merasa sedih.
Semuanya di perintahkan untuk memejamkan mata, membayangkan jika sosok orang yang telah tiada berada di samping mereka. Pram yang berada ditengah-tengah antara Senja dan Bintang melirik keduanya. Dia melihat sang kekasih menangis sesenggukan, sedangkan Bintang menahannya. Beberapa menit berlalu, semua kembali seperti semula. Jam pun telah pukul 04.00, anak-anak pergi ke kamar mandi untuk persiapan solat subuh.
__ADS_1
“Sen,” panggil Bintang. Cowok itu menghentikan langkah Senja yang akan menuju kamar mandi. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, wajahnya hanya mengulas senyum manis.
“Yeh si kampret! Gue kira mau ngapain manggil, ternyata cuman ngasih senyuman doang.”
Senja melemparkan handuk kecil yang dibawanya kepada Bintang. Awalnya dia ingin mengerjai sang sahabat dengan menggantungkan handuk tersebut ke salah satu pohon, namun karena Senja tinggi dan sudah pasti bisa meraihnya maka dia urungkan. Dari kejauhan Pram tersenyum, dia sama sekali tidak merasa cemburu akan kedekatan kekasihnya dengan sang sahabat, karena memang dia adalah orang baru sedangkan Senja dan Bintang sudah lama bersama. Kedekatan mereka berdua seperti saudara, semua pikiran buruk dibuang olehnya.
Selesai menunaikan solat subuh, ketua osis meminta orang-orang berkumpul di lapangan. Persiapan senam pagi lalu sarapan bersama. Aldrian bersama teman-temannya hanya bisa melihat kegiatan mereka semua, dia tidak diberi makan oleh para guru. Bima yang sudah tahu jika dirinya dijebak oleh Aldrian pun menatapnya tajam, dia sengaja makan di depan sang musuh.
“Gila nih ayam enak banget,” ujar Bima dengan wajah menikmati.
Aldrian menelan ludahnya melihat makanan di depan, perutnya sudah berbunyi, sejak kemarin malam belum memakan apapun. Niatnya setelah berhasil mengerjai Senja dkk dia dan yang lain akan pergi ke sebuah cafe. Tapi sayang rencananya harus gagal karena Daffa.
“Maksud lu apa hah! Gue nggak butuh makanan murah kalian. Selebgram seperti gue nggak makan kayak gitu, murah dan kurang higienis.”
“Ck! Lihat Sen, manusia yang sok selebgram ini nggak makan makanan kita. Katanya kurang higienis,” ucap Bima kepada Senja.
“Kalo lapar bilang aja kaliii...., jangan ragu jangan malu dengan babang Leo. Sudah pasti gue nggak akan kasih lu semua makan. Hahaha.....”
Ketua osis menggelengkan kepalanya melihat perdebatan antara geng Senja dengan Aldrian. Dia tidak ingin ikut campur akan masalah kedua geng tersebut, tugasnya hanyalah pokus pada acara persami. Di sisi lain, Daniel terang-terangan datang ke rumah Pak Arya bersama Sea. Mereka berdua bergandengan tangan membuat Laura yang berada di sana heran. Berbeda dengan Pak Arya, dia mengira jika itu adalah kekasih Sea.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Daniel menjelaskan tentang proyek Pak Arya yang kini menjadi miliknya. Padahal Laura memperingati untuk tidak gegabah, namun sang kekasih tidak menghiraukannya.
“Sea ikut kakak!”
“Apa sih kak?” tanya Sea.
“Maksud kamu apa hah pegangan tangan sama pacar kakak? Jangan-jangan kalian...?”
Sea tersenyum, menyunggingkan bibirnya lalu gadis itu berkata jujur bahwa selama ini dirinya telah menjalin hubungan dengan Daniel di belakang Laura. Selain itu keduanya pun telah melakukan hal intim, sontak saja sang kakak menampar pipi adiknya dengan sangat keras.
“Kurang ajar kamu ya! Bisa-bisanya merebut pacar kakak kamu sendiri, banyak lelaki di luaran sana kenapa kamu ambil Daniel?”
“Asal kakak tahu, sebelum Daniel menjalin hubungan dengan kakak dia sudah lebih dulu menjalin hubungan bersama aku. Kami berdua sepakat memanfaatkan kakak dengan Pak Arya.”
Laura tidak menyangka cintanya akan ditusuk oleh adiknya sendiri. Padahal semua yang Daniel dan Sea mau selalu dia turuti. Di ruang tamu, Pak Arya memegangi dadanya setelah Daniel berkata sesuatu. Lelaki itu meninggalkan suami Laura begitu saja tergeletak di lantai, dia menyusul Sea yang berada dikamar bersama Laura. Melihat kekasihnya datang dia pun langsung melemparkan beberapa pertanyaan, namun Daniel tidak memperdulikan semua itu dan malah menggandeng lengan Sea keluar.
“DANIEL...SEA....,” teriak Laura. Setelah turun, dia melihat suaminya tergeletak. Dengan cepat membangunkannya dan dibawa ke sofa. Bingung harus berbuat apa Laura pun menelpon Senja.
“Bagaimana jika Senja menyalahkan ku karena Papanya begini?” pikir Laura panik.
__ADS_1
“Sialan, cowok sialan dan adik tidak tahu diri! Bisa-bisanya mereka berdua memanfaatkan ku. Awas saja nanti kalian berdua,” ucapnya dalam hati.