
Senja yang sibuk mengerjakan tugas dari ketua osis pun tiba-tiba mendapatkan telepon dari Laura. Beberapa kali Mama tirinya menghubungi namun tidak dia angkat. Setelah sang Mama mengirimkan pesan bahwa Papanya berada dirumah sakit, Senja pun bergegas izin meninggalkan sekolahan. Bintang dan Pram yang melihat wajah Senja cemas bertanya-tanya.
Karena penasaran dua cowok tersebut menanyakan pada ketua osis. Setelah mendapat jawaban jika Pak Arya masuk rumah sakit, keduanya ikut izin akan tetapi dilarang. Dalam perjalanan Senja tidak peduli dengan keselamatannya, dia mengebut agar cepat sampai. Dirumah sakit Laura terlihat panik, wanita itu takut jika nanti anak tirinya menyalahkan dia. Tidak lama dokter keluar bersamaan dengan datangnya Senja.
Dokter mengatakan jika Pak Arya terkena serangan jantung, Senja terdiam lalu menatap Laura tajam. “Kok bisa sih Papa sampai masuk rumah sakit? Pasti lu berbuat macam-macam kan sama Papa gue?”
“Bukan gue yang buat Pak Arya begitu, percaya deh. Ini semua gara-gara Daniel dan Sea, mereka lah yang udah buat Papa lu kayak gini.”
Senja menyipitkan matanya melihat raut wajah Laura. Dia bertanya kembali apa yang sebenarnya terjadi dirumah, Laura menjelaskan jika Daniel mengatakan sesuatu sampai membuat Pak Arya jatuh pingsan. Gadis itu menghela napasnya kasar, diam tidak berbicara lagi. Malam harinya sang Papa siuman, dua perempuan masuk melihat kondisinya. Mata Pak Arya menatap tajam pada istrinya, dia bahkan menghiraukan perkataan Laura.
“Pah..”
“Papa baik-baik aja kok sayang,” ucapnya mengelus kepala Senja.
“Mas maafin aku,” seru Laura. Dia menundukkan kepalanya tidak berani menatap sang suami. Ingin rasanya Pak Arya mengusir perempuan tersebut karena telah menyelingkuhi nya, tapi juga masih mencintai sang istri. Dia hanya diam membuat Laura canggung, sedari tadi berbicara namun tidak pernah ditanggapi.
Senja pamit keluar karena Biru menelpon, Omnya itu menanyakan keberadaannya yang tidak ada dirumah. Bersama dengan Silla, Biru akan datang menyusul Senja kerumah sakit. Dikediaman Leo, baru saja cowok tersebut pulang dari acara persami, Mama dan Papanya bertengkar. Pertama kalinya dia melihat orang tuanya seperti itu, padahal keluarganya sangat harmonis jika ada masalah mereka semua akan membicarakannya secara baik-baik.
“Ya sudah Leo bawa sama kamu saja, Biar Rossa bersama aku.”
“Okay!” jawabnya. Melihat Leo yang berdiri didepan pintu sang Papa langsung menarik tangannya. Menyusun Leo bersiap pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1
Masih bingung dengan semua yang terjadi, saat sang Papa masuk ke kamarnya Leo langsung melemparkan pertanyaan. Namun Papanya itu hanya diam dan terus menyuruh segera membereskan barang-barang. Dalam perjalanan pun dia masih mempertanyakan masalah kedua orang tuanya. “Pah! Jawab Leo dong, ada apa? Kenapa Papa sama Mama berantem kayak tadi, dan kenapa juga kita harus pisah rumah sama mereka, Leo nggak mau ninggalin Rossa!”
“Cukup Leo! Papa dan Mama sudah nggak bisa bersama lagi, kita selama ini sudah memiliki pasangan masing-masing.”
“Maksud Papa apa? Jadi selama ini pernikahan Papa sama Mama itu apa? Kalian udah bersama lama, sampai Leo dewasa. Kalo misalkan kalian tidak saling cinta terus kenapa bisa bertahan sampai sekarang?”
“Udahlah jangan dibahas, mulai sekarang kamu tinggal bersama Papa, di sana ada istri dan anak Papa juga. Jadi bersiap baiklah sama mereka nanti.”
Leo menelan ludahnya, tidak percaya dengan keluarganya. Yang selama ini dirinya anggap jika keluarga dia selalu baik tidak ada masalah apapun. Mungkin karena dia jarang berada dirumah jadi tidak tahu dengan masalah sebenarnya yang kedua orangtuanya alami. Beberapa saat kemudian, dia sampai dirumah mewah. Satu perempuan cantik keluar menyambut, dia tersenyum ramah kepada Leo lalu mempersilahkan keduanya masuk.
“Ini kak Leo ya Yah? Wah ganteng juga kakak kita ini,” ujar seorang anak kecil. Leo membalikkan badannya, nampak anak laki-laki yang berusia 4 tahun. Tidak lama turun juga seorang perempuan menyambut kehadiran Leo dengan wajah datar.
“Selamat datang dirumah gue, moga lu betah di sini!” ucapnya. Lalu perempuan itu kembali naik ke atas meninggalkan keluarganya dibawah yang masih menyambut Leo.
Sesampainya di dapur, terlihat perempuan dingin yang menyambutnya tadi sedang memasak mie. Tidak ingin mengganggu maka Leo memutuskan untuk ke depan rumah. “Uugghh...! Kok bisa hidup gue kayak gini? Gue kira selama ini nggak ada masalah apapun dalam rumah tangga mereka, tapi ternyata....”
“Terima nasib aja," ucap seseorang dari belakang.
“Lu siapa?” tanya Leo.
“Gue Lea Michelle, adik tiri lu. Umur kita cuman beda 2 tahun.”
__ADS_1
“Jadi, selama ini Papa udah nikah sejak lama sama nyokap lu? Bagaimana bisa, gue masih belum bisa nerima dan percaya.”
Leo meninggalkan Lea setelah berbincang, dia pergi berjalan kaki karena motornya tidak dibawa. Sampai hari sudah menjelang pagi, cowok itu masih saja berjalan tidak tahu arah. Matahari mulai menampakkan diri, tidak sengaja Daffa melihat sahabatnya yang seperti orang gila. “Ngapain lu di sini? Balik sono siap-siap kerumah sakit buat jenguk Pak Arya.”
“Gue nggak ikut dulu Daf, lu sama yang lain aja. Nanti sampaikan maaf ke Senja.”
Daffa mengerutkan kening, tidak biasanya Leo seperti itu. Padahal dia adalah salah satu sahabat yang selalu happy, periang sama seperti Bima. Bukannya pergi Daffa malah turun dari motor dan duduk disamping Leo, menyuruh sahabatnya untuk bercerita. Dirumah, sang Papa menanyakan keberadaan putranya kepada si istri. Dan yang menjawab adalah Lea, dia menjelaskan jika Leo semalam pergi sampai sekarang belum pulang kerumah.
“Sudah nggak papa kok, nanti juga Leo pulang ke sini. Mungkin dia butuh waktu buat nerima semuanya. Seharusnya kamu cerita lebih awal pada dia, agar nantinya tidak seperti sekarang ini.”
“Maaf, karena aku terlalu sibuk.”
“Baiklah sekarang kalian sarapan dahulu, Lea nanti kamu cari Leo.”
“Leo kan udah besar Mah, ngapain juga sih pake dicari segala,” jawabnya.
Kembali pada Daffa, dia menghela napasnya menepuk pundak sang sahabat. Memberikan semangat kepada Leo juga menyarankannya untuk bisa menerima. Daffa pun meminta Leo tidak membenci Papa atau Mamanya. Seburuk-buruknya mereka tetaplah kedua orangtuanya yang telah melahirkan serta merawat.
Lea yang sudah selesai sarapan langsung bergegas mencari sang kakak. Tidak jauh dari tempat tinggalnya berada, nampak Leo tengah mengobrol dengan seorang lelaki.
“Kemana aja sih hah! Tuh Papa nyariin, pulang sana!” ucap Lea mengomel.
__ADS_1
“Dia siapa?” tanya Daffa. Lea melirik ke arahnya dengan sorot mata tajam dan wajah dingin. Daffa malah tersenyum melihat Lea seperti itu, sepertinya lelaki tersebut tertarik pada adik tiri Leo.