
Setelah beristirahat semuanya bergegas masuk kelas, mereka dengan tenang mengikuti pelajaran sampai jam pulang tiba. Di parkiran Bintang mengajak Senja untuk berkencan, keduanya izin kepada Bima dkk karena tak bisa ikut berkumpul. Pada malam harinya Senja menunggu kedatangan sang kekasih diluar rumah. Gadis itu duduk seorang diri sambil memainkan ponsel, tak lama suara motor terdengar dari luar gerbang.
“Malam bidadari, cantik banget hari ini.”
“Heleh! Bidadari matamu, emangnya hari-hari lain aku nggak cantik?” ujar Senja sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Kamu itu selalu cantik makanya aku suka. Sebelum pergi jalan berdua kita ke rumah aku dulu katanya Mama mau ketemu sama calon mantu,” jawabnya.
“Ih Bintang, pasti kamu diajarin Bima ya? Nggak bisa dipercaya seorang Bintang gombal ke cewek. Sifat dingin dan cueknya hilang kemana?”
“Suuttthhh...! Dah ayo naik.”
Senja menurut naik ke motor sang kekasih, saat akan berangkat gadis itu terdiam karena ragu harus memeluk Bintang atau tidak. Dengan tiba-tiba cowok yang ada didepannya itu menarik lengan Senja agar memeluknya, setelah itu mereka berdua melaju pergi menuju rumah Bu Ana.
Tak sampai 30 menit keduanya sampai dirumah yang cukup besar tersebut, di depan pintu sudah ada wanita tua menunggu dengan senyuman hangatnya. Dia menyambut Senja sangat baik bahkan mencium gadis itu. Bu Ana mengajak sang putra dan pacarnya masuk kedalam, dia telah menyiapkan makanan untuk mereka.
Bintang senang melihat dua wanita yang disayanginya bahagia. Gadis yang terlihat nakal dan berandal itu aslinya memilki hati lembut, Senja selalu membantu sesama tanpa memberitahu orang lain. Dalam yang hangat dan luar yang dingin, ketika melihat pertama kali orang-orang akan menganggapnya gadis sombong dan jutek namun saat sudah mengenalnya lama maka mereka akan merasa nyaman dengannya.
“Ya udah Mah, Bintang mau lanjut ajak calon mantu jalan.”
“Iya hati-hati jagain anak Mama jangan kamu macam-macam sama dia.”
__ADS_1
“Kalo Senja anak Mama terus aku siapa? Ck, kalo gitu kita pamit dulu,” ujar Bintang. Keduanya mencium punggung tangan Bu Ana lalu pergi meninggalkan rumah.
Bintang mengajak pacarnya bermain di pasar malam, mata gadis disampingnya berbinar melihat betapa ramai pasar tersebut. Ini pertama kalinya dia datang ke tempat itu, tanpa berkata Senja langsung berlari ke depan lalu meminta Bintang untuk bermain anak panah. Gadis tersebut melihat banyak boneka dan dia menginginkan salah satunya.
Setelah selesai dari permainan pertama keduanya beralih ke tempat lain. Senja sangat menikmati kencan pertamanya di pasar malam, dia benar-benar merasa bahagia apalagi pacarnya tak pernah melepaskan tangan dari genggaman. Tak lupa keduanya berpoto bersama sebagai kenang-kenangan, Bintang mengatakan janji jika dia tidak akan pernah meninggalkan Senja mau itu dalam keadaan senang atau pun sedih.
Di lain tempat, Bima dkk tengah bersenang-senang dengan geng motornya. Basecamp selalu ramai akan tawa dan canda mereka, tidak ada satupun yang merasa sendiri di sana.
“Bim, bentar lagi kan ujian akhir semester kira-kira lu mau masuk universitas mana?”
“Gue sih ngikut bokap aja. Gimana bagusnya dia, SMA aja pilihannya dia.”
“Bareng aja lah nggak usah pisah-pisah ajak Senja dan yang lain juga,” ucap Leo.
3 menit sudah berlalu Senja bingung akan sikap pacarnya. Bintang terus-menerus menatap membuat dirinya merasa canggung. Tak lama sang kekasih tersenyum dan mencubit pipi lalu menggandengnya. Pukul 22.00 Bintang mengajak Senja pulang, mereka berdua membawa banyak sekali hadiah hasil dari bermain di pasar malam. Di depan gerbang rumah sebelum masuk kedalam Bintang mengacak rambut kekasihnya, dia mencondongkan badan mendekat ke Senja dan meniup wajahnya. Gadis itu sudah memejamkan mata sedangkan Bintang tertawa.
“Good night, mimpi indah cantik. Jangan lupa jendela kamarnya buka biar aku bisa masuk ke dalam mimpi kamu,” ujar Bintang.
“Nggak! Semuanya mau aku kunci,” jawab Senja dia masih kesal karena ditertawakan Bintang tadi.
“Baiklah-baiklah, aku pulang dulu ya. Hati-hati dirumah jangan keluyuran lagi.”
__ADS_1
Bintang berjalan menuju motornya, saat akan melaju Senja menjawab membuat cowok itu tersenyum malu karena perkataan sang pacar. “Coba ulang nggak kedengaran tadi.”
“Iya sayang, good night juga ganteng. Udah puas?”
“Masih nggak kedengaran, ulang lagi.”
“Sayang sayang sayang! Udah ah Bin, malu tahu nggak.”
Bintang benar-benar senang mendengar kata sayang yang sangat susah terucap dari mulut Senja. Jantungnya berdegup sangat kencang sedangkan Senja salah tingkah. Gadis itu cepat-cepat masuk kedalam meninggalkan Bintang yang masih tersenyum. Didalam kamar Senja langsung merebahkan tubuh, boneka pemberian sang kekasih terus dirinya peluk. Suara dering telpon menyadarkannya, dia melihat siapa yang menelpon dan ternyata sang Papa. Pak Arya menanyakan keadaan Senja, lelaki tua tersebut khawatir akan putrinya.
Matahari sudah mulai terlihat dan sinarnya pun masuk ke kamar gadis yang masih tertidur pulas. Senja menggeliat ketika mendengar suara alarm, bangun dengan mata masih terpejam. Dia melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Buru-buru pergi ke kemar mandi lalu bersiap-siap sekolah.
Ketika akan mengambil kunci motor barang tersebut tidak ada ditempat. Senja heran karena setiap hari kuncinya selalu dia simpan di vas, saat melihat Sea turun gadis itu pun langsung menyipitkan mata. “Heh beban! Pasti lu kan yang ambil kunci motor gue?”
“Kalo iya kenapa?”
“Balikin nggak!”
“Duh sorry, motornya udah gue jual semalam. Mau bilang tapi lu nya nggak ada,” jawabnya tanpa merasa bersalah. Senja melototkan mata tak percaya, motor yang baru saja Papanya belikan sudah dijual oleh Sea, manusia beban yang numpang hidup dan meresahkan orang lain. Wanita di depannya malah tersenyum lalu melanjutkan langkah kakinya. Senja sudah mengepalkan tangan dia mengejar Sea ke luar rumah.
“Cewek gila! Gue nggak mau tahu pokoknya motor itu harus balik ke rumah ini atau lu cabut dari sini.”
__ADS_1
Sea tak menggubris perkataan Senja, tak lama mobil Daniel datang menjemput dan wanita itu pun meninggalkan si pemilik rumah seorang diri. Senja menelpon sang Papa mengadukan semuanya, Laura yang mendengar merasa tak enak hati dia meminta maaf kepada Senja atas sikap adiknya tersebut.
Setelah itu mau tak mau Senja harus berjalan kaki menunggu angkutan umum. Dari kejauhan sebuah angkot terlihat, Senja naik dan duduk diantara empat orang lelaki. Tanpa dirinya ketahui ada sosok cowok yang dia kenal, cowok itu berbisik. “Pagi sayang.”