Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 52


__ADS_3

Senja pun memberikan piring kotornya kepada Laura, lalu setelah itu dia pergi menyusul sang Papa yang tengah berada di ruang tamu. Mereka duduk bersama, tidak lama kemudian Pak Arya meminta Senja mengambilkan laptopnya di ruang kerja, pada saat berjalan menuju ruangan Papanya dia tak sengaja melihat ibu Laura yang akan mengambil air namun seperti tidak bisa diraih gelasnya.


Dengan cepat gadis itu pun masuk ke dalam dan membantunya. Laura yang baru saja selesai mencuci piring melihat pemandangan tersebut, dia terharu kepada anak tirinya, padahal dirinya sudah banyak berbuat jahat namun Senja masih mau menolong.


“Kenapa sama ibu?” tanyanya membuat sang putri terkejut.


“Nggak papa, ibu lu cuman butuh minum doang tadi. Ya udah gue lanjut ke ruang kerja Papa mau ambil laptop.”


“Makasih,” ucap Laura tersenyum. Senja mengangguk pelan lalu melanjutkan langkahnya. Setelah mengambil barang yang Papanya titah kan, dia kembali menonton televisi sendiri. Dering telpon mengangetkan dirinya ternyata Bima yang menelpon. Cowok itu meminta Senja untuk menyusul bermain.


Di basecamp, Leo bertanya apakah Senja akan datang atau tidak pada Bima. Cowok tersebut pun menggelengkan kepalanya, Bintang beserta yang lain tidak mau ambil pusing, mereka tetap bermain tanpa adanya Senja. Saat sedang asik mengobrol, Lea menggunakan motor datang menghampiri Leo, gadis itu meminta kakaknya pulang karena ada Raisa yang terus menanyakan keberadaannya. Mendengar nama Raisa dengan semangat Leo pergi meninggalkan teman-temannya.


Bima yang berada di sana merasa tertarik saat melihat Lea. Tanpa sadar dirinya mengatakan jika jatuh cinta pada pandangan pertama, Bintang yang berada di sisinya hanya menggeleng.


“Gila, itu adik tirinya si Leo? Cantik bener, jangan sampe lepas nih.”


“Lu beneran suka Bim?” tanya Bintang.


“Iya Bin, lu harus bantu gue supaya bisa deket sama tuh cewek. Okay!”


“Minta bantuan aja sama kakaknya ngapain ke gue.”


Di rumah Leo, benar saja gadis kecil yang dia rindukan datang ke rumah sang Papa. Mamanya menitipkan Raisa karena dia akan pergi bersama suaminya ke luar kota beberapa minggu. Awalnya gadis kecil itu akan dibawa namun dia menolak dan terus merengek ingin bertemu dengan Leo. Dengan terpaksa Mamanya pun menitipkan Raisa kepada mantan suaminya. Kini rumahnya menjadi ramai karena ada dua anak kecil.


Dalam kamar Lea, dia terus tersenyum sembari menatap langit-langit kamar, mengingat wajah tampan Bintang sahabat sang kakak.

__ADS_1


“Dia siapa ya, baru kali ini jantung gue deg-degan lihat cowok.”


Keesokan harinya, motor Lea tiba-tiba saja mati. Padahal dia sudah telat pergi ke sekolah, berbeda dengan Leo yang masih santai menikmati roti. Melihat adik tirinya yang berdiri di depan gerbang sambil memanyunkan bibir membuat Leo menghampirinya dan bertanya. Setelah mendapat jawaban jika motornya mati Leo menawarkan diri mengantarkan Lea ke sekolah.


“Sama kakak kamu aja sana, lagian udah tahu piket pake bangun telat,” seru sang Mama dari depan pintu. Lea terdiam berpikir sejenak dan tak lama mengangguk. Leo segera mengambil kunci motornya, cowok itu mengebut namun tidak membuat Lea takut.


Tidak sampai 20 menit Leo sudah sampai di sekolah Lea. Bangunan yang besar serta luas membuat dirinya kagum. Tidak di sangka Papanya itu memasukkan Lea ke sekolah mahal. Saat Leo membuka helmnya dia melihat keberadaan Aldo.


“Ck!”


“Kenapa? Lu satu sekolah sama Aldo?” tanya Leo.


Lea mengernyitkan dahi bagaimana bisa kakaknya itu kenal dengan Aldo sang kakak kelas yang selalu mengejar dirinya. Melihat sang pujaan hati telah datang Aldo pun menghampirinya sambil membawa sebuah coklat. Betapa terkejutnya saat tahu ada Leo, musuhnya. Dia mengira jika selama ini gadis pujaan hatinya menolak dirinya karena telah berpacaran dengan Leo.


“Ngapain lu ke sekolah gue? Dan apa ini, lu siapanya Lea?”


“Jadi ini alasan lu selalu nolak gue? Sejak kapan kalian pacaran?” tanyanya lagi.


“Udah lama, iya nggak sayang?” jawabnya sambil mencubit sang kakak pelan. Leo berdehem dan mengangguk, membenarkan perkataan adiknya.


Di sekolahan lain, Bima menggerutu karena Leo yang belum kunjung datang, Bintang, Senja dan Daffa kompak memakai handset untuk menutupi telinga mereka dari ocehan Bima. Tak lama datanglah Pram bersama Seon, ketiga orang itu kaget melihat dua sahabatnya bersamaan mengenakan Hoodie dengan warna yang sama. Ternyata setelah ditanya Hoodie tersebut dibelikan oleh Biru, Senja dkk berseru oh serentak.


Cukup lama mereka berkumpul di parkiran menunggu Leo, namun orang yang ditunggu tak datang juga. Karena bel sudah berbunyi maka mau tak mau mereka harus masuk kelas. Di sisi lain, Leo dihentikan oleh Aldo and the geng. Mereka menggiring sahabat Senja tersebut ke suatu tempat yang cukup sepi dari lalu lalang orang-orang. Tanpa ba-bi-bu lagi Aldo langsung memukulnya, dia juga menyuruh teman-teman yang lain ikut mengeroyok Leo.


Di karenakan kalah jumlah Leo tersungkur di tanah. Wajahnya penuh lebam dan dipinggir bibir terdapat noda darah. Dia mengelapnya sembari menahan sakit, saat akan berdiri tiba-tiba saja pandangannya kabur. Hari semakin siang, bel istirahat pun telah berbunyi, Senja dkk masih penasaran kemana perginya Leo. Biasanya cowok itu akan menghubungi jika ada urusan, meminta Bima atau Daffa untuk mengizinkannya kepada guru.

__ADS_1


“Coba telpon lagi Bim, tumben banget tuh anak bolos nggak ngajak,” ucap Senja.


“Bolos mulu,” seru Pram.


“Hehe..., kali-kali bolos Pram.”


“Halah kali-kali, asal lu tahu Pram. Kita suka bolos karena di ajak cewek lu. Nih orang walaupun cewek tapi tingkah sifatnya kayak cowok.”


“Ya karena dia mainnya sama cowok, coba aja main sama Cantika dan yang lain pasti bakalan anggun.”


“Ohhh...., Cantika cantik ya? Anggun? Idaman pasti, mana kaya terus pintar. Cowok mana coba yang nggak suka sama dia,” ujar Senja kepada kekasihnya.


“Eh bukan gitu, maksud ish gimana ya. Udah lupain,” jawab Pram.


“Cabut yuk, nggak baik kalo kita di sini. Yang ada nanti malah kena semprot sama nih harimau,” seru Daffa.


Senja mengembungkan pipinya dan membelakangi Pram, sedangkan teman-temannya benar-benar pergi meninggalkan pasangan kekasih itu. Pram sangat gemas melihat pacarnya seperti itu, tidak biasanya gadis tersebut menunjukkan sikap manja pada seseorang. Dengan lembut Pram mengelus rambut Senja lalu menggenggam tangannya. Murid-murid yang berada di kelas senyum-senyum sendiri melihat dua orang itu.


“Susul teman-teman kamu yuk,” ajak Pram.


“Gak!”


“Ya udah maaf, aku yang salah. Lain kali nggak lagi deh banding-bandingin kamu.”


“Oh ya? Aku kira kamu bakal terima aku apa adanya. Menerima sifat dan tingkah laku aku,” ucapnya.

__ADS_1


Tanpa menjawab perkataan Senja, Pram langsung menggandeng tangannya pergi keluar kelas. Dalam perjalanan menuju kantin gadis itu terus tersenyum namun saat sang kekasih menoleh padanya dia kembali dengan raut wajah cemberut.


__ADS_2