
Keenam cowok yang tengah duduk itu melihat sahabat perempuannya sedang menyantap makanan yang dibawa oleh Bima. Ditengah keseriusan memperhatikan Senja, tiba-tiba saja Pram mendekat pada kekasihnya dan mengusap sisa makanan yang berada dipinggir bibirnya, hal itu membuat Bima dkk langsung membubarkan diri. Mereka malas melihat kemesraan antara kedua sahabatnya, membuat iri karena belum mendapatkan pasangan.
Tidak lama datanglah Cantika dengan kedua temannya, kini gadis itu telah memiliki seorang teman tidak kesepian lagi.
Dia memegang sebuah kotak kecil lalu dengan ragu memberikannya kepada Bintang. Cowok itu mengerutkan kening, penasaran apa yang ada di dalam kotak tersebut dan mengapa Cantika memberikan kepadanya. Senja yang masih duduk berduaan dengan Pram pun menggoda sahabatnya. Lalu Daffa serta yang lainnya juga ikut seperti Senja, menggoda Bintang dan Cantika.
Setelahnya gadis itu pergi dengan malu-malu, ternyata saat kotak tersebut dibuka isinya adalah sebuah sapu tangan yang bertulisan nama Bintang, walaupun polos namun rajutan pada sapu tangan itu begitu rapih dan terlihat cantik.
Bintang terdiam, dia tidak tahu dengan perasaannya. Cantika merupakan gadis cantik serta baik, berusaha keras mendapatkan hatinya namun dia tidak bisa membalas cinta tersebut. Dalam hati Bintang masih tertera nama Senja sejak dulu.
“Bin, kayaknya tuh cewek beneran serius cinta sama lu deh. Dia juga cantik, pintar, kaya, apalagi coba yang kurang. Mending terima aja cintanya,” ucap Senja.
Bintang menelan ludahnya mendengar perkataan dari cewek yang dia suka. Daffa beserta teman-teman lainnya yang sudah tahu bagaimana perasaan Bintang pun mencoba mengalihkan topik. Lalu obrolan berganti ke acara liburan mereka.
Tak terasa hari sudah mulai sore, tinggal menunggu beberapa menit lagi bel pulang berbunyi. Murid-murid lain tengah bersiap memasukkan alat tulisnya kedalam ransel.
Beberapa hari kemudian, acara liburan ke villa pun telah tiba. Biru dengan istrinya sudah berada di rumah Senja untuk menjemput sang keponakan. Sedangkan Bintang serta anak cowok lainnya menggunakan mobil milik Bima, mereka semua tidak diperbolehkan membawa motor. Setelah berkumpul ditempat yang sudah Biru tentukan, mereka semua memulai perjalanan dengan senang. Tanpa mereka sadari, dibelakang ada mobil yang mengikuti.
3 jam berlalu, mereka akhirnya sampai di villa. Senja dkk menghirup udara segar di sana, pemandangan indah dapat terlihat langsung dari depan villa. Ara dan Silla mengajak Nadia masuk kedalam untuk istirahat. Sedangkan sisanya berkeliling bersama, Leo yang ikut pun mengajak adik tirinya berkenalan dengan para sahabat. Senyum tipis terukir pada wajah Daffa, namun saat Bima berbisik padanya wajah Daffa pun seketika berubah.
“Lu kenapa Daf? Sakit?” tanya Bintang.
__ADS_1
“Gue nggak papa kok,” jawabnya.
Bima mengajak Daffa untuk menghampiri Lea yang sedang bersama Senja. Dia ingin berkenalan lebih pada adik Leo tersebut, sesampainya di sana Bima langsung bertanya-tanya kepada Lea. Daffa memutuskan memisahkan diri dari kedua orang tersebut, dan Senja pergi di ajak oleh Pram. Dari kejauhan Leo, Bintang dan Seon memperhatikan Bima.
“Lihat tuh temen lu, kayaknya dia suka sama Lea. Sejak pertama kali adik lu datang jemput, si Bima katanya udah jatuh cinta,” ujar Bintang.
“Gue akui cantik sih adik tiri gue itu, musuh kita aja sampai suka sama dia.”
“Maksud lu Aldo?” tanya Daffa dari belakang. Ketiga cowok tersebut membalikkan badan, lalu Leo mengangguk. Dia juga menceritakan mengapa Aldo menghajarnya, itu semua karena Lea.
“Daf kalo lu nggak enak badan mendingan istirahat aja, nggak usah ikut keliling. Kayaknya lu lemes banget,” seru Bintang.
“Nggak papa Bin, gue sehat. Nggak usah khawatir, lagian tujuan kita ke sini buat berlibur. Ngapain juga gue ke sini kalo ujung-ujungnya malah rebahan di villa.”
Tak lama mobil Echa dan Bara sampai di sana. Mereka berdua datang terlambat karena Bara ada urusan penting yang tak bisa ditinggalkan. Nadia bersama putri Ara menyambut kedatangan mereka dan mengantarkannya ke dalam.
“Kak, panggil Senja sama teman-temannya buat masuk. Udah mulai malam,” ucap Ara pada Biru. Kebetulan kakaknya itu hanya duduk santai dengan Galang juga Arka.
Pukul 19.00, keluarga tersebut sudah berkumpul di depan meja makan. Berbagai macam makanan pun tersaji banyak, saat yang lain akan menyantapnya. Shena menghentikan dan menyuruh mereka membaca doa. Orang-orang yang berada di sana terkekeh.
Selesai makan malam, mereka juga berniat mengadakan barbeque bersama.
__ADS_1
Tawa dan candaan tak henti-hentinya selesai, Senja and the geng terus membuat Biru dkk terbahak akan tingkah mereka.
“Bim, udah nggak godain Tante Nadia kah?” tanya Leo.
“Nggak ah, ada Om Arka. lagipula sekarang udah ada Lea cantik.”
“Heleh! Kalo lu mau deketin adek gue harus baikin dulu abangnya.”
“Gampang, tinggal kasih permen juga cukup.”
Mata Daffa terus melirik Lea dan gadis itu melirik Bintang, sedangkan cowok yang dia lirik terus menatap Senja. Seon menyadari itu semua, dia mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Terdapat cinta yang sepertinya bertepuk sebelah tangan pada geng tersebut. Malam sudah berlarut, Biru menyuruh semuanya untuk pergi tidur, dia tidak mengizinkan anak-anak remaja itu bergadang. Pada esok harinya, depan villa di kejutkan dengan adanya beberapa bangkai tikus. Nadia yang melihat itu langsung mual-mual, untung saja Echa keluar dia membantu sahabatnya masuk kembali.
Arka baru saja selesai mandi, melihat istrinya seperti itu langsung bertanya kepada Echa apa yang terjadi. Perempuan tersebut menjelaskan jika Nadia melihat banyak bangkai tikus di depan villa. Semua orang yang baru bangun bergegas ke depan melihatnya juga. Bima dan Leo menahan diri untuk tidak muntah, Biru serta yang lainnya bertanya-tanya siapa orang yang melakukan hal tersebut.
“Gila! Pagi-pagi udah di suguhin sama beginian. Perut gue berasa di aduk-aduk, pen muntah,” ucap Bima.
“Nih kak,” seru Lea memberikan fresh care kepada kakak dan Bima. Bara, Galang dan lainnya membersihkan bangkai tikus tersebut, dari kejauhan nampak seorang wanita tersenyum senang, setelahnya dia pergi meninggalkan area villa.
“Tante Nadia nggak papa?” tanya Shena.
“Nggak papa sayang, cuman mual aja lihat bangkai barusan. Banyak banget mana belatungnya ihh pokoknya geli.”
__ADS_1
“Ya udah Nad, nih minum dulu. Abis itu kita pergi jalan-jalan yuk ke kampung yang berada dibawah,” ujar Ara.