
Mata Senja berbinar, sudah lama gadis itu penasaran akan wajah teman kecilnya yang selalu Biru dan Ara ceritakan padanya. Kini cowok tersebut telah kembali, Senja meminta Omnya untuk mempertemukan mereka sebelum pergi sekolah. Laura yang mengintip, memandang tak suka pada dua orang itu, dia terus memikirkan cara untuk cepat mendapatkan seluruh harta Pak Arya, sebab dirinya sudah tidak tahan jika harus terus-menerus bersikap baik serta berurusan dengan Senja si gadis nakal.
Daffa yang sekarang tinggal sendiri sedang menatap indahnya langit dimalam hari. Dia memejamkan matanya berdoa untuk kedua orang tua juga sang nenek, selain itu Daffa meminta doa dari keluarganya agar kuat menghadapi kejamnya dunia setelah lulus nanti. Tanpa dia sadari, Bintang sudah ada disampingnya melihat Daffa yang masih asik memejamkan mata. Ternyata dibalik indahnya masa sekolah atas kepopuleran mereka yang diraih, kelima orang itu memendam masalahnya masing-masing.
Bintang sendiri selalu merasa kesepian dan kasihan kepada Mamanya, setelah kepergian sang Papa maka Mamanya itulah yang harus mencari nafkah sampai masuk rumah sakit karena kelelahan. Padahal keluarganya merupakan orang terpandang dan disegani oleh banyak orang, namun entah kenapa setelah perginya sang Papa, kehidupan dia berubah. Sanak saudara lambat laun mulai menjauh dan kadang saat dibutuhkan mereka tidak ada yang mau membantu.
Selain itu, kehidupan Bima yang serba mewah tak membuat dirinya merasa bahagia. Dia selalu mendapatkan kekangan dari Papanya, dirinya bahkan selalu dibanding-bandingkan dengan saudara lainnya. Maka dari itu cowok tersebut lebih suka menghabiskan waktunya bersama para sahabat, terkadang tidak pulang karena lelah akan omelan dan perbandingan antar saudara. Berbeda dengan Leo, walau tidak ada masalah dalam kehidupan keluarganya, cowok itu lebih suka mencari ketenangan sendiri. Banyak menghabiskan waktu diluaran sana. Bertemu dengan Senja dkk membuat Leo merasa beruntung, selain memiliki hobi yang sama yaitu motor, mereka juga ternyata bisa diajak nyambung dalam berbicara ketika serius.
Senja sendiri sebagai ketua mereka tak kalah sulit akan masalahnya. Gadis itu belum mengetahui tentang identitas aslinya serta orang tua kandungnya. Sejak kecil sampai dewasa, Pak Arya, Biru dan sekeluarga tidak berniat memberitahu semuanya kepada Senja, mereka tahu bagaimana sikap gadis tersebut. Namun, apakah setelah kembalinya Nugraha semua masa lalu akan terungkap?
Malam semakin larut, Daffa membuka matanya dan terkejut akan kehadiran Bintang di sisinya. “Kenapa lu? Kayak lihat setan aja,” seru Bintang.
“Aelah Bin, ngapain sih diem di samping gue? Kenapa nggak bilang kalo lu ada di sini, bikin jantungan aja.”
“Hehe, ya sorry Daf. Abisnya lu serius banget.”
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti setelah Daffa melihat jam yang melingkar di tangannya. Lalu dia menyuruh Bintang untuk masuk kedalam. Dengan senang hati sahabatnya itu menurut, dia sengaja datang karena ingin menemani Daffa yang tinggal seorang diri.
......................
Matahari sudah mulai menampakkan diri, Laura datang ke kamar Senja sembari membawa sarapan. Dia sengaja melakukan itu sekalian ingin mengambil ponsel milik anak tirinya, yang dimana didalam ponsel tersebut ada bukti dirinya dan sang kekasih saat makan kemarin. Sayangnya baru saja akan membuka pintu, Senja lebih dahulu menarik kenop pintu kamarnya. “Heh mahmud! Ngapain lu didepan kamar gue?”
“Gue bawain lu sarapan lah, ngapain lagi coba,” jawabnya dengan senyuman terpaksa.
“Nggak ahk! Takutnya tuh makanan ada racunnya. Lu kan iblis, mana mungkin manusia paling baik hati ini mau makan-makanan yang iblis bikin. Eits..., bukannya mak lampir ini nggak bisa masak ya??”
“Dih..! Percaya diri banget kalo mukanya cantik. Heh, Laura! Lebih cantik juga kambing milik tetangga daripada lu, dah lah bye, buang-buang waktu gue kalo terus meladeni lu.”
Senja turun kebawah bertemu Papanya. Dia menyapa ramah pada lelaki tua yang tengah sarapan tersebut, setelah itu dirinya pamit kesekolah. Saat akan menyalakan motornya tiba-tiba saja suara notifikasi dari handphone terdengar, dia berpikir itu adalah Biru yang sudah menunggunya untuk bertemu dengan teman masa kecil. Namun, perkiraan Senja salah. Seperti kemarin-kemarin, nomor yang tidak dirinya kenal kembali mengirimi pesan sebuah poto waktu dirinya kecil.
“Siapa sih sebenarnya nih orang? Dan mau dia itu apa, kenapa tahu banyak tentang masa lalu gue sama Om Biru?”
__ADS_1
Dia menutup ponselnya dan memasukkan kedalam saku. Setelah itu pergi ke kedai sang Om, sesampainya di sana ternyata sudah ada Ara dan yang lainnya. Keberadaan cowok yang selalu dirinya diamkan juga berada di sana membuat si gadis heran. Biru mendekati Senja mengajaknya duduk bersama, setelah itu memperkenalkan Pram kepada gadis kesayangannya.
“Jadi Pram ini anaknya Tante Ara yang bernama Nugraha itu? Teman masa kecil aku yang sering dipanggil Langit?” tanyanya. Ara mengangguk atas pertanyaan Senja.
“Nggak nyangka ya kita ternyata teman masa kecil,” seru Pram bahagia. Senja berdehem, dia tak menjawab ucapan dari cowok di depannya. Jam telah menunjukkan pukul 07:30, Senja benar-benar telat berangkat kesekolah.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai disekolah. Namun, gerbangnya sudah para osis tutup, Senja berniat untuk memanjat pagar alam tetapi di halangi oleh Pram. Cowok itu khawatir jika Senja jatuh karena pagar sekolah tersebut lumayan tinggi. “Tenang aja Pram, gue udah biasa manjat kayak gini. Kalo lu mau berdiri terus di bawah sana mending sendirian aja, gue sih ogah! Panas,” ucapnya dari atas pagar. Pr menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan tingkah Senja bak anak lelaki. Dia saja yang benar-benar lelaki tidak berani manjat seperti teman kecilnya.
Kini gadis remaja itu telah berada didalam gerbang. Menatap Pram yang masih berdiri menatap pagar, dia meneguk ludahnya membayangkan jika dirinya jatuh, setelah itu bergidik ngeri. Lama menunggu Pram, Senja pun meninggalkan dan menitipkan motornya diluar pada cowok tersebut.
“Aduh! Nih guru udah ada dikelas belum ya? Semoga aja belum datang deh, biar gue nggak ketahuan telat,” pikirnya sepanjang jalan menuju kelas.
Dari kejauhan dia melihat Bima dan Leo yang pergi ke luar kelas. Senja melemparkan sepatunya ke arah dua cowok tersebut. “Woy, curut! sini-sini,” panggilnya pelan.
Dua sahabatnya mengangkat sebelah alis, mereka saling pandang lalu tersenyum bersama. Bima menjawab perkataan Senja dengan suara keras. Sang guru yang menyuruh kedua orang itu untuk mengambil buku pun mendengar suara Bima dan langsung keluar.
__ADS_1
“Kampret! Awas aja lu ya Bim, bonyok sama gue,” ucapnya dalam hati. Dia ketahuan oleh si guru karena datang terlambat, apalagi guru itu merupakan pengajar yang paling dia takuti beserta keempat temannya.