
Bintang mengulas senyum sedikit sambil terus melihat pada ponselnya. Daffa menyenggol dan menyuruh sang sahabat membalas pesan tersebut. Sesampainya di atas, para orang dewasa menyambut Bintang, satu persatu memberikan hadiah mereka kecuali Lea. Gadis itu meminta maaf tak mempersiapkan kado untuk Bintang karena dirinya tidak diberi tahu sang kakak.
Walau hanya acara biasa mereka semua menikmatinya. Senyum bahagia terpancar pada wajah masing-masing.
Pada pagi harinya, Biru terbangun. Dia membangunkan istrinya yang berada di sebelah. Melihat para anak remaja serta teman-temannya masih terlelap, awalnya Silla ingin membangunkan mereka namun dilarang oleh sang suami.
“Kita mandi bareng yuk,” ajak Biru tersenyum menggandeng lengan istrinya.
“Nggak ah malu, kamu duluan aja kalo mau mandi.”
Perkataan Silla barusan membuat sang suami cemberut, dia memalingkan wajahnya sambil mengembungkan pipi. Senja dan beberapa orang lainnya yang terbangun melihat itu, mereka sengaja tidak benar-benar membuka mata karena ingin melihat tingkah Biru yang seperti anak kecil. Jarang sekali lelaki tersebut menunjukkan sikap marah manjanya. Silla berjinjit mengacak rambut suaminya, dia tidak sampai karena Biru terlalu tinggi. Setelahnya sang istri menggoda lalu mengangguk. Dengan senang Biru mengangkat Silla dan langsung membawanya ke kamar.
“Ah Om Biru, manja banget. Kapan ya gue bisa kayak mereka begitu,” ungkap Senja tersenyum malu melihat tingkah Om dan Tantenya barusan.
“Nanti kita kayak gitu, nunggu lulus dulu ya.”
Senja melihat ke samping, nampak Pram yang tersenyum manis ke arahnya. Ara yang tak sengaja mendengar perkataan putranya pun langsung bertanya apakah mereka berpacaran? Senja dengan malu menjawab iya sedangkan Pram dengan bangganya mengangguk sekaligus meminta izin pada ibunya itu.
“Maaf Nugraha, ibu nggak setuju kalian pacaran.”
“Kenapa?” tanyanya namun Ara tak menghiraukan dan pergi begitu saja membawa Shena ke kamar. Pram menyusul sang ibu untuk kembali menanyakan alasan mengapa Ara tidak menyetujui hubungannya dengan Senja.
Awalnya Ara tak mau berbicara juga menjelaskan, setelah di desak terus menerus oleh sang putra akhirnya Ara menceritakan jika Nugraha dan Senja adalah adik kakak. Seperti disambar petir di siang hari, Pram tertegun mendengar pernyataan ibunya. Dia tidak mau mempercayai omong kosong tersebut, namun Galang membenarkannya.
“Walau kalian adik kakak sah-sah aja menjalin hubungan. Karena kamu dan Senja berbeda ibu.”
“Nggak! Mau sekuat apapun mereka menjaga hubungannya, tetap saja Nugraha dan Senja di haramkan untuk menikah,” ucap Ara memotong.
“Maksudnya?”
__ADS_1
“Kamu ingat lelaki yang pernah dirawat dirumah sakit dulu, dia adalah ayah kandung kamu dan Senja. Pacar kamu adalah kakak tirimu sendiri.”
Pram menelan ludahnya tak percaya akan cerita kedua orangtuanya. Dia pergi ke luar menuju kamar sang Om. Ingin bertanya apakah cerita ibunya itu benar atau tidak. Biru yang sedang asik mandi berdua dengan Silla pun harus terhenti karena Pram terus menggedor pintu kamarnya. Saat sudah dibuka, anak remaja tersebut meminta jawaban jujur dari si Om, Biru terdiam tidak tahu harus menjawab apa pada keponakannya itu.
Di atas, Bintang, Daffa, Bima dan yang lain hanya bisa diam saat Ara berkata tidak merestui hubungan Senja.
“Rahasia apalagi nih yang terungkap?” bisik Leo kepada Bima.
“Sen? You okay?” tanya Bintang.
Senja melihat ke arahnya sekilas lalu pergi turun tanpa berbicara apapun. Arka, Nadia, Echa juga Bara yang baru saja terbangun merasa heran mengapa para remaja itu hanya berdiri mematung melihat kepergian Senja. Keempatnya penasaran akan keributan di bawah sana, Nadia mengajak suaminya untuk melihat apa yang sedang terjadi.
“Liburan kita kenapa jadi begini? Gue kira Tante Ara udah tahu soal hubungan anaknya sama Senja, ternyata belum,” seru Bima.
“Ini masalah keluarga, kayaknya kita stay dulu di sini deh jangan ada yang turun sebelum keributan selesai,” ucap Bintang. Semuanya mengangguk setuju. Cukup lama mereka berada di atas, Tante Nadia naik memberitahu untuk makan siang bersama. Sembari menuruni anak tangga, Bintang bertanya apakah masalah yang ada dibawah sudah selesai atau belum? Wanita itu tersenyum tanpa menjawab.
“Ayo makan, jangan pada diem.”
“Iya Tante,” jawab para anak remaja serentak.
Selesai makan Bintang dkk izin pamit karena mereka semua belum mandi sejak pagi. Melihat Senja pergi tanpa berbicara Pram pun ingin menyusulnya, namun setelah mendengar perkataan ibunya langkah cowok itu langsung terhenti.
Di tempat lain, Senja tengah duduk sendirian dipinggir jalan. Lalu anak si penjaga menghampiri dan menghiburnya, dia mengajak Senja untuk bermain layangan bersama. Terus di paksa mau tak mau gadis itu pun mengikuti langkah Meli.
“Tunggu sebentar ya mbak, saya mau ambil layangannya dulu di mas Reno.”
Senja mengangguk, dia memperhatikan sekumpulan anak remaja yang duduk di sebuah warung makan. Salah satu dari mereka memandang Senja membuat gadis itu berbalik badan. Tidak lama datanglah Meli membawa satu layangan, setelahnya dua perempuan tersebut pergi ke lapangan.
“Mbak, tadi ada salam dari salah satu pemuda di warung sana.”
__ADS_1
“Ya,” jawabnya singkat.
“Oh iya, kayaknya gue sama ku seumuran deh. Jadi jangan manggil mbak ya, gue berasa tua,” sambungnya Senja. Dia kembali menatap beberapa layangan yang terbang tinggi.
“Maaf mbak eh Senja. Udah siap nih kamu pegang di ujung sana ya biar aku yang terbangin.”
Layangan milik Meli pun terbang tinggi, Senja tersenyum melihatnya. Baru pertama kalinya bermain seperti itu, lalu Meli memberikan layangan tersebut kepadanya. Kembali ke villa, Pram menghampiri Bintang dkk, dia menanyakan keberadaan Senja yang sejak tadi tidak dia temukan. Cowok itu ingin menjelaskan semuanya bahwa mereka masih bisa menjalin hubungan. Pram tidak mau kehilangan Senja kedua kalinya, bersama gadis itu membuat banyak perubahan pada dirinya.
“Menurut gue sih mending biarin Senja sendiri dulu, kita semua tahu gimana sifat dia. Jangn khawatir karena Senja bisa jaga diri.”
“Benar apa kata Bintang, lu bisa jelasin sama dia nanti.”
“Tapi kan.... Bin, Daf?”
“Udah bro tenang aja, hubungan lu sama Senja nggak akan berakhir. Kalian udah sama-sama dewasa,” seru Leo menepuk pundaknya.
Di ruangan lain, Biru dan Galang masih membujuk Ara untuk merestui hubungan Pram dan Senja. Namun wanita itu menolak keras, walau Senja gadis kesayangan kakaknya tetap saja dia tidak akan merestui hubungan anaknya.
“Jangan bikin ribet hubungan mereka Ra, kamu sendiri udah tahu bagaimana sikap Senja, dia gadis baik jadi apa salahnya pacaran sama Nugraha?” ujar Biru.
“Dia itu anak Heru,” jawab Ara tegas.
“Nugraha juga anaknya Heru! Ya, mereka saudara tiri satu ayah beda ibu.”
”Kenapa sih belain Senja terus, dia itu orang asing dalam keluarga kita. Kedua orang tuanya aja udah nggak peduli sama dia.”
“Jangan salahin Senja, dia nggak tahu apa-apa soal kedua orang tuanya. Bayangin sejak kecil dia nggak pernah melihat wajah ibu kandungnya, bertemu dengan ayahnya juga hanya sebentar.”
Biru marah, membentak adiknya sampai ingin memukul Ara namun dia urungkan. Silla dan Galang mencoba melerai pertikaian adik kakak itu, mereka membawa pasangannya masing-masing pergi.
__ADS_1