
Senja masih berada di rumah sakit, gadis itu belum diperbolehkan pulang oleh dokter. Bintang, Daffa serta yang lain selalu datang ke sana menjenguk sang sahabat. Seperti langkah bagus baginya, kini Senja begitu dekat dan selalu menempel pada Bintang. Karena gadis tersebut masih mengira jika cowok itu adalah kekasihnya. Akan tetapi, dia tidak mau memanfaatkan keadaan, jika suatu saat Senja ingat dan sembuh dari amnesianya, keadaan akan kembali seperti semula. Mereka hanya bisa menjadi seorang sahabat bukan sepasang kekasih.
Laura yang menjaga sang putri merasa senang, sebab anaknya itu terus memanggil dirinya dengan sebutan Mama, apalagi gaya bahasa Senja yang sopan dan selalu tersenyum saat berbicara. Itu semua karena sang anak hilang ingatan, jika sudah sembuh sudah pasti akan kembali ke setelan awal.
...----------------...
Satu minggu kemudian...., Senja sudah berada di rumah. Saat itu Sea tengah duduk didepan menunggu kepulangan sang pemilik rumah. Mendengar suara klakson dari luar dengan cepat wanita itu melangkahkan kaki menuju gerbang. Sesudah memarkirkan mobil, mereka bertiga turun. Senja menyapa ramah Sea namun wanita itu malah bersikap cuek dan memasang wajah judesnya.
Padahal waktu malam itu dia dengan Daniel berharap jika Senja tidak selamat. Ternyata kecelakaan tersebut sudah dirinya rencanakan bersama sang kekasih. Menurutnya Senja adalah orang yang tidak gampang untuk disingkirkan. Gadis itu akan selalu menghancurkan apapun rencana yang mereka rancang, berbeda dengan Laura dan Pak Arya.
Setelah menyambut kepulangan tuan rumah, Sea pamit kepada Laura. Dirinya sudah dijemput oleh Daniel, mereka berdua akan berkencan menghabiskan waktu bersama. Sang kakak hanya mengangguk tanpa berbicara, sebenarnya dia sakit hati telah dikhianati oleh adik dan mantan kekasihnya.
“Mah, aku lapar.”
“Oh sebentar, kebetulan tadi udah pesan makanan. Mama angetin dulu ya, tunggu.”
Senja tersenyum menunggu Laura menghangatkan makanan yang telah dirinya pesan waktu pagi. Dia melihat ke sekeliling lalu matanya tertuju pada sebuah poto yang tertempel didinding. Sang Papa yang berjalan ke arahnya pun langsung dia stop, menanyakan siapa lelaki yang ada di dalam poto tersebut.
“Dia kakak kamu,” ucap Pak Arya tertunduk. Dirinya teringat kepada Andi, anak semata wayangnya.
“Dimana sekarang? Apa pergi kuliah?” tanyanya kembali.
Sang Papa menggeleng, air mata mengalir sedikit dan langsung dia usap sembari membalikan badan. Dia tidak mau putrinya itu melihat dirinya menangis. Bukannya menjawab pertanyaan Senja, Pak Arya malah mengalihkan topik dan mengajak anaknya kembali ke meja makan. Poto Mama Andi serta Oma sengaja tidak Pak Arya pajang lagi di ruang tamu ataupun keluarga. Dia menyimpan poto dua wanita itu di ruang kantor rumah.
__ADS_1
“Besok berarti Senja udah boleh sekolah?” ucapnya sembari mengunyah makanan.
“Iya sayang, nanti kamu berangkatnya di antar sama Mama pakai mobil. Tidak boleh pergi sendiri apalagi naik motor.”
“Emangnya aku sering pergi naik motor kalo sekolah?”
“Sudah, nanti bicara lagi. Sekarang makan dulu nggak baik makan sambil ngobrol,” potong Laura.
Pukul 20.00, Bintang bersama anak-anak geng motor datang ke rumah Senja. Gadis itu heran mengapa banyak sekali anak cowok yang menjadi temannya. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah dia sama sekali tidak mempunyai teman perempuan? Awalnya ragu mengobrol dengan banyak cowok, namun lama-kelamaan Senja merasa nyaman dan terhibur. Dia selalu tertawa jika salah satu dari mereka bertingkah atau berbicara lucu.
Pak Arya bersama Laura mengintip putrinya dari dalam. Sang Papa sebenarnya berharap jika anak gadisnya itu tidak bergabung dengan geng motor, dia ingin Senja menjadi seorang perempuan seperti anak-anak lain. Namun setelah melihat kepedulian dan kekeluargaan yang teman-temannya berikan kepada Senja, dia akan mengizinkan putrinya bermain bersama mereka. Pak Arya yakin, cowok-cowok itu tidak akan berbuat aneh dan akan melindungi putrinya.
“Udah setengah sebelas, Senja harus istirahat. Kalian juga besok sekolah lebih baik segera pulang. Nanti main lagi ke sini,” ujar Pak Arya.
Bintang, Seon dan yang lainnya bangkit dari duduk. Satu persatu mulai berpamitan dan bersalaman kepada Papa Senja serta Laura.
“Iya, nanti aku berangkat sama Mama.”
Esok harinya, jam menunjukkan pukul 05:30. Senja menggeliat saat Laura mencoba membangunkan dirinya. Walau mengalami amnesia namun kebiasaan tidur gadis itu tidak berubah. Dia masih malas-malasan untuk membuka mata dan selalu meminta waktu tambahan.
Senja menguap sambil menggaruk kepalanya. Dia berusaha membuka matanya namun rasa kantuk masih dia rasakan.
“Apasih Laura, ganggu tidur gue aja. Sana lu pergi dari rumah gue,” ucapnya tanpa sadar. Hal itu membuat Laura yang masih berada di sana terkejut, dia berpikir apakah ingatan Senja sudah kembali atau anak itu hanya berpura-pura amnesia?
__ADS_1
Namun jika di ingat-ingat lagi perkataan itu adalah kata-kata yang selalu Senja lontarkan saat dirinya dibangunkan Laura. Saat sang putri membuka matanya dia bertanya jam berapa dengan nada pelan.
“Udah setengah enam pagi. Ayo cepetan mandi abis itu turun ke bawah. Mama mau periksa keadaan nenek dulu, Papa udah ada di sana.”
“Iya Mah, oh iya baju aku udah di siapin kan?”
“Udah, semuanya ada di meja belajar kamu.”
Cukup lama gadis itu berada di dalam kamar mandi, Laura datang lagi untuk memeriksa. Suara air menyala namun dia tidak mendengar suara seseorang mengguyur tubuhnya. Merasa penasaran dengan apa yang anaknya lakukan di dalam, Laura pun membuka sedikit. Lalu terlihat jika Senja malah terduduk di toilet sambil memejamkan matanya.
“Nih anak malah lanjut tidur,” ucap Laura menggeleng-gelengkan kepala. Dia pun membangunkan putrinya dengan pelan.
“Hm, dingin. Malas mandi aku,” jawabnya.
“Udah jam setengah tujuh loh. Nanti telat sekolahnya ayo buruan mandi.”
“Nggak usah mandi aja lah ya. Ini airnya dingin banget, haaaahhh....” ungkapnya sambil menguap.
“Kalo nguap tuh tutup mulutnya, nanti gayung masuk baru tahu rasa,” ujar Laura bercanda. Sontak Senja menutup mulutnya. “Emang iya?” tanyanya dengan polos.
Laura terkekeh, dia merasa gemas akan sikap Senja yang sekarang. Semenjak amnesia gadis itu berubah drastis. Tidak mau putrinya terlambat, sang Mama pun menawarkan diri untuk memandikan Senja.
“Nggak! Mama sana keluar biar aku mandi sendiri. Beneran kali ini aku mandi, nggak tidur lagi.”
__ADS_1
20 menit berlalu, Senja baru saja selesai dengan ritual paginya. Dia merasa segar kembali, setelah memakai seragam yang telah Mamanya siapkan Senja pun turun ke bawah untuk sarapan. Gadis yang selalu bertengkar dengan Laura kini dengan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Morning,” sapanya mencium pipi sang Mama. Laura menelan ludah tak percaya. Dengan gugup dia menyapa balik gadis dibelakangnya tersebut.