Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 23


__ADS_3

Beberapa saat kemudian bel masuk kembali berbunyi. Semua para murid berhamburan masuk kedalam kelasnya masing-masing. Di saat yang lain pergi menuju kelasnya, Pram justru keluar menghampiri Senja dkk yang masih duduk di lapangan. Tanpa ada yang menduga, cowok itu berlutut di depan gadis pujaannya. Bintang, Bima, Leo dan Daffa hanya melihat pemandangan tersebut dengan wajah terkejut. Para siswa-siswi lain pun melihat dari jendela diatas. Mereka semua nampak serius memperhatikan Pram yang sepertinya akan mengungkapkan perasaannya kepada Senja.


“Bin, aku mau minta izin sama kamu dan yang lain untuk menyatakan cinta sama sahabat perempuan kalian.”


Bintang melirik ketiga temannya, dia berdehem dan mengangguk tidak mengatakan apapun. Dengan wajah seriusnya Pram memegang lengan Senja, awalnya dia sedikit bergetar. Namun Pram berusaha kuat dan berani untuk menyentuh tangan gadis populer tersebut.


“Senja, kamu udah dengar kan apa kata aku barusan ke Bintang? Would you be my girlfriend?” ungkapnya sembari berteriak dan didengar oleh semua murid.


“Apapun jawaban kamu akan aku terima,” sambungnya. Para murid teriak mengatakan terima kepada Senja. Seketika satu sekolah menjadi riuh karena hal tersebut. Guru-guru yang penasaran juga ikut melihat pengungkapan isi hati Pram di lapangan.


Senja hanya diam memandang wajah Pram lekat. Jika dia menolak maka cowok di depannya akan merasa malu, Senja pun menghela napasnya berat lalu mengangguk. Bintang dkk melototkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihat tadi. Gadis yang tidak pernah menjalin hubungan dengan seseorang kini menerima pernyataan cinta dari Pram, seorang cowok yang belum lama dia kenal. Padahal Bintang yang selalu ada dia tolak begitu saja.


Ada sedikit rasa sakit pada hatinya. Namun Bintang tidak bisa berbuat apa-apa jika masalah perasaan. Daffa yang sadar sahabat satunya sedih mengelus lembut punggungnya. Dia tersenyum lalu mengajak Bintang pergi. Pram begitu senang saat tahu Senja menerima cintanya, murid-murid juga masih bersorak ria bahagia.


“Makasih ya Sen, kamu udah mau nerima aku. Nggak nyangka bisa menjadi pacarnya seorang Senja, cewek paling populer disekolah.”

__ADS_1


Senja terkekeh akan ucapan Pram, dia membantu cowok itu yang kini telah menjadi kekasihnya untuk berdiri. Mereka berdua berjalan berdampingan sembari berpegangan tangan membuat para siswa yang sejak lama ingin menjadi pacar Senja iri. Mereka kalah oleh seorang Pram yang notabenenya murid baru. Sedangkan Bima dan Leo hanya mengangkat kedua bahunya, mereka tidak menyadari kepergian dua temannya.


Hubungan Senja dan Pram pun dengan cepat menyebar dan itu menjadi topik hangat bagi para murid lainnya. Tak hanya satu atau dua orang saja, namun hampir satu sekolahan apa yang mereka bahas hanya tentang Senja. Sedangkan dirumah sakit, Ara tak sengaja bertemu dengan Sasa yang tengah duduk didepan salah satu ruangan. Akan tetapi dia sama sekali tidak menyapa wanita yang ada didepan matanya.


“Ngapain si Ara di sini?” tanya Sasa pada dirinya sendiri. Dia mengerutkan kening lalu mengikuti Ara dan sampailah di salah satu ruangan dimana di sana ada Galang juga Biru. Setelah memperhatikan, dia pun kembali ke ruangan Heru. Tak lama dering telpon terdengar, ternyata itu dari Bara. Suami Echa tersebut meminta Sasa untuk segera datang ke kantor karena ada meeting yang sangat penting.


Jam telah menunjukkan pukul 16:30. Senja dkk berniat pergi ke kedai Biru. Pram yang kini telah menjadi kekasihnya diajak kemanapun dirinya pergi. Jelas saja hal itu membuat Pram bahagia. Namun, sesampainya di sana, mereka semua hanya melihat Nadia dan Arka saja. Senja pun bertanya pada pasangan suami istri tersebut kemana Omnya pergi. Nadia menggeleng tidak tahu, dia menjelaskan bahwa sejak tadi tak melihat keberadaan Biru dari awal dirinya datang. Biasanya mantan ketuanya itu akan selalu menyambut kedatangannya.


“Kira-kira Om Biru kemana ya? Tumben juga biasanya selalu chat kirim pesan, tapi sekarang nggak ada kabar sama sekali.”


“Mungkin, tapi udahlah. Oh iya Daf, lu malam ini mau ikut kita nggak?”


”Nggak Sen, mulai sekarang gue kalo mau main jam 9 atau 10 udah harus pulang. Itu pesan nenek gue yang terakhir, dia nggak mau gue begadang maupun bermain sampai larut malam.”


“Gue paham, okay lah nggak papa. Yang lain tetap ikut kan?” ujarnya. Bintang dkk pun mengangguk, sedangkan Pram hanya diam. Cowok itu bingung harus berkata apa karena sepertinya Senja tidak mengajak bicara.

__ADS_1


Mereka semua tetap makan cake di kedai Biru walau sang pemiliknya tidak ada. Sampai pukul 18.00 semua izin pulang pada Nadia dan Arka. Di perjalanan, kelima sahabat tersebut kembali bertemu dengan bapak-bapak yang dulu mereka acungkan jari tengahnya. Si bapak memperhatikan mereka dengan tatapan tajam. Bima dan Leo bergidik ngeri melihatnya, keduanya langsung tancap gas karena takut. Bintang, Senja dan Daffa justru kembali mengacungkan jari tengahnya. Ketiganya seperti tidak ada rasa takut pada lelaki berbadan besar dan berwajah sangar itu.


Sesampainya dirumah, Laura sudah menunggu kepulangan anak tirinya. Dia terlihat bulak-balik didepan pintu seperti orang yang tidak mempunyai pekerjaan. Senja memasukkan motornya kedalam garasi, setelah itu masuk rumah tanpa menyapa atau mencium tangan sang Mama tiri. Tak lama kemudian, Pak Arya pulang. Laura yang diacuhkan oleh Senja pun langsung mengadu.


Wajah tua Pak Aray terlihat sangat lelah. Namun ocehan sang istri tentang Senja tetap dia dengarkan. Entah pelet apa yang Laura gunakan pada laki-laki tua tersebut sampai dia tunduk padanya. Saat makam malam tiba, gadis remaja itu nampak menghela napasnya berat. Jika bukan perintah dari Papanya dia tidak akan sudi makam satu meja dengan Laura. Wanita yang telah mengubah sang Papa.


Tidak ada satu suara pun yang keluar dari mulut mereka bertiga. Sampai makam malam selesai, Pak Arya menyuruh putrinya untuk menonton bareng. Tapi Senja menggeleng dengan alasan akan mengerjakan tugas dikamar.


“Biarin aja mas. lagipula benar kata Senja.”


“Udah lama dia nggak nonton bareng mas sayang. Sikapnya banyak berubah, entah apa yang membuat dia seperti itu,” jawab Pak Ara.


Senja yang baru jalan satu langkah langsung terhenti. “Bukan Senja yang berubah Pah, tapi Papa sendiri. Apa yang Laura katakan Papa selalu percaya, padahal wanita itu hanya memanfaatkan Papa doang,” ucapnya dalam hati lalu melanjutkan langkahnya pergi ke kamar. Dia merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar lalu memejamkan mata. Sampai suara dering telpon bunyi, Senja terbangun.


“Astaga gue lupa! Hari ini kan balapannya,” ujarnya.

__ADS_1


__ADS_2