Love My Stepbrother.

Love My Stepbrother.
Chap 85


__ADS_3

Mereka semua bergembira bersama sampai larut malam. Biru mengingatkan para anak remaja tersebut untuk pulang kerumahnya masing-masing karena esok hari harus pergi ke sekolah. Semuanya menurut, Senja mengantarkan teman-temannya ke depan gerbang, dia melambaikan tangan sambil berkata hati-hati. Setelah kepulangan mereka, Biru terlebih dulu mengajak sang ponakan berbincang, dia menanyakan tentang hubungan Senja.


Jam telah menunjukkan pukul 23.00, Silla yang sudah merasa kantuk pun izin pada suaminya untuk tidur duluan. Di keheningan itu, berdua dengan sang Om. Senja menceritakan perasaannya kepada Theo. Dia berkata bahwa sekarang tidak ada lagi rasa terhadap lelaki tersebut, dihatinya sudah tersimpan nama Bintang. Cowok yang selalu ada disaat dirinya merasa sedih ataupun senang.


Biru sendiri tidak masalah jika Senja mencintai Bintang, karena memang lelaki itu begitu baik dan sopan. Sang Om memberikan saran pada ponakannya padahal dia sendiri tidak terlalu paham soal percintaan. “Baiklah, sekarang pergi tidur. Ketahuan begadang nggak bisa naik motor sebulan!”


Seketika Senja teringat dengan motor pemberian Papanya. Dia mengadu kepada Biru karena motor tersebut telah tidak ada, dijual oleh Sea. Lelaki tampan itu membuang napasnya, memegang kedua pundak Senja sambil mengatakan jika Sea menjadi urusannya. Si keponakan pun mengangguk menurut, segera melangkahkan kakinya menuju kamar. Tak lama kemudian pintu depan terbuka, nampak seorang wanita yang selalu menjadi beban dalam keluarga Pak Arya.


Biru berjalan mendekat, mengancam Sea dengan wajah datar untuk membawa pulang motor milik Senja. Tak lupa memperingati wanita tersebut agar tidak membuat masalah terhadap keponakannya. Awalnya Sea hanya menganggap sepele perkataan Biru. Namun, saat ditatap dengan tajam dia langsung menunduk dan mengangguk lalu pergi ke kamarnya.


“Nggak bisa dibiarkan, kalo dia terus berada di sini gimana keluarga Pak Arya mau bahagia,” gumam Biru.


......................


“Sayang, mulai besok kita urus surat-surat untuk mereka berdua. Keluarga kita bakal lengkap sekarang,” ujar Bara kepada Echa. Istrinya tersenyum sambil menatap bayi yang digendong. Dia begitu senang bisa merawat dua anak tersebut.


“Iya, walaupun mereka bukan anak kandung kita tapi aku akan menganggapnya seperti anakku sendiri. Kasian juga hidup di luaran sana.”

__ADS_1


Bara menatap gadis kecil yang kira-kira berusia 7 tahun dengan tatapan sedih. Hati kecilnya menangis melihat betapa malangnya anak tersebut hidup di jalanan sambil membawa seorang bayi. Untung saja mereka bertemu Bara dan Echa yang kebetulan menginginkan anak.


Hari demi hari terus berjalan. Kehidupan Senja dkk masih sama seperti biasa. Theo juga sepertinya sudah sedikit menyerah untuk memperjuangkan cintanya. Setiap hari melihat sang crush bermesraan dengan Bintang, tidak ada lagi harapan baginya memiliki Senja. Ulangan semester akhir juga sudah dimulai. Seluruh siswa disibukkan dengan belajar, mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dan masuk universitas impian.


Satu minggu berlalu, para murid termasuk Senja dkk tengah menunggu penilaian akhir mereka. Semua berdoa agar lulus bersama, Seon, Pram, Daffa dan dua teman lainnya mengajak Senja untuk mendaftar ke universitas yang sama dengannya. Gadis itu tentu akan ikut, dia melirik ke arah Bintang. Namun, cowok tersebut malah terdiam tidak mengeluarkan suara.


Pada sore harinya, Bintang yang sudah pulang ke rumah langsung menghampiri sang Mama. Dia meminta agar tetap berada di Indonesia, melanjutkan sekolah di tempat dirinya lahir. Namun, Bu Ana tetap dengan keputusannya. Menyuruh Bintang berkuliah di negara orang. Itu lah alasan mengapa cowok tersebut terus diam jika teman-temannya membahas universitas.


“Nenek udah baikan sekarang?” tanya Senja sambil duduk dilantai kepada ibu Laura yang menggunakan kursi roda.


Wanita tua tersebut mengelus lembut kepala cucunya. Keadaannya pun sudah membaik dari sebelumnya, Laura tersenyum hangat melihat mereka akrab, dia berterimakasih karena Senja begitu sayang pada ibunya. Seminggu yang lalu setelah Biru memperingati Sea, wanita itu langsung membawa pulang motor yang telah dirinya jual tersebut. Daniel sedikit kecewa akan keputusan Sea, namun apa boleh buat jika kekasihnya di usir oleh Biru maka rencana dirinya akan gagal. Dia terus memanfaatkan Sea untuk mengambil seluruh harta sang kakak.


“Selamat Ka! Akhirnya anak yang ditunggu-tunggu lahir juga,” ucap Biru.


“Makasih Bi, istri lu juga bentar lagi lahiran.”


Air mata tak bisa Arka tahan. Dia benar-benar bahagia akan kelahiran putranya. Sore berganti malam, Senja asik mengobrol dengan Mamanya, kini mereka telah akur. Gadis nakal tersebut sudah bisa menerima keberadaan Laura dalam kehidupannya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi Pak Arya sakit-sakitan. Dia terus mengingatkan dua perempuan yang disayanginya untuk tidak bertengkar.

__ADS_1


“Mah, kira-kira kalo aku masuk ke universitas yang sama kayak Daffa dan lainnya boleh nggak??”


“Jelas boleh, itu semua keputusan kamu. Kalo universitas itu baik dan bagus ya silakan. Papa juga pastinya nggak akan larang. Pasti Bintang juga masuk ke sana ya?”


“Nggak tahu, dia diem mulu kalo ditanya. Kenapa ya?? Takut dia kuliah ke luar negeri, ughhh...!”


“Loh kenapa takut kan kamu juga bisa kuliah di sana. Ikut sama Bintang,” ujar Laura. Senja melihat ke arah Papanya yang tengah menonton. Dia menghela napas dan berkata jika dirinya tidak bisa meninggalkan sang Papa dalam keadaan kurang sehat. Laura paham akan pemikiran putrinya, sesayang itu gadis tersebut pada orang yang telah merawatnya sejak kecil.


“Daffa uang untuk daftar kuliah kamu sudah Tante siapkan. Kamu harus melanjutkan pendidikan seperti yang lain, urusan dagangan biar Tante yang handle. Lagipula kita sudah memilki beberapa toko.”


“Tapi Tante sendirian ngurus semuanya apa nggak kecapean?”


“Kenapa nggak ajak anak geng motor kamu yang nganggur buat kerja di sini. Kan lumayan juga buat mereka.”


“Ah iya kok aku nggak kepikiran.”


Kehidupan Daffa berubah setelah adanya Sasa. Uang yang dimiliki dia percayakan pada teman SMA Biru itu, semua kebutuhannya diaturkan oleh Sasa.

__ADS_1


Setelah kelulusan nanti Theo memutuskan untuk kembali ke luar negeri. Dia akan pergi jauh dari Senja, mencoba melupakan gadis tersebut dari pikirannya. Senja sendiri kini telah menganggapnya seperti kakak, beberapa kali menjodohkan Theo dengan teman sekelas. Namun, tidak ada satupun yang membuat cowok itu terpikat.


“Andai lu nggak pergi dulu mungkin dia akan jadi milik lu sekarang. Kalo waktu bisa diubah gue bakal terus di sisinya,” ucap Theo pada dirinya sendiri.


__ADS_2