
Tak lama setelah pesan yang Senja ketik terkirim, Daniel dengan cepat membalasnya dan mengiyakan ajakan Laura. Gadis itu tersenyum senang karena rencananya mengerjai wanita ular tersebut akan segera terlaksana. Suara langkah kaki mulai terdengar, dia langsung mengembalikan handphone itu ke tempatnya.
“Eh ada Om ganteng, nggak sibuk emangnya?”
“Kenapa kamu nggak sekolah? Tadi Bima nelpon dia nyuruh Om buat periksa keadaan kamu. Mereka khawatir karena nggak ada kabar sama sekali,” jawabnya. Buru-buru Senja berlari ke kamarnya mencari ponsel. Setelah ketemu ternyata handphone dia lowbat dan belum di charger. Biru menyusul remaja itu kembali menanyakan mengapa tidak masuk sekolah.
“Seragam aku nggak ada Om, kayaknya mak lampir itu deh yang ngumpetin.”
“Jangan asal nuduh, belum tentu Laura yang ambil.”
“Ish! Kok Om bela dia sih bukan Senja. Jangan-jangan Om tertarik ya sama cewek ular itu?”
“Amit-amit Om suka sama dia. Om juga tahu mana cewek baik mana yang nggak. Modelan kayak Laura itu banyak di luaran sana,” ujarnya.
Di taman sekolah, Bintang dan Pram terlihat serius mengobrol berdua. Sudah pasti topik utama dalam obrolan kedua lelaki tampan itu adalah Senja. Bintang mempertanyakan penyebab berakhirnya hubungan mereka. Awalnya Pram diam tidak mau membicarakan hal tersebut, tapi saat Bintang akan pergi melangkahkan kakinya dia mulai angkat bicara.
“Jangan nyerah! Gue yakin sebenarnya Senja juga suka sama lu,” ujar Bintang memegangi kedua pundak teman kelasnya.
__ADS_1
“Kamu sendiri gimana Bin? Kayaknya kamu juga suka sama Senja,” tanyanya balik. Bintang tersenyum, dia menjelaskan jika memang benar bahwa dirinya menyukai Senja, namun gadis itu tidak mempunyai perasaan yang sama sepertinya. Bahkan ungkapan cintanya saja ditolak dan hanya dianggap sebagai saudara tidak lebih. Bintang memberi saran kepada Pram agar terus semangat mendapatkan hati sahabat perempuannya. Setelah berbicara seperti itu dia pun pamit ke kelas.
Hati yang tadinya sakit kini kembali semangat, Pram akan menurut dengan perkataan Bintang barusan. Tapi jika cintanya masih bertepuk sebelah tangan maka dengan ikhlas dia harus melupakan Senja.
Beberapa jam kemudian, Bima dkk sedang berkumpul di kantin. Gadis berkacamata yang bernama Cantika kembali menghampiri meja tempat keempat cowok tampan itu berada. Sudah dari jauh hari gadis tersebut merubah penampilannya, banyak juga para kaum Adam yang kini mengincar untuk menjadikan gadis itu kekasih.
Namun, walau begitu Cantika menolak mereka semua. Dia tetap menyukai cinta pertamanya yaitu Bintang. Sosok lelaki yang selalu bersikap dingin pada orang-orang sekolah kecuali para sahabatnya mampu membuat Cantika tidak bisa melupakan wajah tampannya. “Bintang,” ucapnya.
“Apa?”
“Ini ada kartu undangan buat kamu juga teman-teman yang lain. Aku harap malam minggu nanti kalian berempat, eh tambah Senja bisa hadir dalam acara ulang tahunku,” ungkapnya. Bima dan Daffa bersorak mendapatkan undangan ulang tahun itu. Mereka senang karena dapat makan gratis di acara Cantika. Bintang mengangguk tanda menerima, dia tersenyum dikit membuat Cantika menelan ludahnya. Pertama kalinya gadis itu melihat sang pujaan hati, cowok paling populer dan juga tampan tersenyum kepada-nya. Hati wanita mana yang tidak tersentuh oleh senyuman manis milik Bintang.
“Wah, Bin! Lu jangan dulu punya pacar lah, kita udah bersama lama banget.”
“Lah? Hubungannya apa Bimbim?” seru Leo.
“Ya...., nanti kalian bakal sibuk sama pasangan masing-masing. Bakal jarang buat main dan kumpul bareng lagi,” jawabnya. Daffa mengangguk membenarkan perkataan Bima, mereka berdua bukan bermaksud untuk mengatur masalah cinta teman-temannya. Bintang berdiri menghentikan obrolan ketiga temannya, dia mengajak Bima, Leo dan Daffa pergi ke lapangan untuk bermain basket. Dengan senang hati mereka berdiri mengekor dibelakang Bintang menuju lapangan.
__ADS_1
Kedatangan geng Bintang langsung membuat para cewek-cewek berkumpul dan duduk dipinggir lapang. Permainan antara kelasnya dengan kelas sebelah begitu ramai, suara teriakan terdengar cukup keras. Menyebut nama Bintang serta ketiga sahabatnya. Padahal itu hanya permainan biasa bukan ajang pertandingan.
Sedangkan dikediaman Pak Arya, Senja masih asik berbincang dengan Omnya. Dia juga menceritakan rencananya kepada Biru yang akan mengerjai Laura. Tak terasa waktu begitu cepat berjalan. Hari sudah mulai gelap, suara klakson mobil terdengar dari luar gerbang. Senja melihat dari atas balkon ternyata Papanya sudah pulang.
“Maaahhhmudd.....!” teriaknya dari atas. Laura yang berada dibawah duduk santai dan sibuk dengan ponselnya terkejut akan teriakan Senja. Dia berdengus kesal lalu menyadari bahwa suaminya sudah pulang dan minta dibukakan gerbang.
Saat sudah berada didepan gerbang Senja kembali berteriak. “Lu budeg atau apa hah?! Itu Papa daritadi klakson, di bawah ngapain aja sih?”
Pak Arya nongol dari kaca, dia melihat putrinya yang tengah berdiri di balkon kamar sambil teriak-teriak. Tak lama gerbang terbuka, nampak sang istri dengan senyuman manis menyambut kepulangan suaminya. Biru menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap Senja barusan. Gadis itu sangat berbeda dengan dirinya saat dulu, maklum saja karena mereka bukan dari keluarga yang sama.
“Anggun dikit kalo jadi cewek, jangan teriak-teriak kayak gitu. Ubah sikap kamu,” ujarnya membuat Senja berbalik badan dan menatap sang Om tajam. Dia tidak marah pada bujang lapuk itu, dirinya hanya sedikit kesal mengapa akhir-akhir ini Biru selalu berkata demikian. Meminta Senja untuk berpenampilan atau bersikap layaknya perempuan anggun. Padahal dia tahu bahwa Senja adalah gadis tomboy.
Pukul 18:30, Biru memutuskan untuk pulang. Niatnya yang hanya memeriksa Senja malah mengobrol sampai sore hari. Dia melihat ponselnya, banyak sekali notif pesan dan telpon dari Nadia dan Arka. Karena penasaran Biru menelpon balik salah satu dari mereka. Setelah mendapatkan penjelasan dari Arka, lelaki tampan tersebut langsung pergi menuju kedainya.
Wajah Nadia beserta para karyawan terlihat begitu tegang dan serius. Mereka semua mengadukan masalah teror kepada si pemilik kedai. Biru bingung mengapa akhir-akhir ini kedainya selalu diteror oleh orang tak dikenal. Kemarin tikus kini beberapa ular besar. Untungnya masalah hari ini sudah Arka bereskan semuanya. Walau begitu mereka juga takut jika besok atau seterusnya bakal ada masalah lagi di kedai yang membuat para pelanggan ketakutan lalu pergi dan tidak datang lagi.
“Kayaknya ada orang yang nggak suka sama lu deh, Bi,” ucap Arka.
__ADS_1
“Siapa?” tanyanya.