
Karena terus memaksa untuk mengantarkan pulang maka Senja pun setuju. Dalam perjalanan mata Bintang tak hentinya melirik ke arah sang kekasih, dari balik helm dia tersenyum bahagia. Bintang tidak mengira jika cintanya yang pernah ditolak akan diterima hari ini. Sehabis mengantarkan Senja dia berniat menceritakan semuanya pada sang Mama.
“Ya udah Bin, lu hati-hati baliknya. Eh maksud gue kamu iya-iya kamu hehe...”
Senja menggaruk kepalanya sambil terkekeh, dia benar-benar merasa canggung dengan keberadaan Bintang. “Mau gue-lu atau aku- kamu juga nggak papa Sen. Se-nyamannya aja,” ucap Bintang tersenyum.
“Okey, sana gih balik.”
“Nggak, masuk dulu baru aku pulang.”
Senja berbalik badan membelakangi kekasihnya, dia menahan senyum lalu menghadap lagi ke depan dengan wajah cool. Mau tak mau dia pun harus masuk dahulu kedalam rumah agar cowok di depannya segera pulang. Tanpa keduanya sadari, Laura tengah mengintip dibalik jendela. Wanita itu pun ikut tersenyum melihat putrinya yang salah tingkah saat berinteraksi dengan sahabatnya sendiri.
Ketika membuka pintu Senja terkejut akan keberadaan sang Mama. Laura mengejek anaknya sampai membuat Senja tersenyum malu. Tanpa diduga gadis nakal itu menggandeng lengan Mamanya dengan wajah bahagia. Hal tersebut tentunya membuat Laura senang.
“Tidur udah malam, besok pagi aku sama Papa kamu akan pergi sebelum jam .07.00.”
“Siap! Eits mahmud, kalo misalkan gue usir perlahan si Sea nggak papa kan?”
“Iya nggak papa, urus aja sama kamu Senja,” jawabnya lalu melangkahkan kaki menuju kamar.
......................
Suara klakson motor terus berbunyi namun tak membuat orang didalam bangun. Bintang dan yang lain tengah berada didepan rumah Senja untuk berangkat sekolah bersama. Jam telah menunjukkan pukul 07.30, dan gadis itu masih sibuk di alam mimpinya. Tidak ada orang yang membukakan pintu karena Pak Arya dan Laura sudah pergi ke bandara.
__ADS_1
Bima yang tidak sabar pun turun dari motor dan melangkahkan kakinya menuju jendela kamar temannya. Dilihat jika Senja masih memeluk guling, cowok itu menggedor kaca dengan keras sampai akhirnya gadis tersebut bangun.
Senja menyibakkan gorden, matanya masih belum terbuka dengan benar. Saat sudah sepenuhnya sadar dia terkejut saat melihat wajah Bima yang menempel di jendela.
Cowok itu menunjukkan jam yang melingkar ditangan menyuruh Senja agar cepat bersiap-siap.
Buru-buru gadis itu turun dari ranjang dan mengambil handuk. Bima yang masih berdiri diluar jendela kaget tak percaya saat tahu sahabatnya baru masuk kamar mandi sudah keluar lagi. “Nggak nyampe 5 menit, tuh anak mandi nggak ya? Cepet banget, curiga..”
“Woy Bim pergi lu, parah mau ngintip. Sana hus...hus...”
Bima tertawa melihat Senja yang akan berganti pakaian. 10 menit berlalu gadis itu keluar dari rumah dengan wajah segar. Bima meledek Senja jika tidak mandi dan hanya mencuci muka saja, gadis tersebut pun dengan mantap menganggukkan kepala membenarkan apa yang temannya katakan.
Setelah basa-basi sedikit mereka berenam pergi kesekolah. Sesampainya di sana ternyata gerbang sudah ditutup oleh para osis, satu persatu nama mereka pun dicatat dan harus menerima hukuman. Senja dkk berdiri di depan tiang bendera sambil hormat, cuaca sedikit demi sedikit mulai terasa panas. Gadis itu mengibaskan tangannya agar tidak kegerahan. Bintang berjalan ke belakang mengambil tas lalu mengeluarkan buku, dia mulai mengipasi kekasihnya.
“Biasalah pasangan baru jadi kemarin. Aroma keromantisannya masih diumbar, nanti lama kelamaan juga nggak sebucin ini lagi,” jawab Bima.
Bintang mengelap keringat yang ada di kening Senja, keempat teman lainnya menghela napas bersamaan melihat betapa bucinnya pasangan tersebut. Beberapa siswa yang selalu memperhatikan para murid populer itu pun merasa aneh akan sikap Bintang yang terlalu perhatian terhadap Senja. Satu persatu mulai merasa curiga jika dua orang tersebut sedang menjalin hubungan.
Namun ada orang yang mengira jika itu hanyalah hal biasa, sebab sudah tidak aneh lagi kalo cowok yang mereka idolakan seperhatian itu pada gadis cantik incaran para lelaki. Empat jam berlalu, bel istirahat pertama telah berbunyi. Senja dkk tidak langsung pergi ke kelas melainkan ke kantin untuk mengisi perut yang terus keroncongan.
“Makanan gue, Bintang sama Pram kalian berempat lagi ya yang bayar. Ingat! Masih ada 5 permintaan gue,” ucap Senja pada teman-temannya.
“Iya-iya, ini kita juga mau sekalian bayar uang makan kalian yang kemarin. Mau pesen apa hah?”
__ADS_1
“Samain aja kayak lu Leo.”
Leo dan Seon pergi untuk memesan, sisanya menunggu sambil bercanda ria. Bima merasa jika dirinya sudah lama tidak merasakan kesenangan saat disekolah lagi semenjak salah satu dari mereka memisahkan diri. Kini semuanya telah kembali berkumpul, dia berjanji tidak akan ada lagi pertikaian diantara persahabatannya.
Dering telpon terdengar dari handphone milik Leo. Bima mengambilnya lalu mengangkat telpon tersebut. Suara panik dia dengar dari seorang gadis. Daffa, Bintang, Pram dan Senja mengernyitkan dahi mendengar perkataan sahabatnya.
“Lu kenapa Bim, siapa yang nelpon?”
“Lea, nggak tahu kenapa tapi tuh cewek kayak panik gitu.”
“Adiknya Leo? Coba tanya takutnya kenapa-kenapa lagi sama dia,” ucap Pram.
Telpon ditutup, tak lama Leo dan Seon datang membawa makanan. Bima memberitahu jika Lea menelpon dengan suara panik, sang kakak pun mengambil handphonenya dan menelpon balik untuk bertanya. Sayangnya nomor si adik tidak aktif, Leo menjadi khawatir apalagi disekolah Lea ada musuh gengnya, yaitu Aldo.
“Guys gue cabut ya, bilangin sama guru izin,” ucap Leo. Dia bergegas pergi meninggalkan kelima temannya. Sambil terus berjalan dia berusaha menelpon sang adik. Senja juga pergi dari kantin disusul oleh yang lain, mereka tidak mau terjadi sesuatu pada teman satunya itu. Di parkiran, Leo terkejut karena semua teman sudah berada di motor masing-masing, dia tak berkata apapun.
30 menit kemudian mereka sampai di sekolah Lea. Gerbang tertutup rapat tidak ada satpam sama sekali. Keadaan di dalam pun terlihat sepi padahal seharusnya jam segini waktunya para murid berisitirahat. Dua orang lelaki berbadan kekar datang menghampiri Senja dkk.
“Ini satpam di sekolahan adik lu?” tanya Bima berbisik.
Leo menggeleng, walau dirinya baru sekali datang ke sekolah adiknya dia masih ingat bagaimana wajah satpam yang menjaga. Dari pakaiannya sudah terlihat jika dua lelaki di depannya bukanlah orang baik. Ketika akan menjawab pertanyaan dari lelaki itu tiba-tiba suara teriakan dari salah satu kelas terdengar.
“Le, kayaknya kita harus pergi dulu deh. Perasaan gue nggak enak nih,” bisik Senja pelan. Bintang dan Pram mengangguk bersamaan, mereka semua berpamitan pada dua lelaki itu.
__ADS_1
Setelah sedikit menjauh dari sekolahan Lea, mereka baru mengeluarkan apa yang ada di pikirannya masing-masing. Di dalam sana, Lea di tampar berkali-kali karena telah melakukan kesalahan. Aldo yang melihat gadis pujaannya disiksa pun tidak diam saja.