
Hari yang ditunggu oleh Bima dkk pun tiba, dimana mereka semua telah mendaftar ke universitas yang di impikan. Sebagai mahasiswa baru tentunya Senja bersama teman lain harus mengikuti ospek. Gadis itu berpakaian rapi, mengenakan hitam putih dan juga almamater. Dia sedikit menghela napas menatap bangunan tinggi di depannya. Ketika akan melanjutkan langkah kakinya seorang lelaki dengan memakai topi menabrak.
Senja hampir saja jatuh dan untungnya ada Daffa CS datang. Bima meminta teman perempuannya tersebut untuk menahan emosi serta berperilaku baik. Terlihat orang yang menabrak tadi menatap dengan tajam lalu pergi meninggalkan para mahasiswa baru itu. Senja berdengus kesal karena lelaki barusan sama sekali tidak meminta maaf padanya. Jika dilihat-lihat pakaian yang dikenakan berbeda dengan dirinya.
Flashback...
Senja menahan air matanya ketika sang kekasih, Bintang. Mengatakan bahwa dirinya akan melanjutkan pendidikan diluar negeri. Dugaan dia benar, walau begitu cowok tersebut tidak memutuskan hubungan. Bintang akan tetap bersama Senja, setiap hari atau jika tidak ada kesibukan dia akan menghubungi kekasihnya untuk menanyakan kabar.
Sembari memegang kedua lengan Senja. Bintang mengatakan jika cintanya tidak akan pernah pudar walaupun jarak mereka saling berjauhan. Teman-teman yang lain turut sedih dan senang juga, mereka semua tidak bisa melarang Bintang pergi untuk menuntut ilmu. Sungguh berat baginya meninggalkan sang kekasih, para sahabat. Namun, keputusan Mamanya tidak dapat dia bantah.
“Kamu nggak usah khawatir, aku di sana fokus belajar. Nggak akan melirik kanan-kiri,” ujarnya dengan senyuman hangat.
“Ntar nabrak lu,” sahut Bima. Daffa menjitak kepalanya, dia berkata aduh menatap sang sahabat.
“Maksud si Bintang tuh dia nggak akan lirik cewek-cewek di sana.”
“Gue juga tahu Daffa. Ya kali beneran tuh anak nggak lihat kanan-kiri,” jawabnya sambil mengelus kepala.
Senja menghela napas berat, dia sebenarnya tidak mau berjauhan namun apa boleh buat itu semua demi masa depan pacarnya. Tak hanya berpamitan dengan Daffa dkk, dia juga izin pamit pada Biru. Bu Ana mengulas senyum kearah Senja, melambaikan tangannya lalu masuk kedalam mobil mengantarkan sang putra ke bandara. Setelah kepergian Bintang, gadis tersebut berlari menuju motornya, pergi menyusul.
Sesampainya di bandara, Senja mencari Bintang dan Mamanya. Ketika sudah bertemu, gadis itu memeluknya tanda perpisahan. Sang pacar mengelus lembut rambutnya. “Cengeng, ketua geng motor kok nangis. Kemana galaknya?” ledek Bintang.
__ADS_1
“Telpon aku kalo udah sampe sana.”
“Iya janji aku bakal telpon kamu. Jaga hati ya di sini,” ucapnya.
Senja mengangguk lalu melepaskan pelukannya. Dia menatap Bu Ana yang berdiri disamping. Wanita tua tersebut tersenyum dan mengusap punggung pacar anaknya.
.........
Kembali ke Senja, dia segera berlari bersama teman-temannya ketika suara pengumuman terdengar. Dia berdiri dilapangan lalu matanya tertuju ke satu arah. Yaitu, tempat dimana lelaki yang menabraknya tadi berada. Banyak para mahasiswi baru memuji ketampanan kakak seniornya. Berbeda dengan Senja, gadis itu justru bersikap biasa. Membuat cowok didepan sana tersenyum sambil menatapnya.
Sore pun tiba, Senja dkk berkumpul di warung pinggir jalan untuk mengambil sepeda motornya. Mereka sengaja tidak membawa masuk motor tersebut kedalam kampus. Sebelum pulang keenam remaja itu terlebih dulu mengisi daya, meminum minuman dingin membuat mereka kembali merasa segar. Suara dering telpon terdengar, Senja melihatnya ternyata sang kekasih yang menghubungi.
Begitu senang dan semangat saat tahu Bintang menelpon. Sudah dua hari kekasihnya tersebut tidak memberi kabar. Bima yang asik berbincang bersama Leo pun langsung mengambil ponsel sahabatnya. “Woy Bintang! Pacar lu di sini lagi deket sama cowok.”
Mereka semua bernapas lega, Bima membuat semuanya tegang, di saat hubungan jauh terjadi maka kedua pihak harus saling percaya. Tidak berpikir negatif tentang pasangannya. Ditengah-tengah candaan itu datanglah seorang cowok, dia memegang pundak Senja.
“Pulpen lu jatuh.”
“Oh, thanks,” jawab Senja dengan wajah datar. Ternyata cowok itu yang waktu pagi tadi. Setelah meninggalkan warung dia tersenyum sendiri.
Malam harinya, seperti biasa mereka semua berkumpul di basecamp. Setiap malam menghabiskan waktunya untuk berbincang dan bercanda di sana. Tidak ada rasa bosan bagi mereka, hari-hari selalu melihat wajah yang sama sejak dulu. Persahabatannya begitu erat, Senja tidak membiarkan salah satu temannya dalam kesusahan. Dia akan membantu sebisanya. Hal tersebutlah yang membuat mereka merasa nyaman.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 22.00. Senja pamit pulang pada semuanya. Dia telah berjanji kepada sang Papa untuk tidak pulang larut malam, melebihi jam sebelas. Setibanya dirumah, dia langsung disambut oleh Laura yang menunggu diluar. “Assalamualaikum Mama muda,” ucap Senja dengan sopan.
“Waalaikumsalam anak nakal,” jawabnya sambil tersenyum. Mereka berdua tertawa bersama, lucu baginya tak disangka sekarang dia bisa se-akrab ini dengan Laura, wanita yang selalu membuat dia kesal dulu.
“Ayo masuk, langsung tidur ya. Besok masih masa ospek kan?”
“He'em. Oh iya Mah kenapa sih nunggu aku diluar segala. Kan tidur duluan bisa, lagian anak satu ini nggak akan diculik. Dan pastinya pulang kerumah dengan selamat.”
“Sudah-sudah nggak usah dibahas. Sana gih tidur, cuci kaki kamu dulu.”
Senja tak berkata lagi dia langsung melangkahkan kaki pergi meninggalkan Laura diluar. Didalam kamar, gadis itu masih memainkan ponsel. Dia berharap sang kekasih menelpon. Saat akan memejamkan mata suara dering handphonenya terdengar. Dia sudah memasang wajah senang, tapi ternyata yang menelpon sahabatnya.
Di sisi lain, tepatnya disebuah rumah besar berwarna putih. Seorang lelaki tengah memandang bintang di langit, dia terus tersenyum mengingat wajah seseorang. “Siapa sih cewek itu, bisa-bisanya gue mikirin dia terus.”
Pertemuan dengan Senja waktu pagi membuat dia memikirkan gadis itu. Lamunannya buyar setelah mendengar suara klakson mobil dari bawah. Dia pun turun menemui sang teman yang telah menunggu. “Gimana nih, mobil udah gue servis. Dijamin kencang lajunya.”
“Ya gue sih siap kapan aja. Mereka udah siap belum?”
“Kayak nggak tahu mereka aja, pasti lah. Orang mereka yang ngajak duluan, ini semua gue serahin ke lu karena taruhannya mobil gue.”
“Tenang aja mobil lu pasti selamat dari taruhan, ya udah tunggu gue ambil jaket dulu.”
__ADS_1
Seon, Bima, Leo dan Pram yang tengah perjalanan pulang hampir saja tabrakan dengan sebuah mobil. Mereka berempat turun dari motor, tanpa membuka helm masing-masing. Bima berteriak mengata-ngatai pengendara tersebut dengan kesal. “Balapan ditempat sepi lah, bahaya nih!”